Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menpora Lepas Kontingen ASEAN Para Games 2025 di Solo: Peraih Emas Siap Raih Bonus Rp 1 Miliar

Antonius Christian • Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:03 WIB
Pelepasan atlet ASEAN Para Games di Balai Kota Solo, Sabtu (9/1/2026)
Pelepasan atlet ASEAN Para Games di Balai Kota Solo, Sabtu (9/1/2026)

RADARSOLO.COM  — Pemerintah Republik Indonesia secara resmi melepas kontingen nasional ASEAN Para Games 2025 dalam sebuah upacara di Balai Kota Surakarta, Sabtu (9/1).

Sebanyak 190 atlet penyandang disabilitas dari 18 cabang olahraga (cabor) dipercaya membawa nama Merah Putih pada ajang olahraga disabilitas terbesar di kawasan Asia Tenggara tersebut.

ASEAN Para Games 2025 akan berlangsung di Thailand pada 20–26 Januari 2026.

Indonesia menargetkan hasil optimal dengan sasaran 82 medali emas, di tengah persaingan ketat dari negara-negara unggulan seperti tuan rumah Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Pelepasan kontingen dipimpin langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir.

Erick menegaskan bahwa para atlet bukan sekadar peserta pertandingan, melainkan duta bangsa yang membawa martabat dan harapan Indonesia di level internasional.

“Ini kehormatan bagi saya bisa mengukuhkan dan melepas para pejuang bangsa. Atlet adalah duta bangsa yang mencerminkan karakter Indonesia. Banyak orang punya mimpi, tetapi mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan tanpa kerja keras setiap hari. Kalian bukan hanya bermimpi, tetapi benar-benar menjalankannya dengan fokus dan sungguh-sungguh,” ujar Erick.

Menpora menyampaikan salam dan pesan khusus dari Presiden RI yang menaruh perhatian besar terhadap olahraga, khususnya olahraga disabilitas.

Erick menilai prestasi atlet para selama ini menunjukkan konsistensi luar biasa, dengan Indonesia kerap berada di peringkat satu hingga dua dalam ajang multievent regional.

“Kita sudah terbiasa berada di peringkat atas. Tantangan di Thailand pasti besar, terutama dari tuan rumah dan Vietnam. Tapi jangan gentar. Kita coba dulu, kita berjuang dulu. Apakah nanti peringkat dua atau tiga, yang penting kalian memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Erick juga menegaskan komitmen pemerintah terkait bonus atlet.

Dia memastikan bonus prestasi tetap sama seperti event internasional sebelumnya, yakni Rp 1 miliar per atlet peraih prestasi, sesuai arahan Presiden RI.

“Bonus ini bentuk penghargaan negara atas perjuangan atlet. Presiden memberikan perhatian luar biasa. Namun saya selalu mengingatkan, bonus bukan segalanya,” kata Erick.

Menurutnya, Kemenpora kini tidak hanya fokus pada persiapan jelang kejuaraan, tetapi juga pembinaan menyeluruh, termasuk masa depan atlet setelah tidak lagi aktif bertanding.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah program literasi keuangan, agar bonus dan penghasilan atlet dapat dikelola secara bijak untuk jangka panjang.

“Kami ingin bonus ini benar-benar bermanfaat untuk masa depan. Bukan hanya habis untuk kebutuhan harian, tapi bisa menjadi tabungan dan investasi kehidupan atlet ke depan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Erick mengungkapkan Kemenpora tengah menyusun peta jalan (roadmap) pembinaan olahraga disabilitas, termasuk penguatan tenaga olahraga, peningkatan kualitas pelatih, serta pembinaan atlet berkelanjutan.

Program tersebut akan masuk dalam skema pembinaan tenaga olahraga kelompok disabilitas, yang untuk pertama kalinya dimasukkan secara khusus dalam program kementerian.

Tak hanya itu, pemerintah juga mulai mengkaji skema jaminan masa depan dan dana pensiun bagi atlet, mengingat atlet disabilitas selama ini masuk dalam kategori pekerja informal.

“Kami sedang mempelajari berbagai model dari negara lain. Niatnya agar atlet memiliki jaminan masa depan. Tapi tentu harus hati-hati, jangan sampai niat baik ini justru menimbulkan masalah baru dalam pengelolaannya,” ungkap Erick.

Erick menegaskan, transformasi yang dilakukan Kemenpora tidak hanya menyentuh fase persiapan pertandingan, tetapi juga pasca-kejuaraan, termasuk pendidikan, jalur karier, dan kesejahteraan atlet secara menyeluruh.

“Kita ingin menghapus stigma bahwa atlet itu miskin atau tidak punya masa depan. Negara hadir, bukan hanya saat mereka berprestasi, tapi juga setelah mereka selesai bertanding,” tegasnya.

Pada ASEAN Para Games 2025, Indonesia mengusung target 82 medali emas.

Erick menilai target tersebut realistis melihat tren prestasi atlet para Indonesia yang konsisten di level regional.

“Kalau melihat teknik, daya juang, dan mental bertanding, saya yakin kalian akan memberikan hasil maksimal. Insyaallah target bisa tercapai dan peringkat kita lebih baik,” pungkasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#Emas #erick thohir #indonesia #ASEAN Para Games #thailand