Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Wujudkan Ketahanan Pangan, Dispertan PP Karanganyar Bentuk Kampung Kelinci

Damianus Bram • Sabtu, 24 Desember 2022 | 14:30 WIB
TEROBOSAN: Penyerahan bantuan kelinci bagi Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Jumat (23/12). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
TEROBOSAN: Penyerahan bantuan kelinci bagi Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Jumat (23/12). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) Karanganyar membuat terobosan di sektor ketahanan pangan. Melalui pembentukan Kampung Kelinci di Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang. Setelah sebelumnya sudah dibentuk di Kecamatan Karangpandan.

Kepala Dispertan PP Karanganyar Siti Maesaroh menjelaskan, program ini masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Tak sekadar membentuk Kampung Kelinci, juga memberikan bantuan berupa 20 ekor kelinci jenis New Zeland pedaging kepada kelompok ternak Desa Munggur, Jumat (23/12).

“Kami upayakan agar nanti lebih banyak lagi warga yang beternak kelinci. Dan dengan adanya Kampung Kelinci di Desa Munggur, diharapkan nanti bisa menjadi ikon bagi Kabupaten Karanganyar,” ungkap Siti di sela penyerahan bantuan.

Kepala Desa (Kades) Munggur Supar menambahkan, baru ada satu kelompok ternak khusus kelinci di wilayahnya. Dia berharap setelah launching, lebih banyak lagi warga yang beternak kelinci. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Desa kami memiliki lahan untuk pengembangan kelinci. Termasuk proses pemasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Supar.

Sementara itu, Ketua Kelompok Guyup Rukun Farm Edris Nugroho mengaku memulai ternak kelinci sejak 2015. Hingga kini sudah memiliki sekitar 100 ekor kelinci.

“Total peternak kelinci di sini ada 20 orang. Masing-masing peternak memiliki 5 ekor indukan, belum termasuk anakan. Diperkirakan populasi kelinci di Desa Munggur ada sekitar 200-250 ekor,” terangnya.

Menurutnya, ternak kelinci sangat potensial. Mengingat kebutuhan di pasaran lumayan banyak. Baik untuk daging maupun indukannya. Soal pemasaran, mayoritas menyasar pedagang sate kelinci di kawasan wisata Tawangmangu.

“Kalau yang indukan kelinci, lebih banyak yang pesan dari luar Jawa. Ada juga yang diekspor ke negara tetangga. Khusus daging kelinci, saya kirim 100 kilogram (kg) ke Tawangmangu per bulan. Itu di satu lokasi saja. Sebenarnya mau tambah lagi, tapi stok dagingnya terbatas,” bebernya.

Ditanya omzet, Edris menyebut sekira Rp 15 juta-Rp 20 juta per bulan. Peningkatan omzet tersebut dialaminya dalam kurun tiga bulan terkahir.

“Itu omzet untuk penjualan pakan, daging, dan anakan kelinci. Kalau sebelumnya, omzetnya paling antara Rp 6 juta sampai Rp 7 juta,” ujarnya sembari mengapresiasi upaya pemerintah desa maupun Pemkab Karanganyar dalam pembentukan Kampung Kelinci di Desa Munggur. (rud/fer) Editor : Damianus Bram
#Kampung Kelinci #Ternak Kelinci #ketahanan pangan #Dispertan PP Karanganyar