RADARSOLO.COM - Di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, terdapat mata air dan tempat pemandian yang bernama Umbul Kendat.
Menariknya di kompleks umbul tersebut, terdapat makam Sekar Kedaton alias Dyah Ayu Retna Kedaton. Seorang putri raja Brawijaya V nan cantik jelita.
Ada beberapa versi kisah Sekar Kedaton yang mengiringi Umbul Kendat. Ada cerita yang mengatakan, Umbul Kendat muncul setelah Sekar Kedaton mengungsi, lalu menginjak seekor siput berekor lancip di sana.
Hingga akhirnya kakinya terluka dan meninggal dunia. Kemudian jasadnya dimakamkan di umbul tersebut. Lalu dinamakan Mbok Ro Kendat. Ro artinya perawan, dan Kendat artinya putus.
Versi lainnya dikemukakan Surojo, sejarawan asal Boyolali. Dia mengaku kerap datang ke Umbul Kendat untuk menepi dan menenangkan diri.
Informasi yang digalinya, asal usul umbul itu bermula saat Retna Kedaton ikut kakak perempuan, Retna Pembayun ke Kerajaan Pengging. Saat itu Retna Pembayun sudah menikah dengan seorang pemuda.
“Lama-kelamaan Retna Kedaton jatuh cinta kepada kakak iparnya. Tapi cintanya ditolak. Pemuda itu tidak mau menduakan istrinya. Akhirnya Retna Kedaton patah hati dan frustasi. Lalu memutuskan ngendhat (putus) di umbul itu. Saat itulah muncul mata air dan dinamakan Umbul Kendat,” jelas Surojo, kemarin (13/7/2024).
Ada juga cerita yang beredar, jasad Retna Kedaton dimakamkan di kompleks umbul. Tepatnya di sisi utara, yang kondisinya saat ini cukup terawat. Ada pula yang memercayai, raga Retna Kedaton moksa alias bereinkarnasi.
Surojo menambahkan, ada makna mendalam dari kisah Umbul Kendat. Bukan soal upaya mengakhiri hidup, namun lebih pada mematikan rasa yang terlarang pada iparnya dengan cara tidak menikah.
“Sehingga dia memutuskan menepi di area Pengging dan tidak menikah sampai akhir hayatnya. Jadi menurut saya, ngendhat itu bukan bunuh diri secara fisik. Tapi membunuh perasaan cintanya,” beber Sarojo.
Terlepas dari cerita tutur di atas, ada cerita mistis mengiringi Umbul Kendat. Hingga kini, makam Retna Kedaton masih kerap dikunjungi peziarah. Termasuk pengunjung yang melakukan ritual bertapa di makam tersebut.
Ubo rampe yang disiapkan berupa dupa. Karena sang putri dipercaya berdarah campuran Tiongkok dari garis sang ibu.
“Jadi, di Umbul Kendat itu memang tempat untuk menepi dan menenangkan pikiran. Itu bukan sugesti ya. Kebetulan saya pernah mencoba. Ketika ada masalah, saya mandi di sana dari tengah malam sampai pagi. Ternyata pikiran jadi tenang kembali,” ujarnya.
Sarojo menilai, energi dan aura para leluhur di umbul tersebut sangat besar. Sehingga orang-orang yang tirakat di sana, dimulai dengan mandi di umbul. Kemudian berziarah di makam Retna Kedaton.
“Pernah ada pengunjung yang berpapasan dengan penunggu di sana. Wujudnya seorang wanita berambut panjang. Ada yang lihat pakaiannya serbaputih. Ada juga yang lihat pakai kemben basahan. Kenapa beda-beda, karena tiap orang pengalaman spiritualnya juga berbeda,” paparnya.
Sementara itu, Sarojo menyebut ada sejumlah pantangan bagi pengunjung yang datang ke Umbul Kendat.
Salah satunya perempuan yang datang tidak boleh dalam kondisi datang bulan. “Juga tidak boleh melakukan hal-hal yang negatif,” ujarnya. (rgl/fer/dam)
Editor : Damianus Bram