RADARSOLO.COM – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ajaran Islam harus selalu disampaikan dengan semangat cinta dan kasih sayang, bukan kebencian.
Dalam tausiyah bertajuk Ngaji Sore Ramadhan Ceria Penuh Cinta yang dihadiri ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di Masjid Ibadurrahman Universitas Islam Negeri (UIN) Surakarta, Menag mengajak seluruh sivitas akademika untuk memahami Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semua.
“Jika agama diajarkan dengan penuh cinta, maka akan melahirkan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis. Sebaliknya, jika agama disampaikan dengan kebencian, maka dampaknya bisa berbahaya bagi persatuan bangsa,” ujar Nasaruddin.
Menag juga menyoroti bagaimana esensi ajaran Islam bisa dirangkum dalam konsep cinta, dengan menjelaskan bahwa dari 6236 ayat dalam Alquran. Intisarinya dapat dipadatkan menjadi Surat Al-Ikhlas, lalu menjadi ayat pertama dalam Al-Fatihah, hingga akhirnya bermuara pada kata "Rokhima" yang berarti cinta.
“Agama seharusnya menjadi perekat, bukan alat pemecah belah,” ujar Nasarudin.
Menag menekankan bahwa setiap ajaran agama harus membawa pesan damai dan membangun kesetaraan, bukan mengajarkan kebencian atau membeda-bedakan kelompok.
Dalam kesempatan ini, Menag juga menyampaikan apresiasinya terhadap pemilihan nama Masjid Ibadurrahman yang baru diresmikan di lingkungan kampus UIN Surakarta. Baginya, "Ibadurrahman" bukan sekadar nama, melainkan sebuah filosofi yang mencerminkan umat yang menjunjung tinggi nilai kasih sayang.
Menag menegaskan bahwa kehadiran masjid ini harus menjadi simbol inklusivitas Islam yang tidak hanya mencintai sesama Muslim, tetapi juga membawa kedamaian bagi seluruh manusia.
Di luar pembahasan spiritualitas, Menag juga menekankan pentingnya memahami sejarah dan tokoh-tokoh perjuangan bangsa. Dia menyebut bahwa Raden Mas Said, yang namanya diabadikan sebagai nama kampus ini, adalah seorang pejuang tangguh yang bahkan ditakuti oleh Belanda.
Menurut Menag, mahasiswa UIN Surakarta harus mewarisi semangat juang Raden Mas Said dalam bidang pendidikan dan dakwah. Puasa dan ibadah Ramadan, kata Menag, seharusnya tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan, melainkan momen untuk semakin memperkuat tekad dalam belajar dan berkontribusi bagi bangsa.
Tak hanya berfokus pada tausiyah, acara ini juga diwarnai dengan program berbagi yang diinisiasi oleh kampus, yakni 1000 Takjil, yang berhasil melebihi target dengan mengumpulkan 1.400 takjil.
Program ini, menurut Menag, merupakan wujud nyata dari nilai Islam yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama.
Menag juga mengungkapkan bahwa kedatangannya ke UIN Surakarta bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bagian dari kepeduliannya terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Meskipun agenda utamanya adalah menghadiri pengajian Nuzulul Quran di Masjid Sheikh Zayed, Menag memilih UIN Surakarta sebagai tujuan pertamanya di Solo, dengan pesan kuat bahwa generasi muda muslim harus menjadi pionir dalam membangun masyarakat yang inklusif dan penuh kasih sayang.
Dengan tausiyah yang penuh makna ini, Menag berharap mahasiswa UIN Surakarta tidak hanya menjadi akademisi yang cerdas, tetapi juga memiliki wawasan luas tentang nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian.
Baginya, pendidikan Islam tidak boleh hanya berkutat pada hafalan atau kajian teks, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan semangat cinta, persatuan, dan kebaikan untuk sesama. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy