RADARSOLO.COM – Solo dan Stadion Sriwedari tak bisa dipisahkan. Stadion ini jadi salah satu simbol venue olahraga kebanggaan Kota Solo, dan Indonesia.
Stadion ini jadi stadion tertua yang dibentuk oleh kaum pribumi, yang hingga hari ini masih berdiri kokoh.
Di 2023 ini, Stadion Sriwedari genap berusia 90 tahun. Stadion yang berada di tengah-tengah Kota Bengawan tersebut sudah berdiri, dan jadi lokasi pertandingan sepak bola sejak 1933.
Bicara soal sejarah pembentukan Stadion Sriwedari, Redaktur Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy dalam bukunya “Bangkitlah Sang Legenda, Kiprah Persis Solo di Dunia Sepak Bola” menceritakan pembangunan Stadion Sriwedari dengan cukup detail.
Awal mula pembentukan Stadion Sriwedari, ternyata tumbuh dari adanya sebuah kehebohan di Alun-Alun Selatan Kota Solo.
Tepatnya dalam sebuah pertandingan kompetisi pertama PSSI yang digelar di sana, pada 1931 silam.
Kompetisi diikuti tiga tim, yakni VVB (nama lama Persis Solo), VIJ Jakarta (nama awal Persija), dan PSIM Jogja.
Selama pertandingan berlangsung, sekitar lapangan penuh sesak oleh ribuan manusia yang duduk di pinggir lapangan.
Mereka terlihat cukup penasaran ingin melihat aksi pemain-pemain sepak bola kaum pribumi.
Dalam kompetisi ini, VVB harus puas di posisi ketiga atau juru kunci, sedangkan untuk posisi kedua diraih oleh tim PSIM Jogja, dan VIJ jadi juaranya.
Walau kalah, ternyata publik di Kota Solo sangat antusias melihat hadirnya kompetisi yang dimainkan tim pribumi.
Gagalnya VVB juara tidak membuat warga Solo ngamuk. Sebaliknya, berbagai pembahasan soal pertandingan di kompetisi ini ternyata malah selalu muncul.
Bahkan terus diungkit dan dibicarakan warga di tiap sudut kota.
Fenomena ini ternyata sampai di telinga kerabat keraton. Atas usul dari KRMT Wongsonegoro kepada Raja Keraton Kasunanan Surakarta Sri Susuhunan Paku Buwono X, akhirnya kerabat keraton RM Widodo diminta untuk mendalami mengenai kehebohan yang terjadi dalam pertandingan di alun-alun tersebut, yang terus dibahas masyarakat
Hingga akhirnya dapat ditangkap bahwa menonton pertandingan sepak bola benar-benar dapat membuat masyarakat senang.
Kemudian muncul ide untuk membangun stadion di Kota Solo. Harapannya bisa dipergunakan oleh rakyat pribumi dengan bebas, dan masyarakat bisa datang menonton dengan nyaman.
Setelah mencari lokasi yang pas, Keraton Kasunanan Surakarta akhirnya menunjuk tanah Bon Rodjo di daerah Kelurahan Sriwedari untuk jadi lokasi pembangunan stadion.
Praja Kasunanan kemudian menunjuk Mr Zeylman dan R Ng Tjondrodiprodjo untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan Stadion Sriwedari.
Stadion Sriwedari akhirnya mulai dibangun pada 1932. Stadion ini dirancang modern di zamannya.
Lapangan memiliki dimensi standar internasional, yakni dengan ukuran 73-110 meter.
Stadion ini dirancang bisa menampung hingga 25.000 penonton. Rancangan awal terdiri dari 1.100 kursi di dalam tribun.
Koran berbahasa Belanda De Indisch Courant edisi 14 Januari 1933 mewartakan, pembangunan Stadion Sriwedari ternyata bisa digunakan untuk malam hari.
Sebab, lapangan memiliki 24 lampu pemancar dari enam tiang-tiang tower.
Koran berbahasa Belanda Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 24 Oktober 1932 mewartakan, pembangunan stadion dimulai tepat pada 23 Oktober 1932.
Stadion ini dirancang untuk pertandingan sepak bola modern, yang berada tepat di taman kota.
Pada 1932, Manahan juga dirancang sebagai lokasi venue olahraga. Mulai dari lapangan sepak bola hingga arena pusat balapan.
Namun, pusat pertandingan sepak bola tetap akan dipusatkan di Stadion Sriwedari yang tengah dibangun.
Stadion Sriwedari menghabiskan biaya 30.000 gulden, yang dikerjakan oleh 100 orang pekerja.
Pada Januari 1933, akhirnya digelar pertandingan uji coba sore dan malam hari. Laga ini dipimpin oleh Pangeran Soerjohamidjojo.
Pertandingan tersebut diselenggarakan dalam rangka pembukaan lapangan sepakbola baru di Kota Solo.
Beberapa tim dari luar kota diundang untuk pertandingan acara ini. Beberapa perwakilan datang, seperti dari Surabaya (Thor), Semarang (MOT, dan Go Ahead), Jogja (Velox dan PSIM), dan Tjahja Kwitang dari Batavia.
Pertandingan pertama yaitu Kwitang yang berhasil menang atas Mars Solo 2-1, dan berhak mendapatkan sebuah piala.
Pertandingan kedua merupakan wakil Solo yakni Bondseftal Solo (Persis) yang ternyata kalah dari Jogja 1-5.
Pertandingan ini memperebutkan Sunan Beker. Yang unik, dalam prosesi peresmian lapangan ini, terdapat sebuah bendera merah putih ikut dikibarkan.
Cukup menarik, mengingat kala itu jelas-jelas Indonesia belum merdeka. Bendera tersebut ternyata adalah bendera khas Kasunanan, yang memang berwarna dominasi sama, yakni merah dan putih.
Pertandingan lainnya dalam rangkaian Maleman ini adalah tim Velox, yang kalah dari Geel Grooen (M.N Legion) dengan skor 2-4. PSIM berhasil menaklukan Kwitang dengan skor telak 5-2.
Bondseftal Solo akhirnya juga bisa menang, yakni saat melawan VV Voorwaarts dari Jogja dengan skor 4-1.
Adanya kehebohan pertandingan yang semakin banyak digelar di Stadion Sriwedari saat awal berdiri, ternyata membuat pemerintah Belanda di Kota Solo kepincut untuk bisa ikut main secara bebas di sana.
Belanda meminta agar bisa main pada malam hari, sedangkan siang hari stadion ini bisa bebas digunakan Persis, serta anggota klub lainnya di bawah naungan Persis.
Sempat Memakan Korban
Di sisi lain, lapangan sepak bola di Stadion Sriwedari sempat memakan korban saat awal berdiri.
Dalam pertandingan sepak bola saat perayaan Maleman, Januari 1933, terjadi tiga pemain cedera parah di lapangan ini.
Tiga pemain ini berstatus tentara, yaitu Pelupessy dari Semarang patah di bagian kaki. Serta Rokers dan Verleye dari Jogja mengalami luka memar yang cukup parah.
Ketiganya langsung dibawa ke rumah sakit usai peristiwa. Bahkan, Verleye dilaporkan meninggal karena luka-luka yang dideritanya.
Asosiasi sepak bola Jogja akhirnya sempat membuat kebijakan untuk melarang klub binaannya bermain di Solo, setelah peristiwa pada 25 Januari 1933 tersebut.
Peristiwa cedera yang diderita tiga pemain militer tersebut kemudian banyak dikait-kaitkan dengan hal-hal berbau mistis.
Banyak yang mengaitkan kejadian di dekat tiang gawang tersebut dengan keberadaan makam kuno di tanah Sriwedari. Sri Susuhunan Pakubuwana X akhirnya melakukan selametan usai terjadinya kejadian tersebut.
Walau begitu, lapangan ini tetap memikat banyak tim untuk menggelar pertandingan.
Keberadaan stadion ini juga jadi daya tarik tim dari luar kota untuk berbondong-bondong dan dan mencoba bertanding di sana.
Bahkan pada 24 Agustus 1933, tim Singapura jadi tim luar negeri pertama yang bermain di lapangan Stadion Sriwedari Solo.
Saat itu De Malay (sapaan tim ini) bertanding dengan tim VBS. Pertandingan berakhir dengan hasil seri 4-4. Pertandingan ini ditonton lebih dari 10.000 orang. (nik/ria)