Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:59 WIB
Keris kecil bertangguh Pengging koleksi Andhi Karsopawiro. (DOK.PRIBADI)
Keris kecil bertangguh Pengging koleksi Andhi Karsopawiro. (DOK.PRIBADI)
 
Oleh: Andhi Karsopawiro*)
 
RADARSOLO.COM - Kenapa dua pekeris bisa melihat keris yang sama, lalu satu memutuskan membawa pulang sementara yang lain memilih lewat begitu saja?
 
Padahal benda yang dilihat persis sama, dengan tangguh dan dhapur yang juga sama. Jawaban atas pertanyaan ini, saya pikir, menyimpan banyak lapisan.
 
Belakangan saya perhatikan, kawan-kawan pekeris kalau ditanya kenapa memilih sebuah keris untuk disimpan, jawabannya bisa sangat berbeda satu sama lain.
 
Baca Juga: Ivar Jenner Tegaskan Siap Jadi Mimpi Buruk buat Persis Solo
 
Ada yang menjawab karena tangguhnya sepuh (tua). Ada yang bilang karena dhapurnya jarang keluar. Ada pula yang sekadar bilang, "entah, saya merasa cocok saja."
 
Tiga jawaban itu sebenarnya mewakili tiga jalur berpikir yang berbeda. Dan saya kira tidak ada yang sepenuhnya keliru.
 
Saya sendiri sedang menanting sebuah keris kecil bertangguh Pengging.
 
Bilahnya tipis, lebih ramping mirip keris Majapahit, namun gonjo kecil, gandik pendek, dengan dhapur Buto Ijo yang langsung terasa karakternya begitu dipegang. 
 
Besinya kelengan, tanpa pamor, dengan warangan lawas dan patina yang sudah menempel lama di permukaan.
 
Handle kayunya berukir motif buto, senada dengan dhapurnya. Sederhana, tapi menyiratkan pesan yang sama.
 
Yang menarik dari keris seperti ini, lebih sulit dibayangkan lewat foto.
 
Baca Juga: Gen Z Harus Tahu! Kilas Balik Krisis Moneter (Krismon) 1998: Runtuhnya Ekonomi Orde Baru dan Lahirnya Era Reformasi
 
Tidak ada pamor yang berkilau menarik mata. Tidak ada dhapur yang langsung membuat orang berdecak.
 
Pesonanya baru terasa setelah dipegang, ditanting, ditimbang, dan diajak duduk berlama-lama.
 
Di sinilah saya merasa ada tiga lapis pertimbangan yang sering saling tarik menarik.
 
Pertama, kelangkaan, yang sifatnya objektif dan bisa diukur lewat catatan tangguh, dhapur, dan ricikan.
 
Kedua, kondisi, yang menentukan apakah keris itu masih bicara jujur tentang masanya, atau sudah banyak campur tangan generasi setelahnya.
 
Ketiga, kecocokan, yang paling sulit dijelaskan tapi paling sering jadi alasan akhir.
 
Banyak pekeris pemula terjebak hanya di lapisan pertama.
 
Mereka mengejar tangguh tua, dhapur langka, tanpa benar-benar memahami apakah keris itu memang bicara kepada mereka.
 
Akhirnya koleksi penuh, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar didekati, tidak pernah ditanting kembali.
 
Keris yang tepat bukan yang paling tua atau paling langka, tapi yang paling jujur akan dirinya dan paling nyaman duduk di tangan ketika ditanting.
 
Baca Juga: Di saat Rupiah Ambruk, Potongan Video Presiden B.J Habibie yang Putuskan Stop Pembuatan Pesawat N250 dan Fokus Pemulihan Ekonomi Viral
 
Keris Pengging kelengan ini contohnya. Dari sisi pasar, keris ini tidak akan menang lawan keris berpamor mewah.
 
Tapi dari sisi karakter, keris ini punya kepadatan tersendiri. Besi yang tenang, dhapur yang tegas, dan jejak waktu yang tidak dibuat-buat.
 
Untuk sebagian pekeris, justru kombinasi seperti inilah yang membuat sebuah keris layak disimpan lama.
 
Saya tidak bilang pendekatan saya yang paling benar. Setiap pekeris punya jalur sendiri, dan itu bagian dari kekayaan dunia perkerisan kita.
 
Tapi saya jadi penasaran, kawan-kawan di sini lebih condong ke jalur yang mana?
 
Apakah kelangkaan yang lebih dulu menarik perhatian, kondisi yang jadi penyaring utama, atau rasa cocok yang akhirnya menentukan?
 
Saya ingin dengar cara pandang kawan-kawan, terutama yang sudah lama mengoleksi.
 
Mungkin ada lapisan keempat yang belum saya sadari. (*)
 
*) Penggiat Pelestarian Tosan Aji
Editor : Tri Wahyu Cahyono
#andhi karsopawiro #alasan mengoleksi keris #kecocokan #langka #keris