SETIAP muslimah yang akan menjalankan ibadah Salat selalu menggunakan mukena untuk menutup aurat. Barangnya pun mudah dicari, mulai dijual di toko busana muslimah, pasar, sampai dapat ditemui di toko-toko online dengan harga yang bervariasi. Bisa saja mukena yang Anda merupakan hasil produksi masyarakat Buduran, Desa Kalikobok.
Lokasi kampung ini berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Sragen. Belasan rumah produksi berdiri di desa tersbut. Paling banyak di Dukuh Buduran. Mukena ini menjadi penyangga ekonomi sebagian warga setempat. Hasil produksi mereka banyak dipasarkan ke Jakarta dan daerah lain, hingga luar negeri.
Sentra industri mukena di Desa Kalikobok ini berawal dari sejumlah warga setempat yang merintis usaha mukena di Jakarta sejak era 1980-an. Lambat laun mereka mengajak para pemuda sekitar untuk bekerja di ibu kota. Seiring berjalannya waktu, ilmu yang mereka serap tentang bisnis mukena mendorong mereka kembali ke desa dan membuat konveksi mukena kecil-kecilan.
Kepala Desa (Kades) Kalikobok, Widoyo menyampaikan, industri mukena ini diawali dari beberap warga yang belajar bisnis mukena di Jakarta. Mereka merintis dari awalnya menjadi tukang jahit. Lalu mulai membuka usaha sendiri. Kemudian mengajak para tetangganya sebagai tenaga panjahit di Jakarta. Usaha terus berkembang dan sudah mendapat pasar. Sebagian warga lantas pulang ke kampung halamannya untuk membuka usaha industri rumahan pembuatan mukena.
”Tahun 2002 mereka membuat industri rumahan dan mengajak orang kampung untuk bekerja. Lalu tumbuh menjadi belasan rumah industri. Bahkan mampu menyerap tenaga kerja setempat sebagai buruh jahit,” jelas Widoyo.
Salah seorang produsen mukena Kalikobok, Yusuf Zaenuri mengaku mengenal mukena sejak 2001 setelah lulus SMA. Dia ikut saudaranya di Jakarta menimba pengalaman. Mulai menjahit, mengenal kain untuk mukena dan berdagang.
Hingga akhirnya, pada 2007 menikah dan pulang ke Sragen. Dengan modal nekat, Yusuf memberanikan diri membuka usaha pembuatan mukena. Hingga saat ini bisa mempekerjakan tetangga sekitar untuk bantu menjahit mukena.
”Alhamdulillah bisa ikut membantu dalam pemberdayaan masyarakat,” jelas Yusuf.
Pihaknya terus menjaga kualitas di tengah persaingan bisnis. Bahan baku kain didatangkan dari Jakarta dan Solo. Jenis kain yang digemari yakni Rayon bali dan Katun Jepang. Mengingat dalam bisnis mukena, setiap tahun ada model terbaru. Sehingga produsen juga harus mengikuti mode yang sedang digemari.
”Kalau mukena setiap tahun memang ganti mode, tergantung trendnya,” ungkap dia.
Bicara pemasaran, mukena produksi Kalikobok sudah mendunia. Produknya sudah diekspor sampai ke Negeri Jiran Malaysia dan Timur Tengah.
”Ada juga pasar luar negeri, tergantung penjualnya ada yang ke Malaysia dan Arab Saudi,” terangnya.
Soal persaingan di bisnis mukena, dia mengaku cukup ketat. Harganya pun tidak ada patokan, tergantung penjual menghargai produknya. ”Kita tidak tahu pedagang A jual harga berapa, Pedagang B jual harga berapa, yang j elas pembeli inginnya yang bagus dan murah,” ujar dia. (din/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra