Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Fariz Suryo Putro, dari Sales Semen Toko Bangunan Sukses Tekuni Usaha Helm Custom: Gara-gara Iseng Restorasi Helm Bekas malah

Antonius Christian • Senin, 20 November 2023 | 16:00 WIB

 

TAMPIL BEDA: Fariz Suryo Putro di rumah produksi helm custom miliknya di Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, kemarin.
TAMPIL BEDA: Fariz Suryo Putro di rumah produksi helm custom miliknya di Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, kemarin.

RADARSOLO.COM - Helm memiliki fungsi utama sebagai pelindung utama bagian kepala kita ketika berkendara sepeda motor.

Namun, di zaman yang semakin maju, banyak juga yang menginginkan helm sebagai style, tanpa mengurai esensi dari fungsi utamanya. Nah, inilah yang membuat Fariz Suryo Putro membuat helm handmade dengan konsep klasik.

 

Rumah Fariz yang berada di Dusun Soditan, Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura disulap menjadi lokasi produksi helm costume bernuansa klasik. Dia dibantu dengan lima orang teman dan tetangganya.

Lokasi produksinya sangat sederhana, yakni berupa kebun dengan tembok masih berupa batu-bata. Alunan musik dangdut koplo menemani para pekerja saat memproses helm.

Mereka terlihat bersemangat bekerja. Meski di dalam ruangan tersebut sangat gerah. Hanya ada kipas gantung berada di tembok sekadar menyejukkan ruangan. 

Ada yang sibuk membuat lapisan helm, mengamplas, mengecat batok helm, dan lain sebagainya.

Fariz sendiri berada di sebuah ruangan lain dengan luas 2x2 meter, bertugas dibagian finishing dan quality control sebelum helm tersebut dikirim ke pemesan.

Fariz sendiri tak mengira memiliki industri rumahan ini. Sebab sebelum berwirausaha, dia bekerja sebagai sales semen di toko bahan bangunan. Namun, pemuda berusia 28 tahun ini memiliki hobi touring sepeda motor bersama teman-temannya.

"Dari situ awalnya. Terus pada 2018 buka jasa restorasi helm. Jadi cari helm bekas jadul di Pasar Klitikan Notoharjo, saya perbaiki interiornya, lalu dicat ulang, kemudian dijual lagi," jelasnnya

Ternyata, usaha ini laku keras. Akhirnya dia memilih keluar dari pekerjaannya dan fokus membuat helm costume.

Karena permintaan tinggi, sulit mencari helm bekas jadul di pasar klitikan. Sebab, tidak setiap hari ada stoknya. Akhirnya pada 2019, Fariz membuat helmnya sendiri dengan bahan fiber. 

Di mana semua helm buatannya ini bertema klasik. Ada model slim head, cakil hingga chief. Dari beragam model ini, Fariz mengaku paling laku terjual yakni model slim head. Di mana kesan jadulnya sangat kental terasa. 

Setahun berselang, pandemi Covid-19 datang. Dampaknya banyak usaha yang gulung tikar. Tetapi, itu tidak berdampak apapun pada usaha rumahan milik Fariz.

Malah, pesanan terhadap helmnya semakin banyak. Fariz sendiri tak tahu apa penyebab pasti usahanya tidak terdampak pandemi.

"Mungkin karena kami sudah memiliki market sendiri. Terus waktu pandemi itu-kan banyak yang tempat kerjanya libur, yang senang touring motor juga makin banyak. Terus dari harga jual kami juga tidak terlalu mahal. Dari situ mungkin tidak terdampak," ujarnya.

Ya, pembeli helm buatan Fariz memang mayoritas adalah pecinta motor klasik. Dari segi betuk, memang sudah pakem. Yang buat berbeda adalah dari segi desain.

Ada yang meminta dibuatkan dengan motif tertentu, karakter, logo club motor, hingga muka anggota keluarga. Semua terhantung dari request pemesan. 

"Kalau pesan rombongan jarang. Tapi biasanya ada anak motor yang beli dulu satu, kemudian karena bagus nanti temannya minta dibuatkan juga, terus tambah lagi, tambah lagi. Akhirnya jadi helm untuk komunitas mereka," urainya.

Untuk penjualan, lanjut Fariz, melalui marketplace. Pembeli tinggal memilih barang yang ready stock, atau ingin dibuatkan desain sesuai dengan keinginan mereka dengan sistem pre-order (PO). Ada juga pembeli yang langsung datang ke rumah produksinya.

“Karena ada beberapa pembeli kalau tidak pegang barangnya kurang puas," ujarnya.

Untuk satu helm prosesnya tiga sampai empat hari. Tergantung kesulitan motifnya. Karena sistemnya PO, maka mereka harus pesan dulu baru dibuatkan.

“Itupun tergantung antrean. Sehingga estimasi sampai ke pembeli itu satu sampai dua minggu. Ada juga yang ready stock, tapi motifnya terbatas," ujarnya.

Dalam sebulan, Fariz bisa membuat 70 hingga 100 unit helm. Di mana helm ini dijual dengan harga Rp 425 ribu hingga Rp 600 ribu.

Tergantung dari desain gambar serta model helm yang dipesan. Kosumen sudah merambah seluruh tanah air.

"Tapi paling banyak dari Bandung. Sebab, di sana banyak komunitas motor klasik, kemudian jadi barometer style. Luar negeri ada Malaysia dan Singapura," urainya.

Disinggung soal kendala, Fariz mengatakan persaingan harga dengan kompetitor lain. Selain itu, dia juga terkendala ekspor.

"Sebenanrya permintaan buyer dari luar negeri banyak. Terutama yang pesan lewat DM Instragram. Kesulitanya perizinan untuk ekspor ini," katanya. 

Karena handmade, kemudian tempat usahanya masih skala rumahan, sulit untuk didaftarkan menjadi produk standar nasional Indonesia (SNI). Dia khawatir kalau nekat kirim akan berbuntut masalah.

Meski belum mengantongi SNI, namun Fariz menjamin kalau helm buatannya kuat dari benturan. Sebab, helmnya memiliki enam lapisan.

"Sudah diuji coba dan tidak mudah pecah kalau kena benturan. Karena kalau bahan fiber lebih lentur. Beda dengan plastik," ujar dia. (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#helm handmade #helm klasik #jual helm