RADARSOLO.COM - Pemerintah Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali mengembangkan kampung wisata edukasi Durensari. Ada empat titik yang akan membuat pengunjung bernostalgia. Mulai dari dolanan anak, peralatan tradisional khas pedesaan, griya kawruh dan griya panglerepan.
Berawal dari kekhawatiran pada anak yang terus melihat ponsel berlama-lama, pemerinah desa setempat membangun kampung wisata di Dusun Durensari. Ada empat lokasi unggulan di Kampung Edukasi Durensari.
Pertama, Griya Palerenan, yakni bangunan jogjlo khas Jawa Tengah yang menjadi lokasi asyik untuk ngaso dan menepi. Dari dalam joglo, di sisi timur kita bisa melihat hamparan rumah dan lembah yang indah. Di sisi barat joglo, ada plataran srawung yang berupa bangunan joglo dengan halaman cukup luas.
Terlihat, banyak anak tengah berlarian sambil bersenda gurau. Mereka memainkan permainan "Kontrakol", permainan zaman dulu dengan bola yang dibuat sendiri berbahan plastik yang digulung menjadi bulat dan ditali kencang. Bola tersebut akan dilempar ke tumpukan pecahan genting. Lalu tim yang berhasil mengenai tumpukan genting menjadi pemenang. Namun, mereka harus saling mematikan lawan dengan mengenai tim lawan.
Ada juga anak-anak kecil yang bermaik becak, gobak sodor ataupun enggrang. Permainan jadul yang membuat pengunjung mengenang permainan yang pernah hits masa 1990-an hingga 2000-an. Ada pula museum mini yang mengoleksi peralatan minum dari keramik tempo dulu. Lalu ada juga miniatur pawon (dapur) berisi tungku gerabah untuk alat memasak dari kayu. Selain itu, ada juga televisi, mesin ketik manual, kamera jadul hingga kaset-kaset tahun 1970-1980-an.
”Ada juga Griya Kawruh, kelas unggah-ungguh untuk memberikan pemahaman anak-anak terkait tata krama. Pengembangan Kampung Edukasi Durensari ini memang pengembangan dari Kampung Keluarga Berencana (KB). Kami pilih Durensari karena lokasinya strategis. Penduduknya tidak terlalu banyak, yakni sekira 82 KK sehingga mudah dikoordinasi,” jelas Kepala Desa Kembangkuning, Puji Yarmanto, Jumat (7/7/2023).
Diharapkan, kampung edukasi Durensari bisa mengundang wisatawan. Karena memberikan wisata berbasis pendidikan tradisi lokal. Selain itu, dengan mengenalkan kembali permainan tradisional, anak-anak bisa mengurangi penggunaan gadget. Selain itu memberikan pendidikan sopan santun dan mengambalikan fitrah sebagai orang Jawa yang mulai tergerus akibat teknologi. Bisa membangun interaksi antaranak, dan memberikan wawasan baru bagai anak zaman sekarang.
Kampung edukasi Durensari ini digagas kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa setempat sejak 2021 silam. Hanya saja pengembangan kampung edukasi tidak semulus dengan harapan awal. Hingga akhirnya, desa menerima donasi dari salah satu BUMN.
”Ini memang gagasan murni dari masyarakat sendiri. Memang Desa Kembangkuning memang desa wisata, dan ini menjadi wisata edu baru. Sehingga sopan santun, tepo sliro tetap tertanam pada anak-anak. Pendidiknya kami ambil dari warga sini sendiri, dari Setiyotuhu, termasuk tour guide-nya,” terangnya.
Desa akan mengembangkan untuk paket wisata. Yakni, mulai dari Taman Sitiinggil dan kampung edukasi saling terkoneksi. Menjadi paket wisata yang menjanjikan. Ditambah lagi, ada juga perajin kuningan. Sehingga pengunjung juga bisa menikmati langsung proses pembuatan kerajinan kuningan masyarakat Desa Kembangkuning. (rgl/adi/dam)
Editor : Damianus Bram