Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yakni panca yang berarti lima dan sila yang berarti asas. Jadi Pancasila berarti lima dasar atau lima asas atau lima prinsip. Kelima dasar/asas/prinsip tersebut telah menjadi rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Quatly menjelaskan, Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia bukan terbentuk secara mendadak. Serta bukan hanya diciptakan oleh seorang sebagai mana yang terjadi pada ideologi lain di dunia.
”Dalam implementasinya, Pancasila bukan hanya dijadikan ideologi bagi setiap bangsa Indonesia, bahkan dijadikan ideologi negara. Tetapi setiap perilaku masyarakat maupun pejabat dan jajaran pemerintahan mesti mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila merupakan jati diri dan identitas bangsa,” beber Quatly di hadapan puluhan warga di Sukoharjo, Kamis (17/11).
Quatly menambahkan, pembangunan nasional yang dilakukan dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila akan terhindar dari praktik-praktik korupsi dan ketidakjujuran. Sehingga dapat berdampak pada kesejahteraan warga. Untuk itu, pembangunan dilakukan dengan berpedoman pada norma yang diatur dalam agama. Pembangunan dilaksanakan dengan cara adil dan merata serta memanusiakan manusia.
”Selain itu menjunjung tinggi persatuan bangsa dan tidak saling merugikan. Serta dilaksanakan dengan mempertimbangkan kepentingan orang banyak, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan golongan. Terakhir pembangunan yang bertujuan menyejahterakan sosial,” imbuhnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Haerudin dalam sebuah dialog bertema Pancasila di Era Milenial di Solo menyatakan, secara keseluruhan Jateng sangat kondusif. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul ”virus” yang berseberangan dengan nilai Pancasila. Bahkan ujaran kebencian dalam pemantauan juga mulai menggejala. Perlu antisipasi dari semua pihak.
”Ujaran kebencian dibiarkan dan dipupuk, bisa menjadi masuknya intoleransi, radikalisme sehingga muncul diskriminasi, saling membenci. Ini yang harus dihalau,” tandasnya. (adv-nif) Editor : Damianus Bram