Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Etika Publikasi Artikel Ilmiah: Penulis Profesional Dimulai dari Sikap

fery ardi susanto • Rabu, 1 Juli 2026 | 07:10 WIB
Dosen dan Kabid Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran UMS Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. (Dok. Pribadi)
Dosen dan Kabid Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran UMS Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. (Dok. Pribadi)

Oleh: Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd., Dosen dan Kabid Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran UMS

RADARSOLO.COM - Publikai ilmiah bukan sekadar tentang artikel yang diterima, tetapi bagaimana penulis menghargai proses ilmiah.

Dalam beberapa tahun terakhir, tuntutan publikasi ilmiah semakin tinggi.

Dosen membutuhkan publikasi untuk kenaikan jabatan akademik, mahasiswa untuk kelulusan, dan peneliti untuk memenuhi target keluaran penelitian. 

Di tengah tuntutan tersebut, sering kali perhatian hanya tertuju pada hasil akhir: artikel harus segera terbit.

Baca Juga: Menjadi Guru Yang Selalu Dirindukan Murid

Padahal, publikasi ilmiah merupakan proses akademik yang dibangun atas kepercayaan, integritas, dan etika. 

Tidak sedikit editor jurnal menghadapi berbagai persoalan yang sebenarnya dapat dihindari apabila penulis memahami etika publikasi.

Mulai dari mengabaikan Author Guidelines, meminta jalur percepatan penerbitan (fast track) tanpa mekanisme resmi, hingga menyampaikan konfirmasi dengan bahasa kurang santun.

Baca Juga: Local Indigenous Knowledge: Ketika Pengetahuan Lokal Masuk ke Sistem Teknologi Cerdas

Menjadi penulis yang baik bukan melalui kualitas naskah, tetapi juga sikap profesional selama proses publikasi.

Kesalahan paling umum yang dilakukan penulis adalah mengirimkan artikel tanpa membaca Author Guidelines secara cermat.

Akibatnya, artikel tidak sesuai template, jumlah kata, gaya sitasi, struktur naskah, maupun ketentuan etika yang ditetapkan jurnal.

Padahal, Author Guidelines merupakan "kontrak awal" antara penulis dan jurnal. Dokumen tersebut menjelaskan ruang lingkup jurnal, format penulisan, persyaratan administrasi, hingga kebijakan publikasi.

Melalui panduan tersebut, penulis membantu editor dan reviewer bekerja lebih efisien. Sehingga proses evaluasi dapat berlangsung lebih cepat.

Sebaliknya, naskah yang tidak sesuai pedoman sering kali harus dikembalikan kepada penulis sebelum memasuki tahap telaah ilmiah. Hal ini justru memperpanjang waktu publikasi.

Mengikuti Author Guidelines bukan berarti sekadar mengganti format margin atau ukuran huruf. Kepatuhan terhadap pedoman menunjukkan bahwa penulis menghargai standar akademik yang telah ditetapkan jurnal.

Editor menangani puluhan bahkan ratusan naskah setiap bulan.

Baca Juga: Melemahnya Kurs Rupiah: Gejala Teknis atau Fundamental?

Ketika penulis mengirim artikel yang telah disiapkan sesuai pedoman, editor dapat lebih fokus menilai substansi ilmiahnya daripada memperbaiki persoalan teknis yang seharusnya menjadi tanggung jawab penulis. 

Profesionalisme penulis tercermin sejak proses pengiriman naskah, bukan hanya ketika artikel telah diterbitkan.

Pertanyaan seperti: "Kapan artikel saya diterbitkan?" atau "Mohon dipercepat karena saya membutuhkan untuk syarat sidang.", paling sering diterima editor.

Keinginan tersebut dapat dipahami. Namun, penulis juga perlu memahami bahwa proses publikasi ilmiah melibatkan banyak pihak.

Mulai dari editor, reviewer, copy editor, proofreader, hingga tim produksi.

Sebagian besar reviewer bekerja sukarela di sela-sela aktivitas akademiknya. Maka waktu publikasi tidak semata-mata bergantung pada editor.

Bahkan jurnal bereputasi pun memerlukan waktu beberapa bulan, hingga lebih dari satu tahun sejak pengiriman naskah sampai artikel diterbitkan.

Apabila jurnal menyediakan layanan fast track, mekanisme tersebut biasanya dijelaskan secara terbuka dalam kebijakan jurnal.

Di luar mekanisme resmi tersebut, meminta percepatan secara personal kepada editor bukanlah praktik yang etis.

Baca Juga: AI Bukan Pengganti Guru, Melainkan Teman Baru di Ruang Kelas

Karena dapat mengganggu independensi proses editorial dan berpotensi menimbulkan kesan perlakuan yang tidak adil bagi penulis lain.

Komunikasi dengan editor merupakan bagian dari etika akademik. Apabila penulis ingin mengetahui perkembangan naskah, lakukan konfirmasi secara wajar.

Misalnya setelah melewati estimasi waktu yang diinformasikan jurnal, atau ketika status naskah tidak berubah dalam waktu yang cukup lama. Sampaikan pertanyaan secara sopan, singkat, dan profesional.

Misalnya: “Yth. Editor, Semoga Bapak/Ibu dalam keadaan sehat. Saya ingin menanyakan perkembangan proses penelaahan naskah saya yang berjudul '...’, yang telah saya kirimkan pada tanggal ... Saya memahami bahwa proses penelaahan membutuhkan waktu serta melibatkan editor dan para reviewer. Oleh karena itu, saya hanya ingin memperoleh informasi mengenai status naskah tersebut. Atas perhatian dan waktu yang Bapak/Ibu berikan, saya mengucapkan terima kasih”.

Sebaliknya, penggunaan kalimat bernada mendesak atau menyalahkan editor, seperti: “Mengapa artikel saya belum diterbitkan?" dan "Saya membutuhkan artikel ini minggu depan, mohon segera diterbitkan.”, tidak mencerminkan etika komunikasi akademik. Menghargai editor berarti juga menghargai proses ilmiah.

Artikel ilmiah yang diterbitkan merupakan hasil kerja bersama antara penulis, editor, reviewer, dan pengelola jurnal.

Keberhasilan publikasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas penelitian, tetapi juga komitmen seluruh pihak untuk menjaga integritas proses akademik.

Ketika penulis membaca pedoman jurnal, mengikuti ketentuan yang berlaku, bersabar menjalani proses telaah, serta berkomunikasi dengan santun, sesungguhnya telah berkontribusi membangun budaya publikasi yang sehat.

Baca Juga: Bahasa Inggris, Pentingkah?

Budaya publikasi yang berkualitas tidak dibangun hanya melalui artikel yang baik, tetapi juga perilaku akademik yang beretika.

Membaca Author Guidelines, mematuhi ketentuan jurnal, tidak meminta perlakuan khusus di luar mekanisme resmi, serta menjaga kesantunan dalam berkomunikasi merupakan bentuk penghormatan terhadap proses ilmiah.

Pada akhirnya, menjadi penulis profesional bukan hanya tentang seberapa banyak artikel yang diterbitkan, melainkan bagaimana kita menjaga integritas, etika, dan rasa saling menghargai dalam ekosistem publikasi ilmiah. (*)

Editor : fery ardi susanto
#penulis profesional #Artikel Ilmiah #opini dosen ums #ums bicara #UMS