RADARSOLO.COM - Para orang tua siswa buka suara atas insiden dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) di SMAN 2 Wonogiri.
Ada orang tua yang meminta anaknya lebih berhati-hati untuk menyantap makanan. Hingga ada yang meminta anaknya tak menyantap menu MBG untuk sementara waktu.
Toni, salah satu ayah siswi kelas X mengaku, awalnya tak menduga jika anaknya mengalami gejala mengarah keracunan akibat menu MBG di sekolahnya, Kamis (11/9/2025) lalu.
Bermula saat sang anak terbangun pada Jumat (12/9/2025) dini hari dan merasakan sakit perut.
"Bangunnya sekitar jam 02.00. Saat itu ke kamar mandi. Awalnya saya tidak tahu, tapi anak saya kemudian ndhodhog (mengetuk) kamar saya. Katanya perutnya sakit," ujar dia, Sabtu (13/9/2025).
Toni mulanya mengira penyakit asam lambung anaknya kambuh. Namun, hal itu disangkal oleh sang anak.
"Katanya rasanya beda, nggak seperti asam lambung naik," beber dia.
Sang anak kemudian bisa tertidur. Pada Jumat pagi, Toni mencoba membangunkan putrinya untuk berangkat sekolah.
Namun, sang anak mengaku masih sakit perut. Akhirnya Toni membuatkan izin untuk anaknya agar tidak masuk sekolah dulu.
Tak lama kemudian, Toni mendapat berita soal dugaan keracunan akibat menu MBG di sekolah anaknya di SMAN 2 Wonogiri.
Anaknya lantas juga menceritakan bahwa banyak temannya yang izin sakit.
"Anak saya bilang banyak temannya yang izin. Sakitnya sama," kata dia.
Menurut Toni, anaknya terbiasa menyantap habis menu MBG yang disajikan di sekolah.
Sebab, sang anak juga menyukai program tersebut karena bisa menghemat uang jajannya.
Usai kejadian ini, Toni meminta anaknya untuk lebih berhati-hati saat mengonsumsi makanan.
"Saya minta kalau rasanya tidak enak atau aneh tidak usah dimakan. Kalau dirasa enak ya dimakan," kata dia.
Toni juga berharap, kontrol kualitas menu MBG lebih diperhatikan. Hal itu supaya kejadian itu tak terulang lagi.
Orang tua siswa lain yang enggan dikorankan namanya mengatakan, anaknya turut mengalami diare usai mengonsumsi menu MBG. Dia turut menyayangkan peristiwa itu.
"Prihatin. Soalnya kan yang merasakan anak," kata dia.
Menurut sumber tersebut, program MBG dinilai sebagai program yang bermanfaat.
Hanya saja, pengelolaan dan kualitas menu MBG harus benar-benar dijaga.
"Ini kan dimakan, maksudnya asupannya langsung ke tubuh," beber sumber itu.
Dia mengaku khawatir dengan pelaksanaan MBG ke depannya.
Meski demikian, dia membebaskan anaknya untuk menyantap atau tidak menu MBG yang diberikan.
Yang jelas, uang saku tetap diberikan seperti biasa supaya anaknya tetap bisa membeli makanan lain jika tak cocok dengan menu MBG.
"Harusnya ada pengecekan makanan, dipastikan aman. Jadi tidak terjadi seperti ini lagi," tegas dia.
Orang tua lain yang juga enggan dikorankan namanya mengatakan, putrinya yang mengalami diare masih lemas pada Sabtu.
Sehari usai mengonsumsi menu MBG pada Kamis, anaknya sempat masuk sekolah.
"Tapi setelah itu izin pulang," kata dia.
Biasanya, anaknya membawa bekal dari rumah. Namun seiring bergulirnya program MBG di sekolah anak, anaknya tidak membawa bekal.
Dia turut menyayangkan peristiwa itu. Selain itu, juga berharap ada evaluasi atas program yang berjalan.
Program penambahan gizi bagi siswa dinilai bagus. Namun ada usulan bahwa teknis MBG diganti.
Menurut dia, anggaran MBG bisa disalurkan kepada orang tua siswa.
Dari situ, orang tua siswa juga bisa membuat bekal bagi anaknya.
"Apakah tidak memungkinkan begitu? Supaya lebih terjamin. Bukan menolak program ya. Sistemnya kalau bisa diubah," kata dia.
Atas peristiwa dugaan keracunan menu MBG itu, dia memilih untuk menyiapkan bekal lagi bagi anak beberapa waktu ke depan.
Menu MBG yang disajikan kepada anaknya diminta untuk tidak dimakan terlebih dahulu.
"Trauma, khawatir juga kita," kata dia.
Sebelumnya, ratusan siswa di Wonogiri diduga mengalami keracunan akibat menu makan bergizi gratis (MBG). Temuan itu terjadi di SMAN 2 Wonogiri dan MIN Wonogiri. (al/ria)
Editor : Syahaamah Fikria