Koordinator BSB Riyanto mengatakan, pihaknya juga mencoba membuat bahan bakar kendaraan dengan menggunakan sampah plastik. Itu bersamaan dengan program Garpu Tala 29.
“Waktu itu saya dan Rahmad, anggota kami juga mencoba membuat alat pirolisis sederhana dengan kaleng bekas. Kami coba buat bahan bakar,” bebernya.
Namun, dalam tiga kali percobaan awal ternyata selalu gagal. Baru di percobaan keempat alat itu membuahkan hasil dengan sejumlah perubahan.
Riyanto menuturkan, secara singkat pengolahan sampah plastik itu berawal saat sampah dimasukkan ke dalam kaleng bekas dan dipanaskan. Uap yang keluar lewat selang kemudian didinginkan dengan melewati air. Akhirnya disimpan di wadah yang disediakan dan menjalani proses lainnya seperti penyaringan, hingga akhirnya muncullah bensin.
“Bensin ini sementara kami gunakan untuk operasional saat mengambil sampah. Belum sampai dijual,” kata Riyanto.
Diakui Riyanto, pembuatan bensin dengan cara pirolisis itu bisa lebih mahal daripada bensin pada umumnya. Sebab, pembakaran dilakukan lama dan menggunakan gas elpiji. Sementara itu, dari dua kilogram sampah plastik godongan bisa menjadi dua liter bensin.
“Sekarang kami menggunakan tong bekas untuk membuat bahan bakar. Jadi, saat kami mau mengumpulkan sampah, tidak perlu beli bensin sendiri,” bebernya.
Riyanto juga menunjukkan bensin yang sudah siap digunakan, saat Radarsolo.com mengunjunginya. Bensin itu ternyata juga bisa terbakar saat mencoba menyalakannya dengan korek api. (al/nik/ria)
Editor : Syahaamah Fikria