
Oleh: Sri Wahyuni*)
RADARSOLO.COM - Pemandangan seperti ini kini semakin lazim ditemukan di ruang-ruang kelas.
Guru meminta siswa membaca satu halaman artikel, tetapi beberapa menit kemudian perhatian mulai buyar.
Ada yang memutar pulpen, melirik jam, bahkan diam-diam membuka telepon genggam di bawah meja.
Mata mereka memang tertuju pada tulisan, tetapi pikiran tidak benar-benar hadir di dalam bacaan.
Baca Juga: Menjaga Cahaya Ramadan: Ikhtiar Mempertahankan Kesalehan Pasca Ramadan
Yang lebih ironis, sebagian siswa mampu membaca teks dengan lancar, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri.
Mereka dapat menemukan jawaban pilihan ganda dengan cepat, tetapi bingung ketika diminta menyimpulkan gagasan utama, menjelaskan sudut pandang penulis, atau mengaitkan isi teks dengan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan satu persoalan penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia hari ini: siswa mungkin mahir membaca secara teknis, tetapi lemah dalam memahami makna bacaan secara mendalam.
Persoalan tersebut sesungguhnya tidak lahir begitu saja.
Salah satu akar masalahnya terletak pada sistem evaluasi pembelajaran membaca di sekolah yang masih terlalu dangkal.
Selama ini, keberhasilan membaca sering diukur hanya dari kemampuan menemukan informasi tersurat.
Banyak soal membaca masih berhenti pada pertanyaan sederhana seperti siapa tokohnya, kapan peristiwa terjadi, atau apa isi paragraf pertama.
Siswa akhirnya dibiasakan mencari jawaban cepat, bukan memahami isi bacaan secara kritis.
Padahal membaca bukan sekadar aktivitas melafalkan tulisan. Membaca adalah proses berpikir.
Baca Juga: Bahasa Indonesia di Tengah Krisis Literasi Siswa
Membaca menuntut kemampuan menafsirkan makna, memahami konteks, menghubungkan gagasan, hingga mengevaluasi informasi secara kritis.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kemampuan seperti inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama literasi membaca.
Sayangnya, praktik evaluasi di sekolah masih lebih banyak mengukur kemampuan mengingat daripada kemampuan memahami.
Asesmen membaca sering berorientasi pada jawaban benar dan salah, bukan pada kedalaman interpretasi siswa terhadap teks.
Akibatnya, siswa terbiasa membaca untuk menyelesaikan tugas, bukan membaca untuk memahami.
Kondisi tersebut semakin terlihat ketika siswa berhadapan dengan pertanyaan inferensial dan reflektif.
Banyak siswa mampu menemukan informasi yang tertulis secara langsung, tetapi kesulitan membaca makna tersirat.
Ketika diminta menjelaskan alasan tokoh melakukan suatu tindakan, menafsirkan pesan penulis, atau mengkritisi isi bacaan, mereka mulai kehilangan arah.
Ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca belum sepenuhnya melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Ironisnya, sekolah sering mengklaim telah menerapkan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), tetapi evaluasi membaca masih didominasi soal literal dan hafalan informasi.
Baca Juga: Menyelamatkan Kota dari Hulu
Siswa dinilai dari ketepatan memilih jawaban, bukan dari kemampuan membangun argumentasi atau menyampaikan pemahaman secara mendalam.
Dalam banyak ujian membaca, siswa cukup memilih satu opsi yang dianggap benar tanpa pernah diminta menjelaskan alasan di balik jawabannya.
Akibat sistem evaluasi seperti itu, budaya membaca di kelas perlahan berubah menjadi aktivitas administratif.
Siswa membaca teks, menjawab soal, memperoleh nilai, lalu berpindah ke materi berikutnya.
Tidak ada ruang yang cukup untuk berdiskusi, menafsirkan bacaan, atau mempertanyakan gagasan dalam teks.
Padahal kemampuan memahami justru tumbuh melalui proses dialog, refleksi, dan pertukaran pendapat.
Persoalan ini semakin kompleks di era digital. Media sosial membentuk kebiasaan membaca cepat, singkat, dan serba instan.
Anak-anak lebih terbiasa membaca potongan informasi pendek dibanding teks panjang yang membutuhkan konsentrasi dan ketekunan.
Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan melemah. Siswa terbiasa melakukan scrolling, tetapi tidak terbiasa menyelami makna.
Dalam situasi seperti ini, pembelajaran Bahasa Indonesia seharusnya hadir sebagai ruang untuk melatih kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan membaca.
Baca Juga: Moderasi Positif dalam Pendidikan
Namun hal itu sulit tercapai jika evaluasi pembelajaran masih berpusat pada hafalan dan ketuntasan nilai semata.
Pendidikan akhirnya lebih sibuk mengejar angka dibanding membangun pemahaman.
Karena itu, sistem evaluasi membaca perlu direkonstruksi. Guru tidak cukup hanya memberikan soal yang meminta siswa menemukan informasi tersurat.
Evaluasi membaca harus mulai diarahkan pada kemampuan interpretatif, analitis, dan reflektif. Siswa perlu dibiasakan menjelaskan alasan, menafsirkan makna, membandingkan gagasan, serta mengaitkan isi bacaan dengan realitas sosial.
Pembelajaran membaca juga perlu memberi ruang lebih besar pada asesmen autentik. Diskusi teks, presentasi hasil pemahaman, jurnal reflektif, hingga debat argumentatif dapat menjadi alternatif evaluasi yang lebih bermakna dibanding sekadar pilihan ganda.
Dengan cara itu, membaca tidak lagi dipahami sebagai kegiatan mencari jawaban, tetapi sebagai proses membangun pemikiran.
Pada akhirnya, tujuan pembelajaran membaca bukan hanya membuat siswa mampu melafalkan tulisan.
Tujuan yang lebih penting adalah membentuk manusia yang mampu memahami informasi secara utuh, berpikir kritis, dan tidak mudah dimanipulasi oleh banjir informasi digital.
Sebab di tengah derasnya arus informasi hari ini, kemampuan memahami jauh lebih penting dibanding sekadar kemampuan membaca.
Bangsa yang gemar membaca tetapi lemah memahami berisiko menjadi masyarakat yang ramai oleh informasi, tetapi miskin refleksi dan kebijaksanaan. (*)
*) Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Univet Bantara Sukoharjo
Editor : Tri Wahyu Cahyono