Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Melongok Budi Daya Ikan Mina Ampuh di Polokarto Sukoharjo, Berdayakan Pemuda Lewat Kolam Bioflok

Iwan Kawul • Jumat, 8 Mei 2026 | 16:59 WIB
Budi daya ikan dengan sistem bioflok yang dikelola para pemuda di Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. (DOK. KADES WONOREJO)
Budi daya ikan dengan sistem bioflok yang dikelola para pemuda di Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. (DOK. KADES WONOREJO)

RADARSOLO.COM - Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto dikenal sebagai sentra konveksi di Kabupaten Sukoharjo.

Kendati demikian, pemerintah desa (pemdes) setempat ogah terpaku satu sektor saja. Pemberdayaan masyarakat digenjot dengan melirik usaha budi daya ikan sistem bioflok. Nama programnya Mina Ampuh.

Deru mesin jahit masih terdengar saling berdsahutan dari rumah-rumah warga di Desa Wonorejo. Ya, sejak puluhan tahun lalu, desa ini sudah kondang sebagai desa konveksi.

Hampir setiap sudut perkampungan, warga akrab dengan kain, benang, dan pola jahitan. Usaha konveksi tumbuh turun-temurun. Menjadi denyut ekonomi masyarakat sekaligus identitas desa.

Baca Juga: Serapan Gabah Dihargai Tinggi, Petani Polokarto Sukoharjo Syukuran Sedekah Bumi

Namun, belakangan ini ada pemandangan baru yang menghiasi lahan kosong di rumah-rumah warga Wonorejo. Berupa kolam ikan semipermanen berbentuk bulat yang terbuat dari terpal warna biru.

Inilah budi daya ikan program Mina Ampuh yang diinisiasi Pemdes Wonorejo. Demi menjaga sirkulasi oksigen dan kualitas air, kolam tersebut dilengkapi aerasi dengan sistem bioflok. Tak mengherankan jika permukaan airnya dipenuhi instalasi selang udara.

Mina Ampuh memberdayakan para pemuda, yang sudah berjalan sejak 2020. Program ini buah inovasi Kepala Desa (Kades) Wonorejo Yusuf Aziz Rahma.

Baca Juga: Akses Menuju Kebun Alpukat Miki Di Polokarto Amburadul, Rabat Beton Dikebut

"Mina berarti ikan, sedangkan Ampuh merupakan singkatan dari anak muda punya usaha," jelasnya.

Program tersebut lahir dari masalah klasik. Banyak anak-anak muda di desa yang nganggur dan butuh tambahan penghasilan. Apalagi waktu itu seluruh wilayah di Indonesia dilanda pandemi Covid-19.

Pemdes Wonorejo tergugah memanfaatkan dana desa untuk pembuatan kolam bioflok. Bahan utamanya dari terpal.

“Sampai saat ini sudah ada 31 kolam di 31 RT. Semuanya dikelola anak-anak muda desa,” ujar Yusuf bangga.

Menariknya, program itu tidak hanya menghidupkan sektor perikanan, tetapi juga menggerakkan sektor konveksi yang selama ini menjadi identitas Wonorejo. Terpal-terpal yang digunakan, diproduksi sendiri oleh warga.

“Kami manfaatkan potensi warga sendiri. Kalau desa punya program kolam bioflok, ya beli terpalnya dari warga sendiri. Sekalian memberdayakan,” beber Yusuf.

Dari sinilah efek berantai ekonomi desa mulai terasa. Anak muda memperoleh usaha baru, pengrajin terpal mendapatkan pasar, dan warga memiliki sumber pangan tambahan untuk keluarga.

Rata-rata setiap kolam menebar 1.500 bibit ikan dalam sekali budi daya. Saat panen tiba, bisa menghasilkan sekira 120 kilogram (kg). "Meski belum memberikan keuntungan besar, usaha tersebut cukup membantu menambah pendapatan keluarga,” ungkapnya.

Baca Juga: Idul Adha 2026 Sebentar Lagi, Skill Juleha Di Sukoharjo Terus Diasah Lewat Pelatihan

Setelah panen, ikan dipasarkan di lingkungan desa. Sebagian dikonsumsi sendiri oleh warga untuk kebutuhan gizi harian. Inilah bukti pemberdayaan ekonomi sekaligus ketahanan pangan di lingkup keluarga.

Kolam-kolam biru yang tersebar di lingkup RT, kini menjadi wajah baru Wonorejo. Desa yang dulu identik dengan mesin jahit, perlahan menjelma menjadi desa inovatif berbasis pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga: Miris! SPMB 6 SDN Di Sukoharjo Kosong Pendaftar, Ratusan SDN Lainnya Sepi Peminat, Pendaftaran Diperpanjang

Di balik lembaran terpal yang dijahit rapi, tersimpan cerita tentang ketekunan warga desa dalam membaca peluang bisnis.

Wonorejo sudah membuktikan, bahwa membangun desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang, perubahan tumbuh dari keberanian memberi ruang kepada anak muda untuk mencoba.

Kegagalan adalah kebangkitan yang tertunda. Pemuda diberi kepercayaan untuk membangun harapan dari halaman rumah mereka sendiri. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Budi daya ikan #polokarto #Kolam Bioflok #sukoharjo