RADARSOLO.COM - Perundungan atau bullying bisa terjadi pada anak usia dini. Bahkan tak hanya menjadi sasaran perundungan saja, tetapi juga bisa menjadi pelaku. Hal ini jelas wajib disiasati.
Bullying tentunya bisa memberikan dampak yang bisa mengakibatkan pemikiran dan mental anak menjadi terganggu. Begitu juga dampak negatif lainnya.
Pemerhati pendidikan anak usia dini (PAUD) asal Klaten Dwi Kurniasih mengungkapkan, perundungan adalah perilaku yang dimunculkan oleh seseorang untuk membuat orang lain tidak nyaman.
Baik secara fisik maupun mental, sehingga membatasi anak dalam ruang gerak sehingga mengganggu pikiran juga.
“Masak sih di anak usia dini ada perundungan? Padahal mereka lagi lucu-lucunya, artinya natural. Sebetulnya kalau kita lihat anak usia dini itu peniru ulung, perekam cepat, dan penjelajah sejati. Ini tiga poin ada di mereka (anak usia dini, Red),” jelasnya.
Perempuan yang akrab dipanggil Nunik ini mengungkapkan, ketika sampai terjadi perundungan di anak usia dini karena mereka memiliki tiga hal (peniru ulung, perekam cepat dan penjelajah sejati) itu.
Terutama apa yang terjadi di sekitar lingkungan pertemanannya, tetapi dia menegaskan ketiga hal itu tidak salah.
Nunik tidak setuju terkait hal yang dilakukan anak usia dini yang mengarah pada perundungan karena kesengajaan.
Anak-anak memiliki sifat perekam yang cepat pada apa yang dilihat di lingkungannya, sehingga dia akan ikut melakukan hal tersebut.
Maka dari itu, hal tersebut perlu dicermati oleh berbagai pihak. Baik positif atau negatifnya.
“Ketika terjadi perundungan pada anak usia dini, sebentar-sebentar itu yang seperti apa. Berangkat dari mana, bagaimana dengan situasi keluarganya. Utamanya sebetulnya ada di keluarga karena mereka sebagai pendidik utama anak,” ujar Nunik.
Nunik mengungkapkan, bahwa dalam keluarga juga sering kali ada perundungan pada anak usia dini.
Ada pun bentuknya seperti orang tua memaksa kehendak kepada anaknya dalam segala hal. Maka itu perlu menjadi perhatian bersama karena anak usia dini masih dalam proses memahami maksud dari orang tuanya.
Di sisi lain, anak usia dini juga masih dalam proses memahami dari perundungan itu sendiri. Maka itu perlu membangun komunikasi secara intensif dengan anak sehingga merasa didengarkan dan dimengerti sehingga menumbuhkan rasa percaya diri, aman dan nyaman.
“Biasanya kalau di sekolah yang menjadi sasaran perundungan adalah anak-anak yang pendiam. Mereka anak-anak yang tidak berani berontak. Termasuk anak-anak yang menarik diri dan tidak suka bermain bersama,” ujar Nunik.
Nunik pun menyarankan kepada orang tua untuk melatih anak terkait resiliensi, peka terhadap segala sesuatu, dan berani mengungkapkan.
Sedangkan untuk memberikan pemahaman terkait perundungan pada anak usia dini tidak menggunakan bahasa larangan. Tetapi melalui pendekatan dengan mengajaknya berbicara secara face-to-face.
“Bisa juga dipisahkan dari kelompoknya terlebih dahulu untuk diajak bicara. Apabila dibutuhkan saksi baru dipanggil. Bisa juga mengembalikan kepada anaknya (pelaku perundungan), jika hal itu dilakukan kepadanya seperti apa yang dirasakan,” ujarnya.
Dalam menyelesaikan dan memberikan pemahaman terkait perundungan, tidak hanya memberitahukan bahwa perbuatan yang dilakukan tidak baik.
Harus diikutsertakan dalam pembicaraan terkait pendapat dan perasaannya juga, termasuk dengan menggugah empatinya.
“Kalau misalnya berulang (melakukan perundungan), kita harus cari tahu. Apakah anak ini sedang ada masalah atau tidak. Kalau ada perubahan perilaku berarti sudah bisa memahami," ujar Nunik.
Jika tidak sampai berubah-ubah, maka kita tarik ke keluarganya. Memberikan pemahaman kepada orang tuanya apa yang harus dilakukan di rumah,” pungkasnya. (ren/nik)
Editor : Damianus Bram