RADARSOLO.COM-Konten yang dibikin Yogi Adi Karniawan meramaikan media sosial belakangan ini. Videonya saat di balik kemudi bus sekolah, jadi buah bibir.
"Sampun sarapan dereng?" (sudah sarapan belum) pertanyaan itu kerap membuka percakapan Yogi dengan anak-anak yang diantarnya berangkat sekolah. Seakan sudah menjadi ciri khas dalam kontennya.
Baca Juga: Begini Cara Dishub Wonogiri Edukasi Masyarakat agar Lebih Tertib Lalu Lintas
Ya, Yogi adalah sopir bus sekolah armada Dishub Wonogiri. Sepekan tiga kali, Yogi mengantarkan siswa dari berbagai tingkat mulai TK sampai SMK untuk menimba ilmu.
Seperti yang dilakukannya pada Kamis (14/3/2024). Pukul 06.10, Yogi sudah tiba di Kantor Dishub Wonogiri.
Usai memarkirkan kendaraannya, dia bergegas menuju bus sekolah yang terparkir di halaman kantor Dishub Wonogiri.
Mesin bus dipanasi. Tepat pukul 06.30, roda bus berputar meninggalkan Kantor Dishub Wonogiri. Tak sendiri, Yogi saat itu ditemani Ahmad Aji yang bertugas sebagai kondektur.
"Kalau Ramadhan berangkat pukul 06.30, adik-adik (anak sekolah) masuknya pukul 07.30. Kalau misal hari biasa masuk pukul 07.00, kami berangkat pukul 06.10," terang Yogi di balik kemudi.
Bus sekolah beraksen merah bergambar dua orang anak sekolah dan motif batik itu melaju perlahan.
Warna bus sudah memudar, seakan menjadi bukti bahwa bus tersebut sudah lama beroperasi mengantar jemput anak sekolah.
Dari Kantor Dishub Wonogiri, bus berjalan ke arah timur hingga traffic light Kerdukepik dan berbelok ke arah Alas Kethu.
Bus melaju ke arah Lingkungan Seneng, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, dimana ada titik penjemputan.
Titik penjemputan lainnya yang dilewati bus sekolah ada di Lingkungan Ngasinan Sendangsari dan Lingkungan Pucangwolu.
Di setiap titik penjemputan, ada anak-anak sekolah yang menumpamg bus sekolah itu.
Mayoritas penumpang bus adalah siswa sekolah dasar. Ada juga anak TK dan siswa SMP. Bus itu biasanya ditumpangi 20-30 orang anak sekolah.
"Terkadang ada juga siswa SMK yang ikut naik. Tapi ini tidak ada, mungkin sedang PKL atau bagaimana," terang Yogi.
Bus kemudian melaju ke titik penurunan para penumpang. Antara lain di SMPN 4 Wonogiri dan SDN 2 Wonokarto.
Aji kondektur bus, juga bertugas membantu penumpang turun dan menyeberangkan anak-anak.
Setelah semua penumpang turun, bus kembali ke Kantor Dishub Wonogiri. Tak terasa, bus telah melaju sekira 16 kilometer pulang pergi mengantarkan anak sekolah.
Sekira pukul 12.00 di luar bulan Ramadhan, bus akan menjemput anak sekolah. Penjemputan disesuaikan dengan waktu kepulangan siswa sekolah dasar.
Yogi menceritakan, pada 2017, dia bertugas sebagai kondektur bus sekolah. Baru pada 2022, Yogi bertugas menjadi sopir bus sekolah.
"Kalau sopir bus ada 2 sebenarnya. Kondekturnya juga dua. Tugasnya masing-masing tiga hari, diacak," beber pria 30 tahun itu.
Sejak menjadi kondektur, Warga Desa Nambangan Kecamatan Selogiri itu kerap membuat status saat bertugas. Nah, saat menjadi sopir bus, dia membuat banyak konten.
Awalnya, dia memposting di akun TikTok miliknya sejak 2022. Belakangan, dia juga mulai memposting di Instagram.
Tanpa diduga, konten-kontennya 'meledak'. Bahkan, penonton kontennya tembus tiga juta penayangan.
Kalimat yang menjadi ciri khasnya membuka percakapan dengan anak-anak adalah 'Sampun sarapan dereng?'.
Banyak komentar positif yang didapatnya dari netizen. Bahkan, ada juga netizen Hamba Allah yang menitipkan donasi berupa makanan ringan untuk dibagikan kepada anak-anak yang menumpangi bus yang disopiri Yogi.
"Ini banyak yang mau donasi. Tapi saya tahan dulu saat ini, saya minta setelah Ramadhan saja," ujar dia.
Yogi menuturkan, orang-orang biasanya mentransfer uang untuk dibelanjakan makanan ringan untuk anak-anak, atau bahkan menyediakan jajanan dan meminta untuk dibagikan.
Bahkan, ada juga netizen yang meminta agar dibelanjakan nasi uduk, sebagai bekal anak-anak di sekolah.
Ada pula yang ikut naik bus dan membagikan makanan sendiri. Selain itu, juga ada yang meminta agar donasi yang diberikan tak perlu dibuat konten untuk transparansi pertanggungjawaban.
Yogi mengaku tak pernah membuka donasi untuk anak-anak. Donasi-donasi yang dibagikan adalah murni keinginan dari pengikutnya di media sosial yang ingin berbagi kebaikan.
"Nggak pernah ada yang bilang alasannya berbagi apa. Tapi ini terakhir belum saya bagikan ada tulisan kertas. Minta doanya supaya dekat jodohnya," kata Yogi.
Nataya Kirana, 11, penumpang bus mengaku senang karena bisa diantar ke SDN 2 Wonokarto bersama teman-temannya.
"Nggak ada (kendaraan umum), jadi naik bus ini sama Om Yogi. Sudah sejak kelas III naik ini,sekarang kelas V. Biasanya tanya 'Sampun sarapan dereng?'," kata dia.
Kepala Dishub Wonogiri Waluyo menyambut positif konten Yogi.
"Sebagai petugas kita kan tidak kaku ya. Ada pendekatan dan sentuhan hati. Bus sekolah juga sebagai sarana edukasi keselamatan lalu lintas. Ini juga sebagai sarana memdekatkan diri kita kepada masyarakat," papar dia.
Waluyo menegaskan, bus sekolah dari Dishub Wonogiri itu gratis. Adapun rute bus sekolah itu dipilih atas dasar banyaknya siswa sekolah di suatu wilayah namun tak ada ttransportasi umum yang melewati wilayah tersebut.
Pemkab Wonogiri sejauh ini belum berencana melakukan penambahan rute bus sekolah. Armada dan rute yang ada saat ini dicoba untuk dimaksimalkan.
Kini, ada yang berbeda saat Yogi menjalankan tugasnya. Kalimat yang membuka percakapannya dengan anak-anak berubah. "Poso nopo mboten?'. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono