Mengunjungi tempat wisata jadi solusi tepat untuk mengajarkan anak-anak ilmu-ilmu baru. Ke tempat wisata seperti kebun binatang ataupun wahana bermain yang mengandalkan panorama alam tentu bisa jadi keputusan yang tepat untuk dipilih untuk dikunjungi.
Tapi orang tua tetap harus selektif memilih tempat wisata, utamakan yang nyaman dan aman bagi anak-anak. Ini agar momentum kebersamaan keluarga bisa lebih bahagia didapatkan anak-anak selama berwisata.
Tidak banyak tempat wisata yang ramah anak ternyata. Ada sejumlah kriteria yang patut diperhatikan untuk orang tua membawa anak-anaknya berwisata
Pegiat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Sragen Adjie Mursita menyampaikan ada empat kriteria wisata yang ramah anak. Meliputi keamanan, keselamatan, pelayanan, dan kepatuhan. Dia menegaskan empat kriteria yang disebutkan ini juga ditekankan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
”Penyelenggara dan manajemen atraksi wisata harus menjamin keamanan wahana, dengan memberi kenyamanan bagi liburan anak. Harus memperhatikan keselamatan jiwa pengunjung tentunya,” ujar alumni jurusan pariwisata Universitas Udayana Bali ini.
Adjie menjelaskan selain wahana yang aman, akses wisata juga harus aman. Dalam destinasi wisata ramah anak harus ada pelayanan security system berbasis kebutuhan anak.
”Semisal contoh di Sragen yang sudah ramah anak itu ada di Ndayu Park. Di sana ruang bermain anak sangat besar. Anak-anak juga bisa menambah ilmu dengan pengalaman belajar, seperti beternak atau melihat hewan,” ujarnya.
Untuk memenuhi security system di kolam bermainnya, sudah disiapkan penjaga yang mengantisipasi jika ada insiden. Hal tersebut harus diperhatikan oleh pengelola wisata yang ramah anak. ”Security system yang siap, selain Ndayu Park, kalau di Sragen Museum Sangiran, karena tempat berkunjung siswa,” terangnya.
Dia menjelaskan di Museum Sangiran juga telah menjalankan security system dengan menyediakan petugas di beberapa titik. Selain itu ada juga kamera pengawas untuk memantau para pengunjung.
”Jadi orang akan mengurungkan niat jahat sejak awal ketika ada tulisan diawasi kamera, tapi anak-anak tetap tenang mengunjungi museum,” jelasnya.
Di lain sisi, dalam destinasi wisata juga perlu memperhatikan ruang yang sehat untuk anak. Salah satunya membuat kawasan tanpa asap rokok, yakni dengan menyediakan tempat khusus bagi orang dewasa untuk merokok.
”Konsep menyediakan tempat khusus merokok sebenarnya sudah dijalankan di beberapa tempat. Ini jadi bagian dari mendidik kedisiplinan wisatawan juga,” tandasnya.
Adjie menyampaikan di negara tetangga seperti Singapura sudah ada regulasi tegas untuk perokok. Sayangnya di Indonesia banyak pembiaran untuk merokok di tempat yang semestinya dilarang.
”Saya ambil contoh di Thailand juga, disana mengedepankan wisata ramah anak. Jadi harus benar-benar tegas, yakni tidak boleh merokok, termasuk di kawasan hotel,” bebernya.
Dia menyampaikan untuk wisata ramah anak masih berjalan menuju sasaran meski perlahan. Dia mencontohkan untuk ruang publik di Sragen, seperti Alun-alun, sebenarnya sudah ada himbauan dilarang merokok. Namun sayangnya banyak yang mengabaikan karena tidak ada punishment bagi pelanggar.
Adjie menyampaikan pada dasarnya wisata itu untuk semua. Tidak hanya untuk anak-anak juga, namun juga dewasa, bahkan lanjut usia. Namun yang dirasa penting yakni pengelola wisata ramah anak adalah harus menyediakan tempat dengan unsur edukasi.
Contoh tempat wisata buatan yang punya unsur edukasi adalah di Farm House Lembang, Bandung. Selain itu yang dekat eks Karesidenan Surakarta adalah Solo Safari. Kemudian wahana wisata seperti Jatim Park juga masuk rekomendasi. (din/nik) Editor : Damianus Bram