RADARSOLO.COM - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berkepanjangan di Balikpapan telah memicu gelombang kritik tajam terhadap kinerja Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud.
Namun, situasi memanas ketika seorang warga yang melayangkan kritik justru mendapat balasan ancaman dari anak Wali Kota.
Unggahan di akun X @einedame pada 20 Mei 2025, yang telah dilihat lebih dari 1 juta kali, menjadi sorotan utama.
Unggahan tersebut menyoroti keluhan warga Balikpapan yang kesulitan mendapatkan BBM, hingga menyebabkan antrian panjang di mana-mana dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kritik warga semakin lantang mengingat Rahmad diketahui sedang berlibur ke London bersama keluarganya di tengah polemik kelangkaan BBM ini.
Seorang warga, yang melampiaskan kekesalannya melalui Instagram, mencoba menandai (tag) akun Instagram pribadi Walikota Rahmad Mas'ud untuk menyampaikan kritik pedas.
Namun, akun Instagram Wali Kota tersebut ternyata dikunci atau di privat, menghalangi akses warga untuk menyuarakan keluhan secara langsung.
Karena tidak bisa menyampaikan kritik langsung di unggahan Wali Kota, warga tersebut kemudian membuat Instagram Story dengan tangkapan layar profil Instagram sang Wali Kota, disertai keterangan yang bernada pedas.
Story tersebut rupanya sampai ke tangan anak sang pejabat.
Tak terima dengan kritik tersebut, sang anak langsung membalas pesan pribadi (DM) warga tersebut dengan nada mengancam.
"Saya tahu kamu orang Samarinda, kritik boleh tapi bahasanya bisa saya laporkan kamu ke jalur hukum," tulis sang Anak membalas kritikan warga tersebut.
"Tunggu tim saya silaturahmi ke rumah ya," lanjut sang anak.
Insiden ini sontak memicu perdebatan sengit di media sosial.
Banyak netizen menyayangkan respons agresif dari anak pejabat di tengah penderitaan warga akibat kelangkaan BBM.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk intimidasi dan menunjukkan ketidakpekaan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.
Situasi ini juga kembali memunculkan isu dugaan dinasti politik di Balikpapan, di mana hubungan kekerabatan disebut-sebut mendominasi struktur pemerintahan.
Editor : Nur Pramudito