Saat Kesalehan Menjadi Kamuflase Kerakusan: Hembusan Waswas yang Tak Mampu Dikenali

fery ardi susanto • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:05 WIB
Dedi Ary Prasetyo, S.T., M.Eng., Dosen dan Staf Pengajar Prodi Teknik Elektro UMS. (Dok. Pribadi)
Dedi Ary Prasetyo, S.T., M.Eng., Dosen dan Staf Pengajar Prodi Teknik Elektro UMS. (Dok. Pribadi)

Oleh: Dedi Ary Prasetyo, S.T., M.Eng., Dosen dan Staf Pengajar Prodi Teknik Elektro UMS

RADARSOLO.COM - Bagi seorang peternak berpengalaman, ada pemandangan yang sekilas terlihat makmur, namun menyimpan ancaman kematian yang sangat cepat: padang rumput hijau yang terlalu subur.

Ketika ternak ruminansia seperti sapi atau kambing dilepas di sana, insting hewanimnya akan mendorong untuk terus mengunyah tanpa henti. 

Ketidakmampuan hewan dalam membatasi diri, memicu kondisi medis fatal yang disebut bloat (kembung akut) atau asidosis.

Bakteri di lambung memfermentasi makanan terlalu cepat, menghasilkan gas raksasa yang tidak bisa dikeluarkan. 

Baca Juga: Proyek Strategis Nasional dan Kelas Baru Kaum Tergusur

Lambung akhirnya membengkak ekstrem. Menekan organ jantung serta paru-paru, hingga mati lemas hanya dalam hitungan jam.

Anatomi manusia memang tidak memiliki rumen atau lambung jamak seperti sapi. Namun secara spiritual dan mental, manusia modern sedang mengalami tragedi "mati kembung" yang sama persis.

Kita sedang hidup di era di mana padang rumput duniawi —berupa harta, takhta, dan kemewahan— terbentang luas dan manis. Sayangnya, banyak manusia kehilangan "rem" dalam dirinya.

Sehingga terus mengonsumsi dunia melampaui kapasitas jiwanya. 

Akibatnya, muncul ledakan penyakit fisik akibat gaya hidup hedonistik, yang berbarengan dengan pembengkakan ego serta gangguan mental. Seperti kecemasan kronis akibat ketidakpastian masa depan.

Di era modern sekarang ini, sifat rakus (greed) bermutasi menjadi sesuatu yang sangat halus, canggih, dan sulit dideteksi karena tidak lagi berwujud kikir yang nyata.

Kerakusan zaman sekarang berhasil melakukan spiritual camouflage atau kamuflase spiritual. Ia bersembunyi dengan rapi di balik "baju kesalehan".

Kita kerap melihat orang-orang yang secara lahiriah rajin beribadah. Namun di saat yang sama, mereka memiliki ambisi tanpa batas untuk menguasai semua lini bisnis, memonopoli kesempatan, dan menghalalkan segala cara dalam kompetisi horizontal yang tidak sehat.

Di sinilah setan bekerja dengan sangat lihai, melalui hembusan waswas yang disesuaikan dengan titik kerentanan psikologis korbannya. Setan tidak akan membisiki orang yang taat ibadah untuk mengonsumsi makanan haram secara langsung.

Setan akan membisiki ego mereka dengan narasi yang terdengar sangat suci: "Ambil semua proyek ini, kuasai pasar ini, karena jika kamu kaya, kamu bisa membangun lebih banyak masjid dan membantu lebih banyak orang".

Baca Juga: AI Semakin Cerdas, Anak Indonesia Harus Semakin Beradab

Kalimat mulia ini tanpa disadari berubah jadi tameng psikologis, agar manusia terhindar dari rasa bersalah.

Mereka merasa sedang fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), padahal sedang terjebak dalam fastabiqul mal (berlomba menumpuk harta) demi memuaskan dahaga ego yang tidak pernah merasa cukup.

Dampak paling mengerikan dari kamuflase spiritual ini, adalah matinya sifat qona'ah (merasa cukup) secara hakiki.

Di tengah limpahan informasi keagamaan hari ini, qona'ah sering kali hanya berakhir sebagai sebuah komoditas pengetahuan yang berhenti di kepala.

Kita sangat hafal definisinya, mampu mendiskusikannya dengan indah, tetapi tindakan kita menunjukkan hal yang sebaliknya.

Manusia modern mengalami disfungsi "reseptor rasa kenyang" di dalam hatinya, sehingga berapa pun angka yang tertera di dalam rekening tabungannya, jiwanya tetap merasa kelaparan dan dihantui ketakutan akan kekurangan (scarcity mentality).

Menyelamatkan manusia dari penyakit "kembung spiritual" ini, Allah SWT telah memberikan sebuah fasilitas detoksifikasi yang sangat luar biasa, yaitu salat lima waktu. Salat sejatinya berfungsi seperti jangkar yang dilemparkan kapal di tengah amukan badai laut duniawi.

Salat yang khusyuk bukanlah monolog yang sepi, melainkan dialog interaktif yang hidup antara seorang hamba dengan Penciptanya. 

Sayangnya, manusia terlanjur larut dan mabuk dengan kesibukan dunianya. Sehingga kerap melakukan salat dengan tergesa-gesa, hanya demi menggugurkan kewajiban. 

Salat tak lagi dianggap tempat peristirahatan dari kepenatan dunia, melainkan interupsi yang mengganggu produktivitas kerja. Ketika salat dilakukan tanpa tumaninah dan tanpa kesadaran, fungsi detoksifikasinya hilang sama sekali.

Baca Juga: Zona Kuliner Halal

Kita masuk salat dengan setumpuk stres serta ambisi, dan keluar membawa beban keserakahan yang sama.

Tanpa adanya proses pembersihan berkala ini, lambung spiritual manusia akan terus meregang hingga batas maksimal dan tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kekhusyukan dalam salat bukanlah kondisi instan yang datang dengan sendirinya. Melainkan sebuah keterampilan spiritual yang harus terus diusahakan dan dilatih setiap hari.

Khusyuk adalah sebuah perjuangan tanpa henti, untuk terus menarik kembali hati kita yang hanyut setiap kali bisikan waswas duniawi datang menyerang di tengah-tengah rakaat.

Melalui salat yang khusyuk, manusia perlahan melatih "otot menahan diri". 

Dari ketenangan sujud itu, akan lahir keberanian spiritual yang sangat langka di era modern: sebuah keberanian untuk berkata "cukup", kemampuan mengerem ambisi ego, serta kelapangan hati melangkah mundur dan melepas sebuah pintu rezeki yang terbuka lebar, demi memberikan kesempatan saudaranya yang lain untuk tumbuh.

Hanya dengan menjaga kualitas jangkar salat inilah, kita dapat mendeteksi hembusan waswas yang licik, melepaskan baju kesalehan palsu, dan selamat dari nasib tragis makhluk yang binasa karena kerakusannya sendiri. Wallahu a'lam bish-shawab. (*)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
opini dosen ums ums bicara kerasukan saleh universitas muhammadiyah surakarta