Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bongkar Rahasia Pasutri Asal Kota Solo, Berbisnis Hantaran Pernikahan 3 Dimensi hingga Tembus Italia

Maulida Afifa Tri Fahyani • Jumat, 12 Januari 2024 | 18:15 WIB
Pasangan suami-istri Agus Hendrik-Wulansari berkolaborasi membuat kerajinan hantaran pernikahan tiga dimensi.
Pasangan suami-istri Agus Hendrik-Wulansari berkolaborasi membuat kerajinan hantaran pernikahan tiga dimensi.

RADARSOLO.COM-Mahar pernikahan menjadi sangat “sakral” bagi calon pengantin. Nah, dalam perkembangan zaman, mulai muncul beragam mahar unik.

Peluang ini ditangkap pasangan suami-istri (Pasutri) Agus Hendrik dan Wulansari yang menggeluti bisnis mahar tiga dimensi sejak lima tahun lalu.

Bagi Agus Hendrik, mahar tiga dimensi menjadi peluang bisnis menjanjikan. Seperti produk-produk hantaran yang dia pamerkan di Pendapa Kantor Kecamatan Pasar Kliwon.

"Ini adalah produk unggulan saya. Kebanyakan memang untuk pernikahan, berbahan dari akrilik dan resin. Bisa di-custom sesuai request pelanggan," kata Hendrik.

Bersama sang istri, Hendrik memproduksi sendiri mahar atau hantaran kerajinannya di rumah yang berlokasi di Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon.

Alasan memilih mahar berbahan akrilik dan resin karena lebih awet dan diminati masyarakat.

"Spesialnya, produk kami lebih awet dan selama lima tahun ini tidak ada komplain dari customer. Kalau sebelumnya kami pakai print-print kertas. Sekarang pakai akrilik, kami pakai laser untuk tulisan custom-nya," jelas dia.

Tentu, keahlian Hendrik dalam memproduksi mahar ini bukan tanpa dasar. Mantan karyawan percetakan ini memiliki kemampuan desain grafis yang tak perlu diragukan.

Ini terbukti dengan hasil kerajinannya yang cantik dan memuat perpaduan bunga artificial, bebatuan, hingga pernak-pernik lainnya.

Dalam sehari, Hendrik bisa memproduksi lima hingga delapan mahar. Di mana rata-rata 30 hingga 50 buah bisa dia jual.

Harga mahar bervariasi. Antara Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta. Jika dikalkulasikan, omzet yang dia kantongi bisa puluhan juta rupiah.

"Sebenarnya modal bahan resin itu murah, tapi yang mahal pernak-perniknya,” ucap Hendrik.

Aksesori warna emas dan silver bisa s Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per botol, bunga artificial Rp 500 ribu hingga satu juta, kemudian resin satu liter sekira Rp 100 ribu.


Hendrik mengakui, menjalani bisnis kerajinan seperti hantaran memiliki momen-momen tertentu agar bisa laris.

Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus berinovasi. Terbukti, hasil ketekunannya, Hendrik bisa moncer. Produk hantarannya terjual dari Papua, Jepang, hingga Italia.

"Dulu pernah ada yang request dari Jepang. Minta tema-tema bangunan Jepang dengan bunga sakura. Jadi memang bisa custom tidak harus sesuai sampel," sambung Wulan.

Modal utama bisnis ini adalah terus berinovasi. Sebab itu, sangat penting bagi UMKM mengikuti tren.

“Yang penting dibanyakin inovasi dengan eksplore produk mana yang sedang tren di masyarakat," sambung Hendrik. (*/bun)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#hantaran #mahar #custom #pernikahan #kota solo