Jawa Pos Radar Solo mengunjungi perajin Batik Alquran. Letaknya tidak jauh dari Langgar Merdeka. Tidak jauh dari situ ada gang masuk ke arah barat. Dan sampailah di halaman rumah perajin Batik Alquran. Tampak kain sepanjang 1 meter dengan lebar 100 centimeter dipasang berjajar. Dengan ukiran ayat Alquran yang penulisannya sama persis dengan tulisan dalam mushaf Alquran.
Di sekeliling ayat dihiasi ukiran batik dengan warna-warna menarik. Mushaf batik Alquran yang dibuat perajin batik di Laweyan telah dirampungkan. Bahkan dalam proses pembuatannya juga melibatkan penyandang tunarungu.
Manajer Produksi Batik Alquran Muhammad Taufan mengatakan, bertepatan dengan Ramadan, mushaf batik Alquran setebal 458 halaman akan diajukan tashih ke Kementerian Agama (Kemenag). Hal tersebut untuk mengoreksi penulisan ayat Alquran ini. Sehingga tidak ada kesalahan tanda dan tajwidnya.
“Kami mulai merintis pembuatan batik ini sejak 2016 silam. Dan pada 2019 selesai pembuatan 30 juz Alquran. Namun, kami masih mengecek karena ada yang salah. Lalu kami sempurnakan lagi sampai awal 2020,” katanya.
Proses pembuatan batik Alquran ini membutuhkan ketelitian tinggi. Karena yang ditulis merupakan ayat Alquran. Kesalahan penulisan bisa menyebabkan kesalahan membaca, sehingga bisa beda arti. Pembuatan satu lembar batik Alquran bisa memakan waktu hingga lima hari. Karena proses penjiplakan ayat Alquran membutuhkan waktu dua hari.
“Proses pembuatannya sama seperti membatik biasa. Hanya sebelumnya kita harus membuat jiplakan ayatnya di kertas. Baru dipindah ke kain dengan media pensil. Baru dilakukan proses pembatikan. Dalam proses pembuatan batik Alquran ini kami juga melibatkan penyandang tunarungu,” katanya.
Selama awal proses pembuatan, Taufan mengatakan, dibantu oleh lima pondok pesantren di Solo. Sebab inspirasi pembuatan batik Alquran ini muncul ketika Ustad Farzait mengunjungi Batik Mahkota. Saat itu, Ustad Farzait memberikan buku Al Quran Follow the Line.
“Ustad Farzait mencotohkan metode membaca Alquran sembari menulis bacaannya. Ternyata bisa membantu dan prosesnya sama juga seperti membatik. Lalu muncul gagasan untuk membatik Alquran,” katanya.
Dalam proses membatik tersebut ada proses pembelajaran membaca dan menulis Alquran. Yakni pada saat penjiplakan ayat Alquran. Selain itu, Taufan ingin menggabungkan alquran dengan batik yang notabene budaya Indonesia. Oleh karena itu, dalam proses pembuatannya juga melibatkan masyarakat.
“Yang kami buat ini (Batik Alquran) menganut history. Sebab, penulisannya kami mengadopsi tulisan Alquran style Jawa dengan Qath Ustmani. Dan ini bisa menjadi bukti Islam di tanah Jawa,” ujarnya.
Selain tengah berupaya mengajukan tahsih ke Kemenag, Taufan juga fokus pada batik tuli dan souvenir batik Alquran. Rencananya batik Alquran tersebut akan dipamerkan dalam acara Muktamar Muhammadiyah ke-48 dan Aisyiyah. Namun, imbas Covid-19 semua kegiatan ditunda.
“Projek selanjutnya kami akan membuat batik Alquran dengan penulisan dan Qath khas Ustmani. Saat ini baru proses penjiplakan ke kertas,” ujarnya. (rgl/bun/ria)
Editor : Perdana Bayu Saputra