Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Perawatan Orthodonti pada Masa Tumbuh Kembang, Simak Penjelasan Dokter Spesialis RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 14 September 2024 | 20:43 WIB
Kasus Maloklusi Kelas I Tipe I : Diastemata (penggunaan obat dalam jangka waktu lama, obat epilepsy, hipertensi) Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)
Kasus Maloklusi Kelas I Tipe I : Diastemata (penggunaan obat dalam jangka waktu lama, obat epilepsy, hipertensi) Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)

RADARSOLO.COM-Perawatan orthodonti dapat dilakukan sejak dini dimana malposisi gigi maupun malrelasi rahang mulai terlihat.

Perawatan ortodonsi pada masa gigi bercampur dapat menggunakan kawat gigi lepasan maupun kawat gigi cekat (braket).

Kapan kita menggunakan kawat gigi lepasan atau kawat gigi permanen?

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri dr. Retno Iswati, Sp.Orte menjelaskan, itu tergantung kondisi dan usia pasien.

Perawatan orthodonti lebih baik dilakukan pada masa tumbuh kembang karena pada saat itu terjadi pucak pertumbuhan sehingga gigi lebih mudah digerakkan.

"Semakin tua usia pasien maka tulangnya semakin kompak sehingga gigi lebih berat untuk digerakkan.
Untuk gigi-gigi yang masih desidui tidak diperkenankan menggunakan kawat gigi permanen (braket)," beber Retno

Jadi pada masa gigi bercampur jika anak menggunakan braket, bagian gigi yang masih desidui atau pada gigi permanen yang akarnya belum menutup tidak diperbolehkan ditempel braket.

Kasus Maloklusi Kelas I Tipe 2 : Protrusi rahang atas (Faktor Herediter, Menghisap Jari) Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)
Kasus Maloklusi Kelas I Tipe 2 : Protrusi rahang atas (Faktor Herediter, Menghisap Jari) Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)

Itu karena dapat membuat akar gigi permanen teresobsi.

Ini merupakan salah satu tujuan dimana sebelum perawatan orthodonti pasien harus melakukan rontgen gigi agar bisa mengetahui kondisi gigi dan jaringan pendukungnya.

Tahapan perawatan orthodonti yang pertama yaitu foto intra oral dan ekstra oral untuk mengetahui kondisi sebelum perawatan ortho dan untuk mendiagnosa malposisi dan malrelasi gigi.

Kemudian pasien diwajibkan untuk melakukan rontgen panoramik untuk melihat kondisi gigi dan jaringan pendukungnya, dan rontgen sefalometri untuk melihat posisi gigi dan tulang rahang dibandingkan dengan posisi yang normal.

Setelah itu dicek apakah ada gigi yang berlubang dan karang gigi. Jika ada gigi yang berlubang segera dilakukan penambalan gigi dan jika ada karang gigi segera dibersihkan sebelum pemasangan kawat gigi.

Sebelum perawatan orthodonti sebaiknya juga dilakukan pencabutan gigi yang impaksi, karena akan menghambat perjalanan gigi.

Pemasangan kawat gigi merupakan prosedur terakhir setelah gigi bebas dari lubang dan karang gigi.

Beberapa faktor etiologi yang menyebabkan terjadinya maloklusi dan malposisi gigi diantaranya faktor keturunan, nutrisi, kebiasaan buruk pasien yang dilakukan dengan intensitas kuat dan waktu yang lama.

Tipe 2 : Protrusi Rahang Atas
Tipe 2 : Protrusi Rahang Atas

Misalnya faktor etiologi dari gigi maju biasanya dikarenakan pasien sering bernafas lewat mulut, menghisap ibu jari, menggigit-gigit kuku atau pensil, faktor etiologi gigi renggang biasanya dikarenakan adanya frenulum labial yang pendek, makroglosi lidah.

Sedangkan faktor etiologi gigi berjejal biasanya dikarenakan faktor keturunan dari orang tua.

Bisa dari ayah saja, ibu saja atau perpaduan dari keduanya, jadi walaupun kondisi gigi ayah rapi, ibu rapi bisa juga anaknya berjejal karena rahangnya ikut ibu dan besar giginya ikut ayahnya jadi lebar rahangnya tidak mampu menampung besar dari gigi yang ikut ukuran ayahnya. 

"Pemasangan kawat gigi memerlukan waktu sekitar 60 menit, lama pemakaian kawat gigi setiap orang berbeda tergantung kondisi gigi awal, kedisiplinan pasien untuk kontrol dan kemampuan dokter yang merawat," terang Retno. 

Kasus Maloklusi Kelas II Divisi I : Openbite dan Protrusi Anterior Maksila Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)
Kasus Maloklusi Kelas II Divisi I : Openbite dan Protrusi Anterior Maksila Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)

Jadi lamanya perawatan tidak menjamin keberhasilan perawatan gigi. Walaupun memakai kawat gigi yang sudah bertahun-tahun namun apabila tidak pernah kontrol juga akan lama selesainya.

Pasien diwajibkan kontrol rutin kira-kira 3-4 minggu untuk kawat gigi cekat. Pasien juga dianjurkan untuk tidak menggigit makanan keras dengan gigi depan dan mengunyah makanan yang keras supaya braket tidak mudah lepas. 

Setelah pemakaian kawat gigi diwajibkan menggunakan retainer atau alat penahan agar gigi setelah perawatan tidak relaps atau kembali seperti semula.

Kasus Maloklusi Kelas III Tipe True Class III : Etiologi Lip and Cleft Palate  Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)
Kasus Maloklusi Kelas III Tipe True Class III : Etiologi Lip and Cleft Palate Foto Intraoral (Tampak Samping Kanan, Depan, Samping Kiri)

Pemakaian retainer dilakukan siang dan malam pada 3 bulan pertama setelah lepas braket, setelah itu waktu malam saja sama seperti pemakaian skincare yang akan kembali lagi jika tidak digunakan.

Jika retainer terasa sempit atau kurang pas berarti gigi hasil perawatan sudah mulai berubah.

Photo
Photo

Untuk orang tua yang putra dan putrinya ingin melanjutkan sekolah ikatan dinas perawatan gigi lebih baik dimulai sejak SMP karena membutuhkan waktu agar gigi menjadi rapi sehingga pada saat lulus SMA gigi sudah rapi dan siap mendaftar sekolah ikatan dinas.

Photo
Photo

Saat ini RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri sudah bisa melayani perawatan orthodonti, silakan datang untuk konsultasi perawatan gigi. (*)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#perawatan gigi #rsud dr soediran mangun sumarso #Orthodonti