RADARSOLO.COM - Mencari ketenangan ada kalanya tak perlu yang wah dan mewah. Bisa mencoba bersepeda ke daerah lembah seperti di Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo. Di sini tersaji hamparan persawahan terasering layaknya di Ubud, Bali.
Daerah yang berbatasan dengan Desa Kener, Kabupaten Semarang ini memancarkan pesona. Tak hanya daya pikat sistem persawahan tradisional, namun juga keramahan warga lokal. Simbol kearifan, kesederhanaan sekaligus kemegahan alam.
Kamis (13/7/2023) sore, Jawa Pos Radar Solo menarik gas motor hingga di jalan menurun desa setempat. Perjalanan menuju Desa Dlingo tak ada kendala berarti. Dari gerbang tol (GT) Mojosongo, bisa mengambil ke arah utara. Terus lurus hingga melintasi Desa Methuk, Mojosongo. Terus lurus hingga menemukan pertigaan arah Desa Dlingo. Ambil ke arah utara. Terus hingga menemukan jalan berkelok turunan. Bak terhipnotis, hamparan persawahan memanjang di sepanjang lembah.
Kami lalu berhenti di pinggir jalan. Memarkirkan motor dan duduk di bawah pohon talok. Di bawahnya, saluran irigasi teknis mengalir deras. Gemercik air mengalir dan erangan emprit bersahutan. Menjelang senja, para petani masih menyibukan diri. Ada yang menyunggi benih padi, pupuk kandang, ada juga yang sibuk memcabuti rumput liar. Dua ekor kerbau tampak digiring masuk ke saluran irigasi teknis. Mandi sekaligus berkumbang dalam air yang cukup deras.
Sedangkan matahari berangsur terbenam di punggung Gunung Merbabu. Sore itu, pengunjung di bukit dengan jalan usaha tani tampak ramai. Hingga satu keluarga kecil, mengeluarkan kursi camping dan menikmati es krim. Mereka memandang hamparan luas lahan pertanian terasering dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu yang gagah.
Di Desa Dlingo, ada sekira 400 petani. Sedangkan hamparan luas lahan persawahan memanjang sejauh 120 hektare. Pertengahan Juli, petani memulai taanam pada musim tanam kedua di tahun ini. Konon, berprofesi sebagai apapun, mereka tetap bertani. Seperti itulah yang dikatakan Narja, 70, mantan guru PNS yang mengurus sawahnya.
”Saya pensiun 2016. Pas masih PNS ya tetap tani. Di sini itu, mau kerjanya apapun, tetap nyambi (kerja sampingan, Red) tani,” katanya disertai senyum mengembang.
Dia berkelakar, menunjukan seragam dinas pasca pensiun. Sebuah topi hitam ditumpuk dengan topi jerami empuk. Kemudian baju lengan panjang dan celana panjang. Kaki dan tangannya belepotan lumpur. Katanya, bertani seolah sudah mendarah daging bagi masyarakat lokal. Tua, muda akan kembali menggarap sawah. Apa yang perlu dikhawatirkan, ketika tanah lempung yang gembur bertemu dengan derasnya air dari sumber Umbul Ngrancah?
”Persawahan ini, sudah diturunkan sejak zaman mbah-mbah dulu. Sejak saya kecil, sudah ada sistem terasering seperti ini. Seumur-umur, (jalan pematang sawah) ndak pernah jugruk (ambrol, Red),” katanya.
Senada, Raharjo, petani setempat mengaku tak pernah khawatir. Karena sumber air persawahan setempat dari Umbul Ngrancah, Susukan, Kabupaten Semarang. Berkah alam seolah melimpah ruah. Petani setempat bisa menanam tiga kali dalam satu tahun. Jeda satu bulan tiap pergantian tanam dimanfaatkan untuk penyemaian benih dan mengistirahatkan tanah.
”Memang, banyak yang suka sepedaan ke sini. Biasanya Minggu pagi, pasti pada ramai sepedaan. Karena sistem teraseringnya bagus, dan pemandangamnya juga cantik,” katanya.
Salah satu keluarga traveller asal Boyolali Kota, Kristi M, mengaku jalan di persawahan Desa Dlingo memang menjadi favorit. Terutama bagi pesepeda onthel. Meski jalannya menanjak dan menurun, namun terbayarkan dengan pemandangan yang indah. Bahkan, dia menyebutnya seperi Ubud versi Kota Susu. Dia juga sengaja mengeluarkan alat-alat memasak untuk camping. Membuat kopi dan teh lalu diseduh sebari menikmati matahari terbenam.
”Yah, ini salah satu track favorit. Memang jalannya menantang karena naik turun. Tapi pemandangan dan kesejukannya memang bikin senang. Cocoknya ke sini ya pas pagi hari ataupun sore. Bisa lihat petani dan ada juga kerbau pembajak sawah. Liburan kan gak harus yang keluar ongkos. Di sini murah meriah, tapi pemandangannya sebagus itu,” tandasnya. (rgl/adi)
Editor : Damianus Bram