Oleh: Misbakhul Munir, S.Pd., Pengajar SD Al Azhar Syifa Budi Solo
INDONESIA merupakan negara yang terbuka, sehingga bahasa asing pun diiajarkan secara resmi dalam sistem pendidikan nasional.
Belajar bahasa asing itu merupakan sesuatu yang penting, apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini.
Tetapi yang perlu diingat bahwa tidak semua bahasa asing itu bobotnya sama.
Bahasa Inggris merupakan bahasa dengan paling banyak penuturnya, sekira 1,5 miliar jiwa.
Baca Juga: Speaking, Confidence, dan Growth Mindset di Ruang Social Gathering
Diikuti bahasa Mandarin dengan penutur sekira 1,2 miliar jiwa, kemudian bahasa Hindi dan bahasa Spanyol.
Kelebihan bahasa Inggris adalah penuturnya tersebar di lima benua dan puluhan negara, sehingga tidak terfokus di wilayah atau negara tertentu saja.
Tentu saja hal ini lumrah, karena penyebaran bahasa Inggris juga seiring dengan sejarah kolonialisme Kerajaan Inggris selama berabad-abad.
Baca Juga: Social Gathering, Ruang Meaningful Learning Dalam Pembelajaran Speaking Bahasa Inggris
Dilanjutkan dengan meningkatnya pengaruh Amerika Serikat di panggung dunia setelah perang dunia kedua.
Fokus pemilihan bahasa asing itu haruslah strategis. Kalau kita sudah memastikan ada permintaan pasar atau peluang, maka barulah bahasa asing itu diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.
Faktanya, bahasa Inggris merupakan bahasa paling strategis untuk diajarkan karena banyak mitra dagang Indonesia adalah negara yang warganya merupakan penutur bahasa Inggris sampai tahan tertentu.
Termasuk banyak sekali negara tujuan pekerja migran Indonesia yang merupakan penutur bahasa Inggris.
Berdasarkan laporan EF English Proficiency Index (EF EPI) di 2025, Indonesia berada di peringkat ke-80 secara global dari 123 negara, yang mengategorikan kemampuan bahasa Inggris nasional ke dalam tingkat rendah dengan skor 471.
Pendidikan Bahasa Inggris secara umum memiliki manfaat dan nilai strategis yang paling tinggi dibandingkan dengan bahasa asing lain.
Baca Juga: Energi Masa Depan Indonesia: Tantangan Geopolitik Global Serta Agenda Riset Perguruan Tinggi
Ketika seorang angkatan kerja atau lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, maka hal tersebut menjadi nilai lebih karena bisa masuk ke pasar internaisonal dengan lebih mudah.
Sebagai contoh, Filipina adalah salah satu negara yang berhasil memanfaatkan bahasa Inggris sebagai nilai tambah.
Mereka mengekspor tenaga kerja dalam berbagai bidang ke luar negeri, seperti guru, perawat, dan sebagainya ke penjuru dunia.
Mereka menjadi pahlawan devisa bagi negaranya, karena meningkatkan eknomi Filipina dengan mengirim uang dari negara lain yang memiliki nilai tukar dan ekonomi yang lebih kuat daripada Filipina.
Baca Juga: Menjaga Cahaya Ramadan: Ikhtiar Mempertahankan Kesalehan Pasca Ramadan
Daripada mengajarkan bahasa baru di sekolah-sekolah di Indonesia seperti bahasa Perancis dan Portugis, sebagaimana wacana dalam pidato yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ada baiknya fokus meningkatkan kompetensi guru Bahasa Inggris.
Kompetensi guru bahasa Inggris minimal ditingkatkan hingga level B2. Selain itu, bisa juga menambah jumlah guru bahasa Inggris, karena masih banyak sekolah yang belum memiliki.
Perlu diingat, Indonesia saat ini kekurangan lebih dari 90.000 guru bahasa Inggris. Bagaimana mungkin para siswa bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik, apabila pengajarnya ternyata belum menguasai dengan baik.
Kekurangan tenaga pendidik yang kompeten ini memiliki efek langsung terhadap kualitas pendidikan secara nasional, termasuk kualitas lulusannya.
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, maka kita akan memiliki kesempatan global yang lebih baik. Termasuk mendapatkan akses ke dunia internasional yang lebih luas. (*)
Editor : fery ardi susanto