Ketika Amanah Haji Dipertaruhkan pada Sebuah Seleksi

fery ardi susanto • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 06:30 WIB
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng. (Dok. Pribadi)
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng. (Dok. Pribadi)

Oleh: Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng., Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

SETIAP tahun jutaan umat Islam Indonesia menanti kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Bagi sebagian besar jamaah, perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi puncak dari penantian panjang, persiapan finansial, kesiapan fisik, dan harapan spiritual. 

Karena itu, penyelenggaraan haji harus menghadirkan pelayanan terbaik agar jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan tenang.

Namun, keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas, transportasi, akomodasi, atau sistem pelayanan. 

Ada faktor manusia yang memiliki peran sangat besar, yaitu para petugas haji.

Baca Juga: Merebut Kembali Intimasi Belajar di Ruang Kelas

Mereka adalah orang-orang yang berada paling dekat dengan jamaah ketika menghadapi berbagai situasi. Mulai dari kebutuhan administrasi, pendampingan ibadah, persoalan kesehatan, hingga kondisi darurat.

Menjadi petugas haji bukan sekadar memperoleh sebuah penugasan.

Di dalamnya terdapat amanah besar karena mereka melayani tamu Allah SWT. Seorang petugas haji membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Ia membutuhkan kesabaran, empati, komunikasi yang baik, dan integritas dalam menjalankan tanggung jawab.

Karena itu, proses memilih petugas haji menjadi bagian yang sangat penting. Sebab kualitas pelayanan jamaah sangat dipengaruhi kualitas manusia yang berada di balik pelayanan tersebut.

Dalam memilih orang yang akan mengemban amanah besar, proses seleksi menjadi tahap yang tidak dapat dianggap sederhana.

Seleksi bukan hanya mencari siapa yang memiliki kemampuan terbaik, tetapi memastikan bahwa setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk menunjukkan kompetensinya.

Transformasi seleksi petugas haji melalui sistem Computer Assisted Test (CAT) dengan melibatkan institusi profesional, seperti Badan Kepegawaian Negara (BKN) menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola penyelenggaraan haji.

Sistem berbasis komputer memungkinkan proses seleksi dilakukan dengan standar yang sama, hasil dapat diketahui lebih cepat, dan mekanisme penilaian dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Ketika Titik Api Terlihat, Pencegahan Jangan Terlambat

Perubahan ini menunjukkan bahwa pelayanan haji semakin diarahkan pada prinsip profesionalisme dan transparansi.

Kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan haji tidak hanya dibangun melalui hasil pelayanan, tetapi juga melalui proses bagaimana orang-orang yang memberikan pelayanan tersebut dipilih.

Seleksi yang baik bukan berarti hanya menghasilkan peserta dengan nilai tinggi, tetapi memastikan bahwa mereka yang terpilih adalah orang-orang yang memiliki kemampuan, sekaligus kesiapan moral untuk menjalankan amanah pelayanan jamaah.

Sebuah amanah besar harus dimulai dari proses yang benar.

Karena itu, integritas dalam seleksi petugas haji bukan hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari bagaimana seluruh proses dijalankan.

Aturan seleksi yang ketat, seperti larangan membawa telepon genggam ke ruang ujian, penyimpanan barang di loker, serta pembatasan perlengkapan yang dibawa peserta, merupakan bagian dari upaya menjaga kesetaraan seluruh peserta.

Setiap orang harus berada dalam kondisi yang sama, sehingga hasil seleksi benar-benar mencerminkan kemampuan masing-masing.

Dalam perspektif pelayanan publik, proses yang transparan akan melahirkan kepercayaan.

Masyarakat perlu melihat bahwa amanah pelayanan jamaah diberikan melalui mekanisme yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh, nilai integritas dalam seleksi juga menjadi cerminan karakter seseorang yang akan menjalankan tugas di Tanah Suci.

Baca Juga: Kedaulatan Digital dan Toleransi

Seseorang yang terbiasa menghargai aturan sejak proses seleksi, akan lebih siap menjaga amanah ketika berhadapan langsung dengan jamaah.

Seleksi petugas haji pada akhirnya bukan hanya persoalan mendapatkan orang yang mampu mengerjakan tugas administratif.

Lebih dari itu, seleksi ini adalah bagian dari upaya menyiapkan manusia yang akan melayani jamaah dengan hati.

Jamaah haji Indonesia memiliki karakter yang beragam. Ada jamaah lanjut usia, jamaah dengan keterbatasan kesehatan, serta jamaah yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Kondisi tersebut membutuhkan petugas yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian dan kepekaan sosial.

Reformasi seleksi petugas haji melalui sistem yang lebih profesional, merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kemuliaan pelayanan haji.

Teknologi dan sistem yang baik harus berjalan bersama dengan nilai amanah dan akhlak pelayanan.

Ketika amanah haji dipertaruhkan pada sebuah seleksi, maka yang dicari bukan hanya orang yang mampu bekerja, tetapi orang yang mampu mengabdi.

Sebab perjalanan menuju Baitullah membutuhkan sistem yang kuat, serta manusia yang memiliki komitmen untuk melayani dengan tulus. (*)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
tanah suci opini dosen ums ums bicara Haji Mabrur Seleksi Petugas Haji