Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mitos atau Fakta, Mata Minus Dapat Menyebabkan Kebutaan?

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 15 Juli 2022 | 21:34 WIB
Photo
Photo
MATA minus, atau dalam istilah medis disebut dengan myopia, adalah suatu kondisi saat berkas sinar sejajar yang masuk ke dalam mata, dibiaskan di suatu titik fokus di depan retina. Penyakit ini biasanya lebih sering disebut dengan rabun jauh, yaitu ketika seseorang kesulitan untuk membaca dengan jarak jauh. Penyakit rabun jauh seringkali luput dari perhatian. Baik oleh penderitanya, terutama pada anak-anak karena kerap tidak disadari oleh orang tuanya. Sehingga tidak jarang baru disadari oleh guru di sekolah  saat anak didiknya kesulitan membaca tulisan di papan tulis.

Betul bahwa rabun merupakan salah satu dari penyakit bawaan (genetik). Umumnya keadaan ini kali pertama ditemukan pada usia anak-anak maupun remaja. Penyebab rabun jauh yang paling sering disebabkan karena ukuran bola mata yang memanjang. Kondisi itu terjadi karena seiring berjalannya waktu, bola mata akan semakin memanjang untuk memenuhi rongga tulang bola mata.

Salah satu cara untuk mengetahui rabun jauh adalah dengan melihat dari orang tuanya. Apabila salah satu atau kedua orang tuanya menggunakan kacamata, maka dapat mencurigai bahwa seseorang tersebut memiliki rongga tulang bola mata yang panjang. Artinya kemungkinan besar anak bisa mengidap rabun jauh nantinya.

Ukuran bola mata seseorang dapat makin memanjang seiring dengan bertambahnya usia. Sehingga, semakin muda usia seseorang didiagnosis kali pertama mengidap rabun jauh, maka progesifitasnya akan semakin cepat dan dapat mengakibatkan semakin tinggi minus seseorang tersebut. Biasanya, pertambahan ukuran bola mata akan melambat atau berhenti pada usia pertengahan maupun akhir dari masa remaja, yaitu sekitar usia 20 tahun.

Selain itu, penyebab dari rabun jauh juga dipengaruhi oleh kurvatura atau kelengkungan dari kornea atau lensa yang lebih kuat, atau lebih cembung daripada normal. Bisa juga disebabkan karena penyakit-penyakit lain seperti diabetes maupun katarak pada seseorang dengan usia lebih lanjut. Tetapi penyakit ini tidak semata-mata akibat faktor keturunan saja, dengan kemajuan teknologi alat komunikasi saat ini yang luar biasa pesatnya seperti gadget, sangat berperan dalam meningkatnya pengidap rabun jauh terutama pada anak-anak, sehingga penyakit ini sering muncul pada orang-orang yang tidak mempunyai riwayat keturunan.

Apalagi sekarang ini, sering kali pengenalan dan pemakaian gadget sudah dimulai pada usia dini. Bahkan saat ini bayi pun sudah diberikan handphone atau istilahnya screen time. Yang mungkin sengaja diberikan oleh orang tuanya supaya bayinya tidak rewel. Ini yang sangat berbahaya karena sering tidak disadari dan tidak terkontrol oleh orang tuanya.

Gejala yang dirasakan adalah kesulitan untuk melihat dengan jarak jauh, atau penglihatan jauh yang dirasa semakin kabur dan tidak jelas. Namun gejala yang paling mudah dikenali pada anak adalah ketika anak selalu memicingkan matanya ketika melihat sesuatu yang jauh. Selain itu, terutama pada anak-anak yang belum bersekolah, mereka akan kesulitan untuk menonton televisi atau gadget dengan jarak jauh, sehingga mereka akan berlari mendekati televisi atau gadget tersebut agar dapat melihat dengan jelas.

Bila anak anda mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah periksa ke dokter mata agar diketahui apa penyebabnya. Klasifikasi dari rabun jauh sendiri dibagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Rabun jauh dapat diklasifikasikan ringan bila ukuran kacamatanya kurang dari -3.00 D. Sedangkan rabun jauh dapat diklasifikasikan sedang bila ukuran kacamatanya -3.00 D sampai dengan -6.00 D, dan diklasifikasikan berat bila ukuran kacamatanya lebih dari -6.00 D. Huruf “D” pada ukuran kacamata merupakan singkatan dari “Dioptri” yang merupakan satuan pengukuran kelengkungan dari lensa kacamata yang digunakan.

Salah satu komplikasi dari rabun jauh, terutama pada rabun jauh berat atau penderita dengan ukuran kacamatanya lebih dari -6.00 D, adalah ablasio retina. Ablasio retina adalah kondisi lepasnya lapisan dari retina dari tempatnya. Hal ini disebabkan karena ukuran dari bola mata yang sangat panjang pada penderita rabun jauh berat, sehingga terjadi kerusakan atau robekan pada retinanya.

Gejala yang muncul adalah ketika tajam penglihatan menurun secara mendadak tanpa adanya rasa nyeri, atau lebih mudahnya dikenali dengan buta secara mendadak. Selain itu, juga bisa muncul gejala yang lebih ringan seperti melihat bintik-bintik hitam pada penglihatan. Sensasi kilatan cahaya, atau juga bisa muncul gejala seperti tertutup tirai hitam pada penglihatan. Harus dipahami pada kondisi yang seperti itu sudah gawat darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk segera ditangani oleh dokter spesialis mata.

Jadi, apakah mata minus dapat menyebabkan kebutaan?

Jawabannya bisa saja terjadi kebutaan bila rabun jauh tidak segera diperiksakan dan dikoreksi, terutama pada rabun jauh berat. Selain itu, rabun jauh juga dapat menyebabkan mata juling dan juga menyebabkan mata malas atau ambliopia. Mata malas adalah suatu kondisi saat penurunan tajam penglihatan. Baik pada satu mata maupun kedua mata yang tidak dapat dikoreksi menjadi normal kembali dengan ukuran kacamata berapapun.

Hal itu dapat terjadi bila perbedaan ukuran kacamata minus dari mata kanan dan mata kiri lebih dari -3.00 D. Hal itu disebabkan karena bila perbedaan kemampuan penglihatan mata kanan dan kiri terlalu jauh untuk melihat objek, dia akan cenderung lebih sering menggunakan mata yang minusnya lebih kecil untuk melihat. Sehingga salah satu gejala dari mata malas, atau ambliopia adalah selalu memiringkan kepala ketika melihat objek atau saat membaca.

Mata minus dapat dikoreksi dengan pengunaan kacamata dengan lensa sferis negatif (lensa cekung), atau bahasa awamnya adalah kacamata minus. Selain dengan kacamata, mata minus juga dapat dikoreksi dengan penggunaan lensa kontak maupun juga dapat dilakukan dengan cara operasi, seperti operasi lasik. Namun, bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Mencegah bukan selalu untuk menghindari terkena mata minus, namun juga untuk menghindari pertambahan ukuran kacamata minus yang disebabkan karna kebiasaan buruk seperti membaca dengan jarak dekat, ataupun membaca di tempat yang gelap.

Maka dari itu, mulai dari sekarang perlu diubah kebiasaan-kebiasaan tersebut. Menjadi membaca di tempat dengan penerangan yang cukup dan juga menjaga jarak baca. Kira-kira sepanjang lengan hingga siku atau kurang lebih 30 cm. Kemudian hindari juga membaca buku sambil berbaring, hal ini dapat membuat mata menjadi cepat lelah sehingga dapat menambah ukuran dari kacamata minus.

Kemudian, berilah kesempatan mata untuk beristirahat setelah membaca atau bekerja dengan jarak dekat setiap 30 menit dengan berdiri, berkeliling ruangan, ataupun melihat pemandangan yang bernuansa hijau sehingga bola mata kita menjadi lebih rileks kembali. Posisi duduk yang tegak namun nyaman dan penggunaan kursi dengan sandaran tegak saat beraktifitas juga membantu mata kita untuk bekerja optimal sehingga tidak mudah lelah.

Pada anak-anak, diharapkan dapat dibatasi waktunya dalam penggunaan gadget seperti bermain game ataupun saat menonton televisi. Aturlah jarak antara sofa dan televisi pada ruang keluarga anda dengan jarak paling minimal 6 kaki atau kurang lebih 2 meter. Namun hal ini juga ditentukan oleh ukuran televisi yang anda miliki. Semakin besar ukuran dari televisi anda, maka semakin jauh pula jarak yang harus diberikan.

Untuk anda yang merupakan penderita rabun jauh, diharapkan untuk kontrol ulang setiap satu tahun sekali, atau dapat lebih cepat bila dirasa penglihatan semakin kabur dengan ukuran kacamata yang sama. Pada anak-anak, karena ukuran kacamata sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dari ukuran bola mata, maka biasanya akan lebih cepat untuk diminta periksa kembali, yaitu sekitar setiap 6 bulan sekali. Hal ini juga untuk mengevaluasi kecepatan dari pertambahan rabun jauhnya. Jangan lupa untuk selalu kontrol mata anda secara rutin di dokter, karena mata merupakan salah satu indera yang sangat penting hingga akhir hayat anda.




*) dr. dr. Ni Luh Ayu Made Intan Edyassari P, dokter umum magang di Rumah Sakit Mata Masyarakat Surabaya Editor : Perdana Bayu Saputra
#Rabun jauh #mata minus #Ni Luh Ayu Made Intan Edyassari Putriutami #Intan Edyassari