A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Dunia fotografi sudah tak asing lagi bagi perempuan yang akrab disapa Adek Berry ini. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dia sudah mulai menekuninya. Tapi karier sebagai jurnalis foto mulai dia geluti sejak 1997 silam. Bukan profesi yang mudah karena menyajikan serangkaian tantangan, mulai dari meliput daerah-daerah berbahaya hingga beban fisik kamera dan lensa berat yang harus dia bawa ke mana-mana.
Tak dipungkiri dunia fotografi, terutama jurnalis foto sering identik dengan laki-laki, tapi Adek melihat saat ini sudah banyak perempuan yang tertarik dan serius menggeluti bidang ini.
Adek juga menyebut sebagai fotografer perempuan dia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus. Dia merasakan, yang dinilai dari dirinya selama ini adalah profesionalisme dalam bekerja.
"Tidak sedikit perempuan yang mau sedikit lebih capek lagi dengan peralatan yang agak rempong. Kalau mereka memang punya passion di dunia jurnalistik dan ketika dijalani ternyata pada mampu, banyak yang menjadi suka. Banyak yang akhirnya jadi sangat serius. Ya salah satunya aku," kata Adek ditemui di sela-sela menggelar pameran fotografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta belum lama ini.
Perempuan yang memiliki hobi membaca ini mengaku bakat jurnalistiknya sudah mulai terlihat sejak SMP. Sejak duduk di bangku sekolah dasar Adek mengaku sudah gemar menulis, dan hobi ini berlanjut hingga SMP. Bahkan ketika kelas 1 dia pernah menulis cerita fiksi dan masuk ke majalah nasional.
Ketika tiba masanya untuk lebih serius lagi mempertimbangkan masa depan, Adek sempat merasa kebingungan. Dia kemudian memilih jurusan kedokteran gigi, mengikuti ketertarikannya pada bidang sains yang tumbuh semasa SMA. Namun tidak sampai satu semester, dia malah pindah jurusan ke pertanian. Karena merasa tidak menyukai sistem dan suasana kuliah di jurusan sebelumnya.
"Akhirnya aku ambil jurusan pertanian. Ngawur lagi, tapi justru kengawuran itu yang menyebabkan aku menemukan cinta sejati ini jurnalistik, fotografinya," ujarnya.
Perempuan kelahiran Curup, 14 September 1971 ini mulai serius belajar fotografi di Jember. Semua bermula dari kamera Yashica FX 3 pemberian kakaknya. Mulai dari belajar otodidak, Adek akhirnya ikut ke dalam sebuah klub fotografi dan sering mengikuti sharing tentang foto. Kemudian dia mulai mencoba berbisnis lewat fotografi, mulai dari foto pernikahan dan foto wisuda.
"Dari situ akhirnya aku mulai mengerti sepertinya aku harus segera lulus (kuliah). Kalau nggak lulus, aku nggak bisa jadi apa yang aku mau. Akhirnya aku lulus. Trus waktu itu Majalah Tiras buka. Aku kemudian mendaftar. Diterima. Aku ke Jakarta. Di Tiras aku masuk sebagai reporter," tuturnya.
Profesi sebagai jurnalis tulis bukannya tidak menggugah. Tetapi, Adek tetap ingin kembali ke cinta pertamanya yaitu fotografi. Gayung bersambut, saat itu kantor berita AFP membuka lowongan fotografer untuk ditempatkan di Istana Negara. Dia lantas pindah “kapal”.
"Jodohnya ya seperti itu, ngalir. Nggak terencana. Mana terbayang dulu mau kerja di kantor berita asing," ucap dia.
Bekerja di sebuah kantor berita atau wire, menurut Adek, punya tingkat kesulitan dan tantangan tersendiri. Selain mendapat tekanan yang lebih tinggi, juga dituntut lebih efisien dalam banyak hal karena harus meliput peristiwa nasional dan internasional. Manajemen waktu yang baik tidak bisa ditawar.
Sebagai fotografer, dia harus siap dalam setiap penugas di medan apapun. Termasuk penugasan di wilayah konflik atau perang. Di Indonesia, dia pernah memotret konflik di Ambon, Timor Timor, Palu, dan Tentena. Sementara untuk penugasan ke luar negeri, Adek pernah tiga kali bertugas di medan konflik Afghanistan dan Pakistan.
Bertugas meliput di medan perang tidak bisa sembarangan. Prioritas utama harus selalu mengikuti standard operation procedure (SOP). Sebelum keberangkatan, selalu diberi pembekalan khusus mengenai tugas dan kondisi medan yang akan dituju. Baik bagi jurnalis foto pemula maupun yang pernah berangkat.
Hal ini dilakukan karena kondisi di daerah konflik selalu berubah-ubah. Sehingga perlu terus dilakukan pengarahan agar tahu informasi terbaru sebelum terjun ke sana.
"Jangan sampai karena tidak memperhatikan keselamatan, kehadiran kita sebagai jurnalis di situ justru merepotkan aparat keamanan atau masyarakat. Padahal tujuan kita berada di situ adalah untuk melaporkan peristiwa dan keadaan terakhir," ucapnya.
Tidak hanya peralatan teknis liputan. Tapi jurnalis di medan perang juga harus memenuhi standar keamanan.
"Jika kita embeded (bergabung dengan satuan keamanan), rompi antipeluru dan helm menjadi barang yang wajib dipakai. Selain itu, kita juga harus patuh terhadap perintah dari komandan regu," imbuh Adek.
Bila harus bergabung dengan satuan tentara tertentu, lanjut Adek, jurnalis tidak bisa sesuka hati meliput. Sebab, bisa saja terjadi ancaman. Paling berbahaya adalah road side bom hingga bom bunuh diri.
"Ketika jalan, mereka akan pakai pendeteksi dan kami berada di belakang pendeteksi logam. Bukan di depan, atau di sampingnya. Sebisa mungkin nggak menempatkan diri di situasi bahaya yang tidak bisa diatasi sendiri," ujar Adek.
Tetapi ada kalanya dia menembus daerah-daerah berbahaya itu seorang diri tanpa mengikuti kesatuan tertentu. Tapi dia harus tetap bekerja sama dengan kepala biro setempat atau fotografer lokal karena mereka yang lebih memahami situasi.
“Koordinasi mutlak dilakukan karena ini menyangkut keamanan,” ujarnya.
Sebagai fotografer perempuan, tanggung jawab Adek tak sebatas pada pekerjaan saja tapi juga pada statusnya sebagai istri dan ibu. Adek menegaskan komunikasi menjadi hal yang penting baginya dan keluarga. Hal ini yang membuat suami maupun anak-anaknya memahami profesi dan seluruh risiko yang hadir di balik titel sebagai jurnalis foto.
Untuk menyeimbangkan dua dunia tersebut, Adek mengaku akan meninggalkan atributnya sebagai fotografer saat berada di rumah atau bersama keluarga.
"Saat libur, aku punya anakku, punya mereka. Saat di rumah, aku bukan fotografer, aku bukan editor, aku adalah ibu rumah tangga yang juga mencuci, memasak, terus ngurus anak," tuturnya.
Meski sudah 20 tahun menjalani profesi sebagai fotografer, Adek mengaku masih banyak hal dari dunia fotografi dan foto jurnalistik yang masih ingin dia pelajari.
"Kalau dibilang nggak ada capeknya nggak mungkin. Dibilang nggak ada bosennya juga nggak mungkin. Sebab, melakukan pekerjaan yang sama dan berulang. Tapi pada prinsipnya jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Dan pesan itu bisa selalu berbeda-beda, kondisi meliput juga selalu berbeda-beda," ucapnya.
Bekerja di bidang ini bukan tanpa suka duka. Salah satu yang membuat Adek kecanduan pada dunia fotografi, salah satunya karena foto merupakan karya individu. Ini berbeda dari karya video di televisi yang merupakan karya tim.
"Karyanya individu dalam satu foto. Yang nempel nama Adek Berry," ucapnya.
Namun, sisi dukanya ketika mengetahui kalau ada kolega atau rekan yang gugur saat bertugas. Ada juga yang sampai meninggal karena menjadi sasaran kombatan. Sebagai
“Naluri wanita pasti muncul ya, pasti langsung menangis. Apalagi ada teman saya yang meninggal satu keluarga karena menjadi sasaran kombatan. Padahal saat itu dia sedang tidak liputan, sedang makan malam di rumah," ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram