RADARSOLO.COM-PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menegaskan komitmennya untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan resmi ditunjuk sebagai salah satu pengelola bank emas (bullion bank) pertama di Indonesia sejak 26 Februari 2024.
Regional CEO BSI Semarang Ficko Hardowiseto menyatakan, emas akan menjadi komoditas strategis yang terus dikembangkan oleh BSI sebagai game changer dalam industri perbankan syariah.
“Hal ini didasari oleh potensi dan peluang pengembangan alternatif bisnis yang memberikan nilai investasi bagi masyarakat," ujar Ficko dalam acara buka puasa bersama jurnalis di Semarang.
"Penunjukan BSI sebagai entitas pengelola bank emas diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat, industri, dan insyaAllah perekonomian bangsa melalui optimalisasi ekosistem ekonomi syariah,” lanjutnya.
Menurut Ficko, pasar emas Indonesia memiliki potensi yang sangat besar.
Berdasarkan data, konsumsi emas per kapita Indonesia baru mencapai 0,16 gram, paling rendah di Asia Tenggara.
Padahal, kajian McKinsey menyebutkan emas yang beredar di masyarakat Indonesia mencapai 1.800 ton dari hulu ke hilir.
Sebanyak 321 ton berupa perhiasan dan emas batangan tercatat sebagai aset yang dapat dimonetisasi.
Potensi ini masih bisa meningkat, mengingat Indonesia adalah negara dengan cadangan emas nomor enam terbesar di dunia, mencapai 2.600 ton.
Serta produsen emas global top 10 dengan produksi sekitar 100 ton pada 2020.
“Melalui bank emas, BSI bisa menangkap nilai ekonomi dari seluruh rantai pasok emas, memonetisasi aset yang selama ini tidak produktif, serta memberikan alternatif investasi syariah yang aman dan mudah,” jelas Ficko.
Baca Juga: BSI Tingkatkan Santunan Ramadhan 2025, 4.444 Anak Yatim Terima Manfaat
Ficko menambahkan, inisiatif ini juga merupakan bagian dari misi BSI untuk mendukung program pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai lokomotif ekonomi syariah dunia.
Termasuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai 8% pada tahun 2029.
“Bisnis bank emas memberikan nilai tambah signifikan. Hilirisasi logam mulia bahkan bisa meningkatkan nilai bijih emas hingga 10 kali lipat,” ujarnya.
BSI menjadi pelopor layanan bank emas di Indonesia, menawarkan produk unggulan seperti BSI Gold Karatase 99,99% SNI dengan sertifikat MUI, serta didukung oleh jaringan BSI Agen yang mencapai 110.000 di seluruh Indonesia.
Layanan bank emas BSI juga dapat diakses melalui BYOND by BSI, aplikasi super yang memudahkan transaksi digital berbasis syariah.
Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis emas BSI mencatat pertumbuhan signifikan melalui produk Gadai Emas, Cicil Emas, Tabungan E-Mas, dan BSI Gold. Pada 2024, baki debet tumbuh 78% dari Rp6,9 triliun menjadi Rp7,1 triliun secara tahunan.
Menghadapi 2025, BSI akan fokus mengembangkan dua lini utama bisnis bank emas, yaitu:
- Penitipan Emas
- Perdagangan Emas
Dengan tiga layanan utama:
- BSI Emas Digital: jual beli dan titip emas melalui BYOND by BSI
- BSI Gold: pembelian emas fisik tunai atau cicil dengan harga terjangkau
- BSI ATM Emas: cetak emas secara mandiri di pusat dan cabang BSI (pertama di Indonesia)
“BSI juga akan memiliki 50 unit ATM Emas yang akan memperkuat layanan bank emas kami,” kata Ficko.
Didukung oleh 21 juta nasabah, 8 juta pengguna BYOND, 1.130 kantor cabang, dan lebih dari 600 tenaga profesional penaksir emas, BSI optimistis bank emas akan menjadi penggerak utama ekosistem ekonomi syariah nasional. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono