RADARSOLO.COM- Libur panjang Isra Mikraj dan berlanjut Imlek menjadika pengusaha perhotelan di Sukoharjo berseri-seri.
Tingkat hunian hotel di Sukoharjo naik signifikan dibandingkan hari biasa.
Mengacu data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sukoharjo, okupansi hotel sejak 24 Januari hingga 29 Januari 2025 mencapai 95 persen.
Oma Nuryanto, ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (BPC PHRI) Sukoharjo menyatakan, lonjakan ini merupakan dampak dari momentum libur panjang yang mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan.
Namun, ia juga mencatat bahwa mulai 29 Januari, tingkat hunian mulai menurun seiring berakhirnya masa liburan, karena aktivitas kerja akan kembali normal, Kamis (30/1)
“Peningkatan okupansi ini sangat luar biasa. Libur panjang memang memberikan dampak positif, tetapi keberlanjutan kunjungan wisata perlu mendapat perhatian," ujar Oma, Rabu (29/1).
Saat ini, Sukoharjo memiliki 27 hotel, baik bintang maupun non-bintang, yang mendukung sektor pariwisata.
Oma, juga menyoroti perlunya perbaikan dan pengembangan sektor wisata di Sukoharjo.
“Yang menjadi tantangan utama adalah kurangnya publikasi dan promosi destinasi wisata. Selain itu, banyak lokasi wisata yang belum dikelola dengan baik," terangnya.
"Kami berharap pemerintah lebih aktif mempromosikan potensi wisata Sukoharjo agar dapat menarik lebih banyak pengunjung, tidak hanya saat libur panjang,” lanjut dia.
Oma berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat lebih dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan.
Dengan berbagai destinasi wisata yang potensial, seperti wisata alam dan kuliner khas, Sukoharjo memiliki peluang besar untuk menjadi tujuan wisata favorit di Jawa Tengah.
Perbaikan fasilitas dan promosi yang masif diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi daerah. (kwl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono