Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jalan Salib di Gunung Gandul tanpa Tablo, Umat Ditetesi Lilin dan Minum Brotowali

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 7 April 2023 | 19:32 WIB
Seorang umat menunjukkan tangannya usai ditetesi lilin saat Jalan Salib di Gunung Gandul Jumat (7/4/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Seorang umat menunjukkan tangannya usai ditetesi lilin saat Jalan Salib di Gunung Gandul Jumat (7/4/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
RADARWONOGIRI.COM-Selama tiga tahun vakum, prosesi Jalan Salib kembali dilaksanakanan umat Katolik Wonogiri di kawasan Gunung Gandul, Jumat (7/4/2023). Prosesi Jalan Salib tahun ini dikemas berbeda dibandingkan sebelum pagebluk korona.

Ketua Paskah 2023 Umat Paroki Wonogiri Daniel Wicaksono mengatakan, kali terakhir, Jalan Salib digelar pada 2019. Saat pagebluk korona mulai 2020, 2021 dan 2022 tidak ada Jalan Salib di Gunung Gandul.

"Ini yang ikut umat Paroki Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri. Sekitar 200 sampai 300-an orang ," ujar dia Jumat (7/4).

Daniel menuturkan Jalan Salib di Gunung Gandul tahun ini dibuat berbeda daripada sebelumnya. Untuk kali ini, tidak ada tablo atau peraga. Tablo yakni yang memeragakan Yesus membawa salib. Itu dimulai sejak titik awal Jalan Salib atau pemeragaan penyaliban Yesus di titik akhir Jalan Salib.

Pihak gereja mengutamakan penghayatan pada Jalan Salib sejak dari bawah (titik awal Jalan Salib) hinggan penyaliban. Meski tanpa tablo, ada sejumlah visualisasi yang diperagakan umat. Contohnya adalah meneteskan lilin ke tangan dan meminum brotowali.

Menurut Daniel, itu memiliki arti tersendiri. Saat Yesus disalib tanggannya pasti dirasa sakit. Atas hal itu umat ditetesi lilin di tangannya agar bisa menghayati rasa sakit. "Ditetesi lilin saja sakit, lebih-lebih kalau tangannya dipaku, disalib," kata dia.

Sementara itu, para umat diajak meminun brotowali yang rasanya pahit sebagai visualisasi Yesus yang dicucuk anggur asam. Itu agar umat ikut merasakan kepahitan Yesus. Pihak gereja tak memaksa semua umat untuk merasakan penetesan lilin, meski begitu, para umat nampak antusias dengan prosesi itu.

Sementara brotowali juga dibagikan bersama dengan permen. Menurut panitia, itu adalah wujud manis usai pahitnya hal-hal yang dilalui.

Pada prosesi Jalan Salib di Gunung Gandul, terdapat 14 pemberhentian dan empat lokasi perenungan. Itu agar umat bisa menghayati perjalanan Yesus sebelum disalib. Umat juga diminta membawa salib.

"Salibnya dipegang, untuk merasakan Yesus memanggul salib dari pengadilan ke Bukit Golgota. Biar bisa merasakan beban Yesus saat memanggul salib itu berat," beber Danuel.

Meski pada tahun ini Jalan Salib di Gunung Gandul dikemas dengan nuansa berbeda, tidak menutup kemungkinan pada tahun depan dikonsep seperti semula. Sebab Jalan Salib Gunung Gandul dengan peragaan atau tablo menjadi ikon.

"Secara umum sama, hanya tahun ini tidak ada dramanya saja. Dengan nuansa berbeda, di selang-seling, umat tidak jenuh dalam melakukan Jalan Salib setiap tahunnya," kata Daniel.

Diketahui, Jalan Salib itu diikuti oleh anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Mereka dibagi menjadi empat kelompok yang dipimpin Prodiakon. Jalan Salib di Gunung Gandul ada sejak 1996. Alasan dipilihnya lokasi itu ingin membawa umat merasakan suasana kesengsaraan Yesus di Bukit Golgota.

"Dengan pengalaman itu mengajak umat merasakan membawa beban saat jalan menanjak. Semua penuh penderitaan berat. Umat bisa memberikan pengorbanan dan bisa mencintai Tuhan Yesus. Ini (Jalan Salib di Gunung Gandul) juga banyak ditanyakan umat saat tidak ada selama tiga tahun kemarin," beber dia.

Joko Wuryanto, salah seorang peserta Jalan Salib di Gunung Gandul menilai, visualisasi ditetesi panasnya lilin dan minum brotowali merupakan penghayatan tentang kesengsaraan Yesus. Dia juga merasakan tetesan lilin dan pahitnya brotowali.

"Jalan yang menanjak ini bagi saya yang sudah tua ya agak berat. Tapi ini wujud penghayatan juga," kata pria 58 tahun itu.

Tiga tahun tanpa acara itu, Joko mengaku rindu. Sebab, setiap tahunnya dia mengikuti gelaran itu bersama keluarganya. "Ini (Jalan Salib) implementasi sengsaranya Yesus. Kami menghayatinya dengan cara ini," tandas dia. (al/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ditetesi lilin #Kabupaten Wonogiri #gunung gandul #jalan salib #tanpa tablo