RADARSOLO.COM - Suasana Ramadan di Kota Solo terasa istimewa bagi Ibtissam Ouchrif, mahasiswa asing Universitas Sebelas Maret (UNS) yang akrab disapa Betty.
Mahasiswi program studi (prodi) manajemen itu tengah menjalani pengalaman Ramadan keduanya di Indonesia, tahun ini.
Betty merupakan mahasiswa asing UNS asal Maroko. Terkait suasana dan ibadah, ada banyak perbedaan antara Indonesia dengan negara asalnya.
“Ini pengalaman yang bagus. Sudah dua kali Ramadan di sini. Vibes-nya enak, makanannya juga enak, dan budayanya unik. Membahagiakan,” ujarnya sembari tertawa lepas, Rabu (4/3).
Perbedaan paling mencolok, yakni tradisi berbuka puasa. Betty kesengsem dengan tradisi ngabuburit dan berburu takjil. Ia paling gemar menyantap menu es buah dan nasi goreng.
“Seru sekali saat keluar beli jajanan tradisional. Banyak makanan dan minuman manis. Di Maroko tidak ada seperti ini. Saat berbuka puasa, kami biasanya masak di rumah,” imbuhnya.
Perbedaan lain dirasakan saat menunaikan ibadah salat tarawih. Di Maroko, salat Tarawih sebanyak 16 rakaat.
Sedangkan di Solo, mayoritas masjid hanya delapan rakaat. Meskipun ada beberapa yang sampai 23 rakaat.
“Toleransi di Indonesia tinggi sekali. Banyak toko makanan yang tutup saat Ramadan di siang hari. Di Maroko tidak. Semua toko buka,” ujarnya.
Satu lagi yang menurut Betty paling seru dan berkesan, yakni tradisi membangunkan sahur. Di awal-awal tinggal di Indonesia, ia sempat kaget mendengar teriakan membangunkan sahur di pagi buta.
“Panggilan sahur pagi itu pertama kali bikin saya kaget. Saya kira ada pengumuman penting, ternyata membangunkan sahur. Di Maroko tidak ada seperti itu,” bebernya.
Bagi Betty, perbedaan budaya bukanlah hambatan. Melainkan sebuah pengalaman yang menghadirkan pengetahuan, sekaligus menumbuhkan sikap toleransi.
“Budaya Ramadan di Indonesia sangat bagus. Saya senang. Saya bisa beradaptasi dengan mudah. Rasanya hangat,” jelasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto