ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Masjid Muslimin Giri Purno tampak berbeda dibandingkan dengan masjid lainnya di Kabupaten Klaten. Dari gerbangnya saja, menyerupai gerbang Masjid Agung Keraton Surakarta. Dindingnya cukup tebal dengan satu pintu masuk utama dan dua pintu kecil di kanan-kirinya.
Tepat di atas pintu gerbang itu terdapat gambar bulan bintang hingga tulisan aksara Jawa. Termasuk tahun didirikannya masjid tersebut pada 1932 atau tahun Jawa 1862.
Masjid Muslimin Giri Purno merupakan hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk seseorang bernama Ki Karsodimejo. Warga Dusun Kauman, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi yang makamnya masih satu kompleks dengan masjid ini dikenal sebagai seorang tabib kerajaan. Karena kemampuannya mengobati keluarga PB X.
”Secara singkat masjid di Desa Pakahan ini belum masuk dalam peta Belanda pada 1931. Maka itu diperkirakan masjid baru dibangun pada 1932 seperti yang tercatum pada gerbang utama pada masjid itu,” ucap Humas Komunitas Pegiat Cagar Budaya (KPCB) Klaten Hari Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (30/3/2023).
Hari menjelaskan, keberadaan masjid tersebut sebagai penanda penganugerahan yang diberikan PB X kepada Ki Karsodimejo karena telah memiliki jasa terhadap kerajaan. Terlebih lagi hadiah yang diberikan kepada sosok yang merupakan ahli pengobatan.
”PB X ini memiliki julukan sebagai pranata agama dalam penyebaran ajaran Islam. Dibuktikan dengan tempat di mana saja yang disinggahi PB X selalu didirikan bangunan ibadah seperti musala hingga masjid,” ucap Hari.
Takmir Masjid Muslimin Giri Purno Subarjo menjelaskan, arsitek masjid ini dari PB X. Sehingga di beberapa bagiannya seperti gapura, tiang hingga bentuk kubah serupa dengan masjid-masjid di Kota Solo.
”Masjid ini sudah masuk cagar budaya, sehingga tidak diperbolehkan dalam merubah bentuk,” ucapnya.
Lewat gaya arsitekturnya, Subarjo mengungkapkan, banyak mengandung filosofi dan makna dari bangunan masjid tersebut. Mulai dari terasnya yang berundak hingga jumlah pintunya didasarkan pada rukun Islam dan rukun iman.
”Masjid ini menjadi pusat kegiatan masyarakat, sehingga terbuka untuk umum. Tapi kebanyakan yang menyinggahi masjid ini adalah para musafir,” tandasnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram