Wiryo Jeman yang dikenal sebagai pelaku sejarah terkait berdirinya angkringan itu dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat sekitar pukul 10.00. Wiryo Jeman meninggal dunia karena memang sudah berusia tua.
Selama ini Wiryo Jeman dikenal sebagai tokoh sentral di Desa Ngerangan. Yakni sebagai pelaku sejarah angkringan sejak 1940-an. Hingga akhirnya angkringan berkembang di sejumlah daerah di Indonesia.
Salah satu orang yang berduka atas kepergian pelapor angkringan itu adalah Direktur BUMDes Nerang Jaya, Desa Ngerangan Gunadi. Ia mengungkapkan, Wiryo Jeman bersama sosok maestro angkringan yakni Karsa Jungkut telah memulai sejarah angkringan dengan membuka usaha di Kota Solo sebelum kemerdekaan Indonesia.
“Mbah Wiryo Jeman ini merupakan asisten pribadi dari Mbah Karsa Jungkut. Dia mengetahui persis bagaimana kepribadian dari sosok maestro angkringan itu hingga pengelolaan angkringan dengan mengontrak di Kota Solo,” jelas Gunadi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (9/8).
Ia menambahkan,Wiryo Jeman mengetahui persis bagaimana awal angkringan berkembang. Mulai dari mempersiapakan dagangan, meracik minuman serta menelurkan konsep berjualan dari dipikul hingga gerobak. Kuatnya sejarah akan pengetahuan itu membuat Wiryo Jeman menjadi salah satu narasumber cikal bakal angkringan di Desa Ngerangan.
“Dari beliau kami kuat akan sejarah angkringan. Apalagi dilengkapi dengan sejumlah data otentik tentang perjalangan angkringan. Kami juga menjadi tahu bagaimana angkringan akhirnya berkembang di Indonesia. Tentunya warga Desa Ngerangan sangat berduka atas tokoh fenomenal ini,” ucapnya.
Ditambahkan Gunadi, pihaknya sempat menggali informasi terkait perkembangan sejarah angkringan terhadap Wiryo Jeman berusia 94 tahun. Dirinya begitu kagum dengan Wiryo Jeman karena sejarah dan fakta-fakta terkait angkringan.
“Meski Mbah Wiryo Jeman sudah tiada, tapi masih banyak generasi kedua yang mengetahui seluk beluk terkait angkringan. Narasumber terkait sejarah akan angkringan di Desa Ngerangan tidak akan putus,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngerangan Suwarna juga memiliki kesan tersendiri dengan sosok Wiryo Jeman. Apalagi menjadi saksi kunci terkait sejarah angkringan.
“Kami warga Ngerangan sangat kehilangan sosok beliau. Mula-mula permulaan menjadi kuliner berbasis lokal dan pada akhirnya menjadi turun temurun di Desa Ngerangan. Lantas berkembang di seluruh kota di Indonesia, bahkan luar negeri,” jelasnya.
Suwarna mengungkapkan, saat ini warga Desa Ngerangan yang menggeluti usaha angkringan ada sekitar 700 kepala keluarga (KK). Jika dalam hitungan, ada sekitar 1.500 jiwa dari 4. 600 jiwa. Usaha angkringan memang menjadi penopang perekonomian warga Desa Angkringan selama ini. (ren/ria) Editor : Syahaamah Fikria