AI Semakin Cerdas, Anak Indonesia Harus Semakin Beradab

fery ardi susanto • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 07:25 WIB
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMS Dr. Dwi Haryanti, M.Hum. (Dok. Pribadi)
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMS Dr. Dwi Haryanti, M.Hum. (Dok. Pribadi)

Oleh: Dr. Dwi Haryanti, M.Hum., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMS

DI Hari Anak Nasional yang diperingati 23 Juli 2026 ini, anak-anak Indonesia tumbuh dalam lanskap kehidupan yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu.

Mereka tidak hanya akrab dengan internet dan media sosial, tetapi juga dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Persoalannya bukan lagi apakah anak boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana memastikan mereka memanfaatkannya secara cerdas, tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, sikap santun, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebab, masa depan bangsa tidak ditentukan secanggih apa teknologinya, melainkan kualitas karakter manusia yang menggunakannya. 

Baca Juga: Zona Kuliner Halal

AI Tidak Perlu Ditakuti, tetapi Perlu Diarahkan

Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan anak-anak Indonesia kini menjadi bagian dari keseharian. Melalui telepon pintar, media sosial, aplikasi pembelajaran, hingga mesin pencari, AI membantu menerjemahkan bahasa, menjawab pertanyaan, menyusun cerita, bahkan menghasilkan gambar dalam hitungan detik.

Karena itu, melarang anak menggunakan AI bukanlah pilihan yang realistis. Yang lebih penting adalah membimbing mereka agar mampu memanfaatkan teknologi ini secara cerdas, kritis, beradab, dan bertanggung jawab.

Orang tua dan guru perlu mendampingi anak menjadikan AI sebagai mitra belajar, bukan jalan pintas yang menghilangkan proses berpikir. AI memang dapat mempercepat akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak memiliki hati nurani, empati, maupun kebijaksanaan.

Nilai-nilai itulah yang membedakan manusia dari mesin. 

Dengan pendampingan yang tepat, AI dapat menjadi sarana memperkaya pembelajaran sekaligus memperkuat karakter.

Sebaliknya, tanpa arahan, teknologi justru berisiko menumbuhkan budaya instan, ketergantungan, dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

AI Membuka Peluang Baru bagi Tumbuh Kembang Anak

Di balik berbagai kekhawatiran yang muncul, AI sesungguhnya menawarkan peluang besar bagi tumbuh kembang anak apabila dimanfaatkan secara tepat.

Salah satu keunggulan utama AI adalah kemampuannya mempercepat akses terhadap pengetahuan. Informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk dicari kini dapat diperoleh dalam hitungan detik.

Anak dapat memperoleh penjelasan sederhana tentang konsep sains, matematika, sejarah, atau berbagai topik lainnya sesuai dengan tingkat pemahamannya. AI juga membantu anak belajar secara lebih personal karena mampu menyesuaikan penjelasan dengan kebutuhan pengguna.

Baca Juga: Tantangan dan Peluang Dunia Pendidikan di Era Digital

Dalam konteks pendidikan, kondisi ini membuka kesempatan bagi anak untuk belajar secara lebih mandiri dan aktif dalam mencari pengetahuan baru.

Selain mendukung aspek akademik, AI juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan abad ke-21. Melalui berbagai aplikasi berbasis AI, anak dapat membuat cerita, puisi, ilustrasi, presentasi, maupun proyek-proyek kreatif lainnya.

AI juga membantu anak mempelajari bahasa asing dengan lebih mudah melalui latihan percakapan, koreksi tata bahasa, dan penerjemahan yang cepat. Lebih jauh lagi, AI memungkinkan anak menjelajahi beragam perspektif dari berbagai negara dan budaya sehingga wawasan global mereka semakin terbuka.

Ketika digunakan secara bijak, teknologi ini dapat mendorong anak untuk berani bertanya, mengeksplorasi ide-ide baru, serta menemukan solusi kreatif terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Namun, seluruh manfaat tersebut hanya akan terwujud apabila AI diposisikan secara tepat dalam proses belajar. AI seharusnya menjadi mitra belajar, bukan pengganti belajar. Anak tetap perlu membaca buku, berdiskusi dengan guru, berinteraksi dengan teman, melakukan pengamatan, dan mengalami proses belajar secara langsung.

AI dapat membantu memberikan informasi dan inspirasi, tetapi pemahaman yang mendalam tetap lahir dari proses berpikir, refleksi, dan pengalaman manusia.

Oleh karena itu, tujuan utama penggunaan AI bukan membuat anak memperoleh jawaban dengan lebih cepat, melainkan membantu mereka menjadi pembelajar yang lebih ingin tahu, lebih kreatif, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.

Dengan pendampingan yang tepat, AI dapat menjadi jembatan yang memperluas kesempatan belajar tanpa menghilangkan makna belajar itu sendiri.

Risiko AI yang Mengancam Karakter Anak

Di balik berbagai kemudahannya, AI juga menyimpan risiko jika digunakan tanpa pendampingan.

Baca Juga: Etika Publikasi Artikel Ilmiah: Penulis Profesional Dimulai dari Sikap

'Kemampuannya memberikan jawaban secara instan dapat mendorong budaya serba cepat yang mengurangi apresiasi anak terhadap proses belajar, membaca, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara mandiri. 

Anak berpotensi terbiasa menerima jawaban tanpa menguji kebenarannya. Di sisi lain, penggunaan AI untuk mengerjakan tugas dapat melemahkan kreativitas, kejujuran, dan integritas akademik.

Padahal, AI tidak selalu menghasilkan informasi yang akurat; jawabannya dapat mengandung kekeliruan atau bias. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi dan berpikir kritis tetap menjadi bekal penting di era digital.

Tantangan AI juga menyentuh pembentukan karakter. Ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi kesempatan anak mengembangkan empati, komunikasi langsung, dan kemampuan bekerja sama.

Lebih jauh, AI berpotensi disalahgunakan untuk plagiarisme, menyebarkan informasi menyesatkan, ujaran kebencian, atau menghasilkan konten yang merugikan orang lain. 

Persoalan utamanya bukan pada kecanggihan AI, melainkan pada cara manusia menggunakannya.

Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus menjadi fondasi agar anak memanfaatkan teknologi secara jujur, bertanggung jawab, santun, dan beradab. Tanpa nilai-nilai tersebut, AI yang seharusnya menjadi sarana belajar justru dapat menghambat tumbuhnya karakter generasi masa depan.

Tiga Bekal Anak Indonesia di Era AI: Cerdas, Santun, dan Beradab

Menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, anak-anak Indonesia memerlukan bekal yang jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Bekal tersebut adalah karakter yang akan menjadi kompas dalam setiap keputusan dan tindakan mereka.

Kecerdasan buatan akan terus berkembang, tetapi karakter manusialah yang menentukan arah pemanfaatannya.

Baca Juga: Menjadi Guru Yang Selalu Dirindukan Murid

Karena itu, pendidikan AI tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan digital (digital skills), tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang membentuk pribadi utuh. Setidaknya ada tiga bekal utama yang perlu ditanamkan sejak dini, yaitu cerdas, santun, dan beradab.

Pertama, anak harus tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Kecerdasan pada era AI tidak lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang dapat dihafal, tetapi dari kemampuan berpikir kritis, bertanya secara mendalam, menganalisis persoalan, serta mengevaluasi informasi yang diterima.

Anak perlu memahami bahwa jawaban AI bukanlah kebenaran mutlak, melainkan informasi awal yang masih harus diperiksa melalui buku, guru, maupun sumber terpercaya lainnya. Mereka juga perlu didorong untuk berani mengemukakan pendapat, menyusun argumen, dan menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Dengan demikian, AI menjadi sarana untuk memperkaya proses berpikir, bukan menggantikannya. Anak yang cerdas bukanlah mereka yang paling cepat memperoleh jawaban dari AI, melainkan mereka yang mampu mempertanyakan, memverifikasi, dan mengembangkan jawaban tersebut menjadi pengetahuan yang bermakna.

Kedua, anak harus dibimbing menjadi pribadi yang santun.

Kesantunan tetap menjadi nilai yang relevan meskipun interaksi manusia semakin banyak berlangsung melalui teknologi. 

Anak perlu dibiasakan menggunakan bahasa yang baik dalam ruang digital, menghargai pendapat orang lain, tidak melakukan perundungan siber (cyberbullying), serta menghormati hasil karya orang lain dengan menghindari plagiarisme.

Bahkan ketika berinteraksi dengan AI, orang tua dan guru dapat membiasakan anak menggunakan bahasa yang sopan sebagai latihan membangun karakter.

Mungkin AI tidak memiliki perasaan, tetapi kebiasaan bertutur santun akan membentuk kepribadian anak ketika mereka berinteraksi dengan siapa pun.

Kesantunan yang dipelihara sejak dini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

Baca Juga: Local Indigenous Knowledge: Ketika Pengetahuan Lokal Masuk ke Sistem Teknologi Cerdas

Ketiga, anak harus tumbuh menjadi pribadi yang beradab. Beradab berarti menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi kejujuran, menghormati martabat manusia, serta mempertimbangkan dampak setiap tindakan terhadap orang lain.

Anak perlu memahami bahwa AI tidak boleh digunakan untuk mencontek, menyebarkan hoaks, memanipulasi informasi, melanggar privasi, atau menghasilkan konten yang merugikan sesama.

Sebaliknya, AI harus dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, memecahkan persoalan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. 

Peradaban yang maju bukanlah peradaban yang hanya memiliki teknologi paling canggih, melainkan peradaban yang mampu menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, AI mungkin akan terus berkembang menjadi semakin cerdas, tetapi masa depan Indonesia tetap akan ditentukan oleh generasi yang cerdas dalam berpikir, santun dalam bertutur, dan beradab dalam bertindak. 

Ketiga bekal inilah yang akan memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan kemajuan karakter, sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu membangun peradaban yang lebih manusiawi.

AI Tidak Pernah Menggantikan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Setiap lompatan besar dalam sejarah peradaban selalu diikuti oleh pertanyaan mendasar: apakah teknologi akan memperkuat kemanusiaan atau justru mengikisnya? Hari ini, pertanyaan itu kembali hadir melalui kecerdasan buatan.

AI mampu menjawab jutaan pertanyaan, menerjemahkan berbagai bahasa, menulis artikel, menciptakan gambar, bahkan membantu pengambilan keputusan dengan kecepatan yang sulit ditandingi manusia. Namun, di balik kecanggihannya, AI tetap tidak memiliki hati nurani.

Baca Juga: Revitalisasi Energi Otak Melalui Manajemen Stres untuk Kesehatan Jiwa Secara Optimal

AI tidak memahami makna kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, ketulusan seorang guru yang membimbing muridnya, atau rasa empati ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.

AI dapat mengolah data, tetapi tidak dapat merasakan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Karena itu, kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita melupakan tujuan utama pendidikan, yaitu memanusiakan manusia.

Pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang mampu menggunakan teknologi, melainkan membentuk pribadi yang jujur, bertanggung jawab, peduli, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai moral. 

Di tengah derasnya arus digital, kemampuan berpikir kritis harus berjalan seiring dengan kepekaan sosial, kecakapan teknologi harus diimbangi dengan kebijaksanaan, dan kecerdasan intelektual harus berpadu dengan kecerdasan emosional.

Anak-anak perlu diyakinkan bahwa teknologi hanyalah sarana, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan adalah tujuan yang harus dijaga. Ketika karakter menjadi fondasi, AI akan menjadi mitra yang memperkuat kualitas hidup manusia, bukan kekuatan yang mengendalikan manusia.

Penutup

Peradaban yang maju bukanlah peradaban yang hanya memiliki teknologi paling canggih, melainkan peradaban yang mampu menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa investasi terbesar bangsa bukanlah menghadirkan teknologi yang semakin pintar, melainkan membentuk generasi yang semakin berkarakter.

AI akan terus berkembang, tetapi kecanggihan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Oleh karena itu, tugas orang tua, guru, dan masyarakat bukan menjauhkan anak dari AI, melainkan mendampingi mereka agar tumbuh sebagai generasi yang cerdas dalam berpikir, santun dalam bertutur, dan beradab dalam menggunakan teknologi.

Itulah bekal yang akan membuat anak Indonesia bukan hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu membangun peradaban yang lebih bermartabat. (*)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
ai Artifical Intelligence opini dosen ums ums bicara hari anak nasional