Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Medsos Runtuhkan Kasih Sayang, Delapan Tahun Jalinan Rumah Tangga Bubar

Antonius Christian • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 00:36 WIB
Ilustrasi TikTok.
Ilustrasi TikTok.

RADARSOLO.COM - Rumah tangga pasangan asal Kota Solo, Temon dan Sipon resmi berakhir setelah majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Solo mengabulkan gugatan perceraian yang diajukan pihak istri. Putusan yang dibacakan pekan ini, menjadi akhir dari pernikahan Temon dan Sipon yang sudah berjalan hampir delapan tahun.

Biasanya, kasus perceraian terjadi karena masalah ekonomi, perselingkuhan, hingga campur tangan mertua. Tapi, kasus Temon dan Sipon ini beda. Mereka pisah gara-gara media sosial (mesos). Loh, kok?

Ditemui usai sidang, Temon tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia mengaku sejak istrinya aktif bermain medsos, rumah tangga mereka perlahan berubah.

“Awalnya saya kira cuma iseng. Main TikTok, Instagram, atau Facebook sebentar. Tapi lama-lama seharian penuh dihabiskan main HP. Bangun tidur langsung scroll, makan sambil pegang HP, mau tidur pun masih bikin konten. Saya merasa hidup dengan ponsel, bukan dengan istri,” keluh Temon.

Temon mengaku suasana rumah tangga yang dulunya hangat, perlahan hilang. Aktivitas sederhana yang dulu sering dilakukan bersama, seperti makan malam sambil berbincang atau menonton televisi, kini nyaris tidak pernah terjadi.

“Dulu kami bisa ngobrol panjang soal pekerjaan dan rencana masa depan. Sekarang kalau saya ajak bicara, jawabannya singkat. Kadang tidak didengar. Fokusnya ke HP. Saya pulang kerja capek, berharap disambut hangat, malah seperti tidak dianggap,” ujarnya.

Puncak masalah terjadi ketika Sipon mulai sibuk membuat konten daripada mengurus rumah tangga. “Saya tidak melarang dia punya hobi. Tapi kalau semua kewajiban rumah tangga diabaikan, ya hancur. Cucian menumpuk dan jarang masak, tapi rajin live sampai berjam-jam. Siapa yang tidak marah,” ketus Temon.

Temon menegaskan, sudah berusaha bersabar. Dia bahkan beberapa kali mengajak istrinya berdiskusi untuk membatasi penggunaan ponsel.

“Sudah saya bicarakan baik-baik. Berkali-kali. Saya ajak buat kesepakatan, kapan waktunya main HP, kapan buat keluarga. Tapi tidak pernah berubah. Kalau ditegur malah saya dituduh tidak mendukung. Padahal yang saya inginkan cuma perhatian,” ungkapnya.

Temon juga menepis anggapan, bahwa dirinya cemburu pada medsos. “Saya bukan cemburu. Hanya merasa komunikasi sudah hilang. Rumah tangga tanpa komunikasi itu kosong. Itu yang membuat saya akhirnya tidak sanggup lagi,” jelasnya.

Meski menyimpan rasa sayang, Temon memilih pasrah dengan perceraian. Baginya, lebih baik berpisah daripada terus bertahan dalam hubungan yang hanya menyisakan kekecewaan.

“Tidak ada suami yang ingin rumah tangganya berakhir begini. Tapi kalau setiap hari yang saya temui hanya layar ponsel, buat apa dipertahankan? Saya juga butuh pasangan yang hadir. Bukan sekadar ada secara fisik tapi jiwanya jauh,” katanya lirih.

Temon berharap, ke depan dirinya bisa menata hidup lebih baik. Dia juga berharap perpisahan ini menjadi pelajaran berharga, baik untuk dirinya maupun Sipon.

“Pernikahan itu butuh komunikasi, kebersamaan, dan saling perhatian. Kalau semua energi habis buat dunia maya, rumah tangga pasti goyah. Saya tidak menyesali keputusan ini. Saya hanya berharap, ke depan bisa menemukan kehidupan yang lebih nyata. Hidup dengan manusia, bukan dengan ponsel,” ujarnya. (atn/fer)

Editor : fery ardi susanto
#pengadilan agama kota solo #gono gini #kasus perceraian di solo