RADARSOLO.COM - Tahun 2026 menjadi fase krusial bagi dunia kebudayaan dan seni pertunjukan di Kota Solo. Perubahan regulasi royalti, penguatan posisi seniman tradisi, hingga tantangan mencetak generasi seniman muda yang berkarakter humanis menjadi pekerjaan besar yang tak bisa ditunda.
DEKAN Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Aris Setiawan menyebut, setidaknya ada tiga tantangan utama kebudayaan yang harus dihadapi bersama pada 2026.
Tantangan pertama berkaitan dengan penerapan regulasi royalti musik. Setelah menjadi perdebatan panjang sepanjang 2025, pemerintah akhirnya menetapkan bahwa kewajiban pembayaran royalti berada di tangan promotor. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 2026 dan diharapkan memberi kepastian hukum bagi pelaku seni pertunjukan.
“Selama ini pelaku live music, rumah makan, hingga penyelenggara acara sering merasa waswas karena mekanisme royalti tidak jelas. Mulai 2026 aturannya sudah final. Tinggal dijalankan agar pertunjukan lebih tertata,” ujar Aris.
Tantangan kedua adalah penguatan posisi seniman musik tradisional yang selama ini nyaris tak tersentuh sistem royalti. Tahun 2025 menjadi titik penting dengan lahirnya Serikat Gamelan Indonesia (SGI) di ISI Surakarta sebagai wadah advokasi seniman tradisi.
Aris menilai, SGI lahir dari keprihatinan mendalam atas kondisi sosial-ekonomi pengrawit dan seniman gamelan yang hidup dalam ketidakpastian.
“Banyak pengrawit mengabdikan hidupnya untuk kesenian. Tetapi ketika diberhentikan atau memasuki usia lanjut, mereka tidak tahu harus mengadu ke mana. Bagaimana jaminan hidup dan masa pensiun mereka?” katanya.
Menurut Aris, selama ini diskursus royalti lebih banyak menyasar musik populer, sementara musik tradisi seolah berada di pinggir. Keberadaan SGI diharapkan menjadi ruang kolektif untuk memperjuangkan hak-hak seniman tradisi, termasuk membuka jalan diskusi soal royalti gamelan di masa depan.
“Di 2026 ini tugasnya memperkuat peran advokasi itu agar tidak berhenti sebagai simbol,” imbuhnya.
Tantangan ketiga, sekaligus yang paling mendasar, adalah mencetak seniman muda yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki dampak sosial dan kepekaan humanis.
ISI Solo, kata Aris, berupaya mengembalikan seni pertunjukan kepada pemiliknya, yakni masyarakat. Kampus tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang terpisah dari realitas sosial.
“Kami menyerap konteks kebudayaan dari masyarakat melalui mahasiswa, lalu mengembalikannya lagi dalam bentuk pengetahuan dan karya yang lebih baru. Ini yang kami sebut sebagai repatriasi pengetahuan,” ungkapnya.
Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan (AI), Aris mengakui AI mampu memproduksi karya seni secara instan. Namun, ia menegaskan bahwa seni bukan sekadar produk akhir.
“Karya seni lahir dari pergulatan batin, pengalaman hidup, dan proses panjang. Itu yang tidak bisa digantikan AI,” tegasnya.
Ia mencontohkan praktik bermain gamelan yang sarat nilai kemanusiaan. Di dalamnya terdapat sikap saling mendengar, saling mengisi, dan kebersamaan yang dalam istilah Jawa dikenal sebagai madsinamadan.
Di tengah budaya kompetisi yang menuntut segalanya menjadi nomor satu, Aris menegaskan seni justru harus menjadi ruang kebahagiaan yang cair dan bernilai.
“Karya yang bagus mungkin bisa digantikan AI. Tetapi karya yang berbicara, memantik dialog, dan menumbuhkan empati, hanya bisa lahir dari manusia,” ujarnya.
Bagi Aris, tantangan kebudayaan 2026 bukan semata soal regulasi atau teknologi, melainkan bagaimana menjaga ruh kemanusiaan agar seni tetap hidup dan bermakna. (alf/bun)
Editor : Niko auglandy