Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Panen Raya Sukoharjo, Gubernur Ahmad Luthfi Tegaskan Jateng Siap Jadi Lumbung Pangan

Tri wahyu Cahyono • Senin, 7 April 2025 | 21:26 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bersama unsur Forkompimda hadiri panen raya di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Senin (7/4/2025).
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bersama unsur Forkompimda hadiri panen raya di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Senin (7/4/2025).

RADARSOLO.COM-Gubernur Jateng Ahmad Luthfi optimistis target produksi 11,8 juta ton padi pada 2025 dapat tercapai.

Target tersebut berasal dari luas tanam 2.311.660 hektare yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah.

“Jawa Tengah diberikan target 11,8 juta ton. Terhitung Januari hingga April ini, kita sudah mengelola penanaman padi seluas 716 ribu hektare, dengan hasil panen 4,09 juta ton," ujar Luthfi saat menghadiri panen raya di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Senin (7/4/2025).

"Dari target 11,8 juta ton, apabila kita hitung, maka Jawa Tengah mampu,” terangnya. 

Kegiatan panen raya di Sukoharjo merupakan bagian dari Panen Raya Serentak di 14 Provinsi yang dipimpin langsung Presiden Prabowo Subianto dari pusat kegiatan di Jawa Barat.

Di Sukoharjo, panen dipimpin langsung oleh Gubernur Jateng dan Bupati Sukoharjo Etik Suryani menggunakan mesin combine harvester.

Pada 2024, luas panen padi di Jawa Tengah tercatat mencapai 1.554.777 hektare, dengan produksi sebesar 8.891.297 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Kontribusi tersebut setara dengan 16,73% produksi nasional. Menjadikan Jateng sebagai produsen padi terbesar kedua setelah Jawa Timur.

Untuk Kabupaten Sukoharjo, luas tanam padi pada 2024 mencapai 42.441 hektare dengan produksi 319.661 ton GKG. Atau menyumbang 3,60% dari produksi provinsi.

Tahun ini, potensi luas panen di Sukoharjo diperkirakan naik menjadi 60 ribu hektare.

Dengan 17.056 hektare di antaranya dipanen pada Januari–April 2025 dan menghasilkan 109.571 ton GKG.

Luthfi menegaskan, rencana pembangunan jangka panjang daerah, Jawa Tengah diproyeksikan menjadi penopang pangan dan industri nasional.

Untuk itu, kerja sama dengan semua pihak sangat dibutuhkan.

“Jawa Tengah merupakan lumbung pangan nasional. Ini selaras dengan kebijakan Presiden," jelas Luthfi.

"Pemprov dan pemda tidak bisa berdiri sendiri. Perlu dukungan dari Kodam, Polda, Bulog, BPS, dan stakeholder lainnya. Saya yakin kita mampu,” imbuh dia.

Namun, Luthfi juga menyadari bahwa banyak tantangan menghadang.

Mulai dari alih fungsi lahan, perubahan iklim, hama tanaman, fluktuasi harga, hingga harga beli gabah yang sering tidak berpihak pada petani.

Mitigasi pun telah dilakukan. Untuk menjaga harga hasil panen, pemerintah pusat  menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dan Bulog berkomitmen menyerap hasil panen petani sepanjang 2025.

Gangguan hama ditangani melalui inovasi dan teknologi pertanian, sedangkan kebutuhan air diatasi dengan program pengelolaan air yang lebih terstruktur.

Presiden RI Prabowo Subianto turut mengapresiasi capaian Jawa Tengah. Ia menyebut hasil panen Jateng mampu menjadi penyemangat bagi provinsi lain.

“Luar biasa kalau bisa mencapai target. Ini menjadi semangat bagi kita semua. Kalau kita bisa mengamankan panen sendiri, apa pun yang terjadi di luar negeri tidak terlalu berpengaruh bagi kita,” ujar Prabowo. (*)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#gubernur jateng #Ahmad Luthfi #panen raya #taj yasin #lumbung pangan