Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Swartow, Inovasi Mahasiswa ISI Jogja yang Membawa Pesan Perdamaian dari Lokananta

Fauziah Akmal • Senin, 2 Desember 2024 | 03:23 WIB
Tiga personel Swartow tampil di All Etno di Lokananta Solo, Jumat malam (22/11). (M Ihsan/Radar Solo)
Tiga personel Swartow tampil di All Etno di Lokananta Solo, Jumat malam (22/11). (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Ada sajian menarik dan unik di event All Etno yang digagas Himpunan Mahasiswa Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jumat malam lalu (22/11). Swartow menampilkan aksi terbaiknya.

Hujan rintik menyelimuti Lokananta Bloc Solo malam itu menciptakan suasana magis yang menyatu dengan pertunjukan malam itu. Di bawah sorotan lampu merah yang menciptakan atmosfer hangat, panggung All Etno menjadi saksi kolaborasi unik tiga mahasiswa Etnomusikologi ISI Jogjakarta: Welderahmat, Anto, dan M. Yoga Religi.

Tiga seniman muda ini membawa audiens dalam perjalanan musikal yang menggabungkan teknologi dan tradisi. Dengan percaya diri, Welderahmat memainkan laptopnya menggunakan teknik live coding, menghasilkan komposisi bunyi yang modern.

Di sisi lain, Anto dengan slenthem dan suling Jawa, serta M. Yoga Religi yang memadukan kacapi Sunda dan Swartow, memberikan sentuhan khas nusantara.

Sorotan utama malam itu adalah Swartow, sebuah instrumen inovatif karya Muh Faiz, mahasiswa ISI Jogjakarta. Nama Swartow, singkatan dari Swara Tuwuh, memiliki filosofi sebagai dimensi suara yang tumbuh dari dialog budaya.

Alat musik ini memadukan handpan dengan dawai senar, menciptakan resonansi bunyi yang unik dan menenangkan. Bentuknya menyerupai umpak, simbol fondasi tradisional, yang mencerminkan perpaduan tradisi dan modernitas.

“Swartow ini kami buat sebagai ruang pertemuan antara bunyi meditasi dari handpan dan dinamika melodi dari senar. Filosofinya adalah pertumbuhan suara sebagai dialog budaya,” jelas Anto.

Pertunjukan malam itu tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga mengundang refleksi. Konsep mereka berangkat dari ide tentang ketidaknyamanan dalam ruang liminal, kondisi transisi yang sering dihadapi manusia.

Para pemain mematuhi notasi berbasis waktu yang dikontrol oleh stopwatch. Jika salah satu pemain meleset, ia harus mengulang dari awal.

“Kami mencoba membawa ketidaknyamanan ke panggung sebagai bagian dari proses kreatif. Ini sejalan dengan tema The Sound for Peace. Dalam ketidaknyamanan, harmoni bisa tercipta,” ungkap Anto.

Hujan yang terus rintik menjadi latar alami pertunjukan, seolah menyempurnakan narasi bunyi yang mereka sajikan. Audiens diajak melihat musik dari bagian per bagian, menyelami keterbatasan waktu yang justru menciptakan keindahan.

Penciptaan karya ini membutuhkan waktu panjang. Setiap pemain memiliki durasi tiga menit untuk menyajikan bagian mereka, dengan fokus pada kesinambungan antarbagian.

“Kami benar-benar memikirkan bagaimana setiap detik dapat menghasilkan bunyi yang saling terhubung,” kata Welderahmat.

Melalui karya ini, ketiganya ingin menyampaikan pesan bahwa ketidaknyamanan adalah bagian penting dari proses kreatif. “Kami ingin audiens melihat keindahan dalam ketidakpastian. Seperti musik kami, meski penuh tantangan, ada harmoni yang akhirnya tercipta,” tambah Yoga.

Sebagai prototipe, Swartow menarik perhatian publik malam itu. Potensinya untuk kolaborasi dalam berbagai genre musik sangat besar. Dengan filosofi yang kuat dan suara yang unik, instrumen ini menunjukkan bahwa inovasi di dunia seni tidak pernah berhenti. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#ISI Solo #all etno #ISI Jogja #mahasiswa