Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo Gaya hidup

Viral Pendakian Gunung Merapi Ramai Pendaki Ilegal saat Status Siaga, Netizen: Kalau Ada Apa-Apa Siapa Tanggung Jawab?

Syahaamah Fikria • Senin, 6 Juli 2026 | 20:11 WIB
Kondisi jalur pendakian Gunung Merapi yang ramai. (TikTok kykhnkauld2)
Kondisi jalur pendakian Gunung Merapi yang ramai. (TikTok kykhnkauld2)

 

RADARSOLO.COM — Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh beredarnya rekaman video dan foto yang memperlihatkan ramaianya para pendaki di jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo, Boyolali. 

Aktivitas pendakian ini mendadak ramai dan memicu perdebatan panas lantaran status vulkanik salah satu gunung api paling aktif di Indonesia tersebut saat ini masih berada di level Siaga.

Berdasarkan penelusuran di platform TikTok dan Threads pada Senin (6/7/2026), membeludaknya aktivitas pendakian di lokasi tersebut dipicu oleh langkah sekelompok warga setempat yang nekat membuka kembali pendakian secara sepihak dan mandiri. 

Baca Juga: Merapi Kembali Bergejolak! Dua Awan Panas Guguran Meluncur hingga 2 Kilometer, Pagi Ini

Aksi ini dilakukan tanpa mengantongi izin resmi maupun dukungan dari pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM).

Langkah tersebut langsung memanen sorotan tajam dan kritik keras dari publik yang menyayangkan rendahnya kesadaran akan keselamatan jiwa.

Pro Kontra Netizen: "Kalau Ada Apa-Apa, Taman Nasional yang Disalahkan"

Kegaduhan ini bermula saat salah satu akun di media sosial Threads mengunggah rasa syukur atas dibukanya kembali jalur pendakian Merapi oleh warga setelah setahun berjuang, meskipun legalitasnya ditolak otoritas terkait.

Baca Juga: Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran, Masyarakat Diminta Jauhi Zona Bahaya

"Alhamdulillah setelah perjuangan kurang lebih 1 tahun, semua membuahkan hasil. Pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo yang dibuka secara mandiri oleh warga. Dan tanpa dukungan TN (Taman Nasional). Tapi semoga tetap mandali (aman terkendali), jaga alam jaga adab," tulis salah satu akun Threads.

Sontak, unggahan tersebut langsung diserbu komentar pedas dari netizen lain yang menilai tindakan tersebut sangat egois dan tidak rasional.

 

"Nggak ada kata alhamdulillah mbak, itu gunung masih batuk-batuk. Kalau ada apa-apa juga pasti TN yang disalahkan," kritik akun @geg*****.

Netizen lain juga menambahkan bahwa penutupan oleh pemerintah semata-mata demi keselamatan. 

"TN gak memberi dukungan itu karena kondisinya masih bahaya. Sudah dikasih imbauan malah dicobain. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, nyalahin petugas lagi," timpal akun @yuu*****.

Baca Juga: Pemkot Solo Siapkan Kebijakan Acara Resmi, MC Diminta Berbusana Sesuai Jenis Kelamin

Mirisnya, sebagian oknum pendaki justru bersikap abai dan menantang bahaya. 

Saat diingatkan mengenai maklumat resmi dari Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY yang melarang keras aktivitas di lingkar Merapi, salah satu oknum dengan enteng menjawab, "Nggak peduli gue."

Respons Kepala BTNGM: Karakter Pendaki Tidak Rasional

Menanggapi situasi yang kian tidak terkendali di lapangan, Kepala BTNGM Heri Wibowo angkat bicara. 

Baca Juga: Pengakuan Pengadu yang Dikirimi Video Tak Senonoh dari Camat di Boyolali, Isinya Bikin Ngelus Dada: Benarkah Salah Kirim?

Pihaknya sangat menyayangkan sikap keras kepala dari para pendaki dan oknum warga yang terkesan meremehkan potensi bencana katastrofe Merapi.

"Imbauan resmi dari Taman Nasional, BPPTKG, imbauan Sultan (Gubernur DIY), hingga imbauan Kepala BNPB sama sekali tidak mereka hiraukan," sesal Heri.

 

Heri memaparkan, secara teknis institusinya bersama aparat TNI dan Polri memiliki kekuatan penuh untuk menutup paksa dan memblokade jalur pendakian Selo. 

Namun, opsi tersebut sengaja tidak langsung diambil sebagai langkah jangka pendek guna menghindari terjadinya gesekan atau benturan horizontal dengan warga lokal yang bisa memicu kegaduhan baru.

Sebagai langkah antisipasi yang persuasif, pihak BTNGM saat ini memilih menahan diri dan mengedepankan pendekatan emosional. 

Baca Juga: Sekolah Mangkrak di Sragen akan Dimanfaatkan untuk Pengembangan Tenis Meja

Otoritas taman nasional menjadwalkan pertemuan tertutup dengan tokoh masyarakat dan warga Selo dalam waktu dekat untuk menyamakan persepsi mengenai bahaya aktivitas di kawasan rawan bencana (KRB).

Meski jalur tersebut diklaim sepihak telah dibuka oleh warga, Heri menegaskan personel Resor BTNGM tetap disiagakan penuh di kantor resor Selo. 

Petugas terus berupaya mencegat dan memberikan edukasi di pos bawah agar para pelancong membatalkan niatnya naik ke atas.

"Kami sementara menahan diri sambil terus melakukan pendekatan ke warga. Ternyata karakter sebagian pendaki kita ini juga tidak rasional (nekad), sehingga sangat sulit untuk dilarang naik," pungkas Heri.

Editor : Syahaamah Fikria
#viral #pendakian gunung merapi #btngm #gunung merapi #pendaki ilegal