Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Grebeg Suro di Tanjungsari Dlimas, Warga Klaten Lakukan Kenduren Berdoa Lintas Agama

Angga Purenda • Minggu, 13 Juli 2025 | 02:46 WIB
Warga saat membawa nasi tumpeng, ayam ingkung hingga pisang raja untuk didoakan oleh lintas tokoh agama pada grebeg suro di Desa Dlimas, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Warga saat membawa nasi tumpeng, ayam ingkung hingga pisang raja untuk didoakan oleh lintas tokoh agama pada grebeg suro di Desa Dlimas, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Warga Dusun Tanjungsari, Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten menggelar Grebeg Suro pada Jumat (11/7/2025) siang.

Digelar di Gedung Serbaguna Tanjungsari yang diikuti secara antusias oleh masyarakat setempat.

Pelaksanaan grebeg suro sudah menjadi tradisi yang telah turun temurun oleh warga setempat.

Salah satu rangkaian acaranya yakni kenduren berdoa lintas agama yang langsung dihadiri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama Ketua TP PKK Klaten Fahrani Hamenang.

Dalam kenduren tersebut, tampak warga membawa nasi tumpeng, ayam ingkung, aneka sayuran, lauk-pauk hingga jajanan pasar.

Mereka duduk bersila di gedung serbaguna tersebut sambil mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama secara bergantian yakni dari Kristen, Hindu dan Islam.

Seusai doa itu, dua gunungan berisikan aneka jajanan jadi rebutan warga yang hadir dalam Grebeg Suro tersebut.

Begitu juga dengan makanan yang dibawa dari rumah saling dibagikan di lokasi kepada sesama warga.

“Untuk grebeg suro dan gelar budaya di Tanjungsari, Dlimas ini diadakan setiap bulan Suro. Terutama pada Jumat Wage atau Jumat Kliwon. Grebeg suro ini sudah digelar sejak abad ke-18 sehingga sudah ratusan tahun,” ujar Sekretaris Desa (Sekdes) Dlimas Irene Galuh Kusumaningrum, Jumat (11/7/2025).

Galuh menjelaskan, tradisi itu juga dimeriahkan oleh berbagai rangkaian acara lainnya. Seperti wayang orang, kesenian tayub hingga pentas ketoprak.

Tujuan utama dari digelarnya grebeg suro yakni mengucapkan syukur atas kesehatan, keberkahan dan rezeki yang melimpah.

Termasuk memohon berkah dalam memasuki tahun baru supaya diberikan keselamatan dan kelancaran dalam melakukan berbagai aktivitas.

“Kalau rangkaian dari awal terdapat kegiatan gotong-royong atau bersih desa. Kami membersihkan area Dusun Tanjungsari dan Dlimas. Kemudian sebelumnya juga diadakan pengajian dan doa bersama,” ujar Galuh.

Puncaknya, digelar grebeg suro tersebut dengan diadakan kenduri yang dilaksanakan doa bersama.

Bahkan setiap keluarga membawa berkah bumi berupa ingkung, pisang raja hingga tumpeng serta jajanan pasar.

Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengungkapkan grebeg suro di Kabupaten Klaten tidak hanya sekadar seremonial.

Tapi bagaimana kemudian masyarakat guyub rukun bersama-sama bisa mengadakan bersih desa.

“Kegiatan yang berlangsung dua hari ini ada kegiatan kebudayaannya dan keseniannya dan ada juga toleransi antar umat beragama. Ini luar biasa sekali, mencerminkan bagaimana luhurnya budaya kita. Mencerminkan bagaimana guyubnya warga,” ujar Hamenang.

Hamenang pun mengapresiasi gelaran grebeg suro di Dusun Tanjungsari, Dlimas tersebut.

Dia pun berharap tradisi tersebut bisa digelar secara rutin setiap tahunnya sehingga bisa diwariskan kepada anak cucu maupun generasi penerus.

Sementara itu, salah satu pengunjung grebeg suro di Tanjungsari, Dlimas yakni Eni, 50, asal Kota Semarang.

Dia mengaku setiap tahunnya selalu hadir pada tradisi tersebut. Terlebih lagi, dirinya mempercayai jika menyantap aneka menu kenduri bisa mendapatkan berkah.

“Jadi kalau dimakan itu bisa memberikan kesehatan. Katanya bikin awet muda,” ujar Eni. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #lintas agama #ceper #Grebeg Suro