Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Tinggalkan FOMO, Anak Muda Kini Mulai Lirik Tren JOMO

Rahma Azra Calista • Selasa, 14 Juli 2026 | 16:07 WIB

 

Ilustrasi Temon mencak-mencak gara-gara istrinya, Sipon terlalu FOMO. (AI GENERATED)
Ilustrasi Temon mencak-mencak gara-gara istrinya, Sipon terlalu FOMO. (AI GENERATED)

 

RADARSOLO.COM – Media sosial tak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga melahirkan berbagai tren yang silih berganti. Unggahan tentang liburan, konser, hingga pencapaian orang lain kerap membuat seseorang merasa takut tertinggal. Kondisi ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Hasil penelitian berjudul “Pengaruh Social Comparison terhadap Fear of Missing Out (FOMO) pada Generasi Z Pengguna Media Sosial di Jawa Tengah” menunjukkan bahwa semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa takut tertinggal.

Sebagian anak muda kini mulai memilih cara pandang yang berbeda. Mereka tidak lagi merasa harus mengikuti setiap tren yang sedang ramai.

Baca Juga: Kenapa Kita Mudah Mengingat Wajah, tetapi Sering Lupa Nama?

Pilihan tersebut dikenal sebagai Joy of Missing Out (JOMO), yaitu menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Maulina Silvi, 22, salah seorang mahasiswi mengaku mulai menerapkan JOMO sekitar satu tahun terakhir setelah merasa lelah terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain di media sosial.

”Yang bikin aku mutusin buat ngurangin media sosial itu karena sering ngerasa capek sendiri. Tiap buka media sosial rasanya selalu ada aja yang dibandingin, mulai dari pencapaian, gaya hidup, sampai kegiatan sehari-hari orang lain. Sekarang aku lebih nyaman menikmati waktu dengan aktivitas yang aku suka tanpa merasa ketinggalan,” ujarnya kepada Radarsolo.com.

Baca Juga: Tujuh Emoji Populer yang Jadi Bahasa Rahasia Gen Z

Silvi mengaku pikirannya menjadi lebih tenang setelah mengurangi penggunaan media sosial. Ia juga lebih fokus menjalani aktivitas sehari-hari dan menikmati waktu bersama keluarga maupun teman.

Achmad Kurnia Bakri, 22, mahasiswa yang aktif berorganisasi, juga pernah mengalami FOMO sejak duduk di bangku SMP karena sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.

Kini, waktu luangnya lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat, jalan-jalan, kuliner, atau mengobrol bersama teman.

Baca Juga: Empat SDN Tanpa Murid Baru di Karanganyar Tiadakan MPLS

”Dulu aku jelas pernah ngerasa FOMO, apalagi kalau lihat teman-teman atau orang yang kita kenal udah punya pencapaian yang lebih baik, entah secara skill maupun materi. Sekarang aku lebih percaya sama proses diri sendiri dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Itu bikin hati lebih tenang dan bahagia,” katanya.

Devi Anisa, 21, mahasiswi yang juga bekerja sambilan, memilih menerapkan JOMO agar lebih fokus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaannya.

Kesibukan tersebut membuatnya sadar bahwa terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial justru mengganggu fokusnya.

Baca Juga: Kenapa Nama Sendiri Terasa Aneh Jika Diucapkan Berkali-kali? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

“Karena kuliah sambil kerja, waktu dan energiku terbatas. Dulu aku sering merasa cemas dan ketinggalan tren saat melihat media sosial teman-teman. Tapi lama-lama aku sadar kalau terus membandingkan hidup sendiri dengan orang lain justru bikin kehilangan fokus sama tanggung jawabku,” ujarnya.

Cara pandang seperti JOMO menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai memaknai media sosial dengan cara yang berbeda. Melewatkan suatu tren bukan lagi dianggap sebagai kerugian, melainkan kesempatan untuk lebih fokus pada diri sendiri dan menikmati kehidupan nyata.

Editor : Adi Pras
#jomo #media sosial #tren #mahasiswi #fomo