Dari Desa Kami Belajar Mencintai Indonesia, Refleksi Seorang Anak Desa Menyambut Bulan Kemerdekaan

fery ardi susanto • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:00 WIB

 

Dosen Fakultas Geografi UMS Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si. (Dok. Pribadi)
Dosen Fakultas Geografi UMS Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si. (Dok. Pribadi)

Oleh: Dosen Fakultas Geografi UMS Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si.

AGUSTUS selalu membawa saya pulang. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi pulang kepada kenangan.

Setiap kali melihat Sang Merah Putih berkibar di halaman rumah, di sekolah, di tepi jalan desa, ingatan saya melayang ke masa kecil di sebuah desa di Kabupaten Gunungkidul.

Desa itulah sekolah kehidupan saya yang pertama.

Saya lahir bukan di tengah gemerlap kota.

Saya dibesarkan oleh kesederhanaan.

Baca Juga: Kemerdekaan yang Memerdekakan: Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka 

Tanah yang kami pijak mungkin tandus ketika kemarau datang, tetapi hati masyarakatnya tidak pernah kering.

Kami mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi kami memiliki sesuatu yang hari ini terasa semakin mahal: rasa memiliki terhadap sesama.

Di desa, saya belajar bahwa tetangga bukan sekadar orang yang rumahnya berdekatan.

Tetangga adalah saudara yang pertama datang ketika ada kesulitan. Gotong royong bukan program pemerintah. Ia adalah kebiasaan hidup.

Di sanalah saya mengenal Indonesia, jauh sebelum memahami peta di bangku sekolah.

Gunungkidul juga mengajarkan satu hal yang tidak pernah saya lupakan: menghargai setiap tetes air.

Bagi orang yang tumbuh di daerah yang airnya melimpah, mungkin sulit membayangkan betapa berharganya air ketika kemarau panjang datang.

Mata air jadi tempat harapan. Hujan jadi doa yang dinanti. Dari pengalaman itulah saya memahami bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan karunia Allah SWT yang harus dijaga.

Barangkali itulah yang kemudian mengantarkan saya memilih jalan sebagai seorang geograf.

Baca Juga: Saat Kesalehan Menjadi Kamuflase Kerakusan: Hembusan Waswas yang Tak Mampu Dikenali

Saya ingin memahami bumi yang sejak kecil telah mengajari saya tentang kesabaran, keseimbangan, dan rasa syukur.

Semakin lama mempelajari geografi, semakin saya menyadari bahwa apa yang diajarkan para dosen di ruang kuliah sesungguhnya telah terlihat dalam kehidupan desa sejak kecil. Alam dan manusia tidak pernah terpisahkan.

Ketika hutan dijaga, mata air tetap mengalir. Ketika tanah dirawat, panen memberi harapan.

Sebaliknya, ketika alam dieksploitasi tanpa batas, manusialah yang pertama merasakan akibatnya.

Kini kita sedang berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Saya ikut berharap cita-cita itu terwujud. Bangsa ini memang layak menjadi negara maju.

Namun setiap kali mendengar berbagai rencana besar pembangunan, hati kecil saya selalu bertanya: Apakah desa masih mendapat tempat di dalam mimpi besar itu?

Jangan sampai membangun gedung-gedung tinggi, tetapi kehilangan sawah.

Jangan sampai membanggakan kawasan industri, tetapi melupakan mata air.

Jangan sampai mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi membiarkan desa kehilangan anak-anak mudanya karena merasa tidak punya masa depan. 

Padahal desa adalah akar Indonesia. Dari desa lahir petani yang menyediakan pangan.

Baca Juga: Proyek Strategis Nasional dan Kelas Baru Kaum Tergusur

Dari desa mengalir air yang diminum kota. Dari desa tumbuh hutan yang menjaga iklim. 

Dari desa lahir guru, ulama, prajurit, ilmuwan, dan pemimpin bangsa. Saya salah satunya.

Karena itu, setiap keberhasilan yang saya raih sesungguhnya adalah hutang budi kepada desa yang telah membentuk saya.

Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah fil ardh—pemakmur bumi.

Bukan penguasa yang bebas mengambil apa saja. Bukan pemilik yang boleh merusak sesuka hati.

Melainkan penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat itu semakin terasa maknanya ketika kita melihat hutan gundul, sungai tercemar, sawah berubah menjadi beton, atau gunung kehilangan keseimbangannya.

Kerusakan alam sesungguhnya bukan hanya persoalan lingkungan. Ini persoalan akhlak. 

Muhammadiyah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang memajukan kehidupan.

Baca Juga: Masa Depan Perlindungan Hukum di Era Digital

Kemajuan bukan banyaknya investasi atau tingginya pertumbuhan ekonomi. 

Kemajuan adalah ketika ilmu pengetahuan berjalan bersama kejujuran.

Ketika pembangunan berjalan bersama keadilan. Ketika kemakmuran hadir tanpa merusak ciptaan Allah.

Sebagai dosen di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah, tugas kami bukan hanya melahirkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia yang amanah terhadap bangsa, peduli lingkungan, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Sebab, negeri ini tidak hanya membutuhkan orang pintar.

Negeri ini butuh orang-orang yang dapat dipercaya.

Agustus selalu mengingatkan saya bahwa kemerdekaan bukan hadiah.

Ini adalah amanah. Para pendiri bangsa telah memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Tugas generasi hari ini adalah memerdekakan Indonesia dari korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Itulah jihad kebangsaan zaman ini.

Ketika saya kembali ke desa, sering melihat anak-anak berlarian di pematang sawah, mendengar azan dari masjid kampung, menyaksikan para petani menatap langit berharap hujan segera turun.

Baca Juga: AI Semakin Cerdas, Anak Indonesia Harus Semakin Beradab

Pemandangan itu sederhana. Tetapi justru di sanalah saya melihat wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Indonesia bukan hanya Jakarta. Bukan hanya gedung-gedung tinggi.

Bukan hanya jalan tol. Indonesia adalah desa-desa yang setiap pagi mengirimkan hasil bumi ke kota.

Indonesia adalah para petani yang bekerja dalam diam. Indonesia adalah ibu-ibu yang menanak nasi dari padi yang mereka tanam sendiri.

Indonesia adalah para guru di sekolah desa yang tetap mengajar meski dengan segala keterbatasan.

Maka, jelang peringatan kemerdekaan tahun ini, izinkan saya menyampaikan satu harapan sederhana.

Jangan pernah malu jadi anak desa. Karena desa telah melahirkan banyak pemimpin bangsa.

Jangan pernah melupakan desa. Karena di sanalah akar Indonesia bertumbuh. Dan jangan pernah berhenti mencintai Indonesia.

Sebab cinta kepada negeri ini bukan hanya diwujudkan dengan mengibarkan merah putih setiap Agustus, tetapi juga menjaga tanahnya, merawat hutannya, memelihara mata airnya, memuliakan petaninya, mendidik generasi mudanya, serta mengelola setiap jengkal ruang sebagai amanah Allah SWT.

Baca Juga: Zona Kuliner Halal

Saya percaya, Indonesia Emas 2045 tidak pertama-tama dibangun dari gedung pencakar langit.

Indonesia Emas sedang tumbuh perlahan di desa-desa yang masih menjaga gotong royong, kejujuran, ilmu pengetahuan, dan iman.

Dari desa saya belajar mencintai Indonesia. Dan kepada desa pula saya menitipkan harapan agar negeri ini tetap tegak, lestari, dan diberkahi Allah SWT.

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga Allah menjadikan negeri ini benar-benar baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (*)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Guru Besar UMS HUT kemerdekaan RI ums bicara hari kemerdekaan