Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pesona Sendang Kembar Boyolali, Mata Air Asri di Balik Masjid "Terapung" Suyudan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Jumat, 15 Mei 2026 | 19:32 WIB
Sendang kembar yang berada di tengah permukiman Dukuh Suyudan, Desa Kiringan, Boyolali Kota. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Sendang kembar yang berada di tengah permukiman Dukuh Suyudan, Desa Kiringan, Boyolali Kota. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Sebuah harmoni antara wisata alam dan religi tersaji di jantung Kota Boyolali, tepatnya di Dukuh Suyudan, Desa Kiringan.

Di kawasan ini, terdapat dua kolam alami yang terletak berdampingan dan dikenal dengan nama Sendang Kembar.

Keunikan lokasi ini semakin lengkap karena posisinya berada tepat di balik Masjid Suyudan, sebuah bangunan megah yang sering dijuluki sebagai "masjid terapung" karena posisinya yang dikelilingi oleh kolam segi empat berisi air jernih dari sumber bawah tanah.

Baca Juga: Umbul Bethek Klaten: Wisata Air Ramah Anak dan Lokasi Terapi Lansia dengan Tiket Cuma Rp 3.000

Suasana di sekitar Sendang Kembar pada Jumat (15/5/2026) pagi tampak begitu asri dengan keberadaan pohon beringin raksasa yang memberikan keteduhan alami.

Meskipun letaknya berdampingan, kedua sendang ini memiliki karakteristik yang sangat kontras.

Nama "Kembar" lebih merujuk pada keberadaan dua titik mata air yang saling melengkapi dalam satu kompleks, meskipun ukuran dan kedalamannya berbeda jauh.

Penanggung jawab Masjid Soejoedan KRAT Heru Kusmanto Setyoningrat menjelaskan, perbedaan mendasar dari kedua kolam tersebut.

“Namanya bukan Sendang Suyudan, tapi Sendang Kembar. Kalau orang sini menyebut yang kecil Sendang Lanang, yang luas itu Sendang Wedok,” jelas Heru.

Sendang Wedok memiliki diameter mencapai 20 meter namun dangkal, sehingga ramah bagi anak-anak.

Baca Juga: Eksplorasi Hutan Kota Sragen, Oase Tersembunyi di Jantung Bumi Sukowati

Sebaliknya, Sendang Lanang hanya berdiameter sekitar 2 meter namun memiliki kedalaman hingga 2 meter, yang menuntut kewaspadaan lebih bagi pengunjung.

Sementara itu, Masjid Suyudan memiliki kaitan erat dengan aliran air dari Sendang Kembar.

Struktur masjid yang dikelilingi kolam memberikan kesan tenang dan sejuk bagi para jamaah maupun wisatawan yang berkunjung.

Air yang memenuhi kolam di sekeliling masjid berasal dari perpaduan sumber internal di bawah bangunan serta aliran yang disalurkan langsung dari mata air sendang di sisi barat.

“Jadi Masjid Suyudan airnya dari bawah tanah dan juga dialiri dari Sendang Kembar yang ada di baratnya,” tambah Heru.

Perpaduan antara bangunan arsitektur religi yang artistik dengan kejernihan air alami menjadikan lokasi ini sebagai salah satu destinasi favorit masyarakat untuk menenangkan diri sekaligus berwisata di tengah hiruk pikuk kota.

Baca Juga: Wisata Edukasi Smart Farming Kedungwinong di Nguter Sukoharjo, Cocok untuk Petani Milenial Belajar Bertani

Melihat besarnya potensi tersebut, Pemerintah Desa Kiringan mulai melakukan langkah-langkah serius dalam pemetaan dan pengembangan objek wisata.

Meski saat ini masih menghadapi tantangan dalam hal alokasi anggaran infrastruktur, upaya menghidupkan kawasan tersebut terus dilakukan melalui pendekatan wisata religi yang dikelola oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Kepala Desa Kiringan Sri Wuryanto mengungkapkan, pihaknya sedang merintis branding kawasan tersebut sebagai desa wisata sejarah dan religi.

“Kami juga menjadikan objek destinasi wisata religi yang dirintis oleh Pokdarwis Desa Kiringan bernama Dewi Pancuran,” ungkapnya.

Dengan adanya integrasi antara Sendang Kembar dan Masjid Soejoedan, Desa Kiringan diharapkan mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mencari pengalaman spiritual sekaligus keasrian alam di Boyolali. (fid)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#masjid terapung #sendang kembar #dukuh suyudan #desa kiringan