RADARSOLO.COM - Tidak mudah mempertahankan resep minuman selama puluhan tahun. Nah, Hari Raharjo memiliki resep jitu untuk menjaga resep dari orang tuanya itu. Hingga kini produknya tetap diminati.
Suasana kompleks Keraton Kasunanan Surakarta cukup lenggang, kemarin siang (9/11). Tak banyak orang hilir mudik. Sejumlah wisatawan tampak menikmati arsitektur keraton yang asri dan menenangkan.
Masuk di sebuah Kampung Tamtaman RT 001/RW 011 Baluwarti, Pasar Kliwon, dekat gerbang utama, seseorang tampak sibuk membersihkan rempah-rempah di pelataran rumahnya.
Hanya dengan mendekati bibir gang, semerbak harum rempah itupun langsung menyeruak.
Rupanya di situlah berdiri sebuah produksi minuman kesehatan tradisional. Hunian sekaligus usaha milik Hari Raharjo ini sudah bertahan sejak 39 tahun lalu.
"Saya generasi kedua yang mewarisi usaha bapak (saya). Sudah berdiri sejak 1984. Dan memang puluhan tahun sudah bertahan," kata dia saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Di rumah bercorak biru dan putih inilah Hari bersama anak-anaknya menjalani bisnis warisan keluarga. Hari tak mengubah resep sedikitpun.
Alhasil, rasa minuman tradisionalnya konsisten sejak puluhan tahun. Ada tiga jenis minuman yakni beras kencur, kunir asem, dan gula asem. Semua produk ini terbuat dari bahan alami dan pilihan.
"Resepnya masih sama. Bahan-bahannya juga cari sendiri di Pasar Legi, mulai rempah dan lainnya. Karena alami, minuman ini bisa bertahan 1,5 sampai 2,5 bulan tanpa dimasukkan kulkas," jelas pria 62 tahun tersebut.
Pembuatan minuman herbal milik Hari memerlukan waktu tak singkat. Sekira satu hari satu malam, dia bisa memproduksi 300 botol. Prosesnya dimulai dengan menyangrai beras dan berbagai rempah selama 7-8 jam.
Minuman tradisional yang dia buat juga memiliki sejumlah khasiat masing-masing. Seperti beras kencur yang bermanfaat menghilangkan rasa letih lesu, menghangatkan badan, mencegah perut kembung dan batuk.
Sedangkan kunir asem bisa mengurangi rasa sakit dan mulas pada wanita haid, serta gula asem bisa menjaga kesehatan badan, melangsingkan tubuh, memperlancar pencernaan.
"Kira-kira satu bulan bisa terjual 1.000 botol. Memang paling banyak dipilih sebagai oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke keraton. Tamu-tamu ndalem keraton juga sering pesan ke sini," ujar dia.
Target pasar Hari memang tak hanya di wilayah Solo Raya saja. Namun sampai berbagai wilayah Indonesia bahkan mancanegara. Meski penjualannya tak semoncer waktu sebelum pandemi, tetapi Hari terus berusaha mengembangkan bisnisnya dengan menjual baik offline dan online.
Para wisatawan juga sering datang ke tempat produksi minuman milik Hari. Bahkan, jika beruntung mereka bisa melihat secara langsung proses pembuatannya.
"Dulu memang sempat anjlok saat pandemi. Tapi cukup laris karena cukup banyak yang beli karena untuk menjaga imunitas," kata dia. (ul/bun)
Editor : Damianus Bram