Mengetuk Langit, Merawat Bumi: Ikhtiar Menghadapi Kemarau Panjang dan Anomali Iklim

fery ardi susanto • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 06:34 WIB
Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi UMS Drs. Soleh Amini, M.Si. (Dok. Pribadi)
Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi UMS Drs. Soleh Amini, M.Si. (Dok. Pribadi)

Oleh: Drs. Soleh Amini, M.Si., Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi UMS

ADA masa ketika langit seolah kehilangan kemurahannya. Awan datang tanpa hujan.

Matahari menyengat, tanah retak, sungai menyusut, sumur mendangkal, tanaman menguning, dan para petani memandang langit dengan harapan yang semakin panjang.

Manusia pun bertanya: kapan hujan akan datang?

Kemarau merupakan bagian dari siklus musim di Indonesia.

Baca Juga: Ketika Amanah Haji Dipertaruhkan pada Sebuah Seleksi

Namun, ketika berlangsung jauh lebih panjang, suhu meningkat ekstrem, dan curah hujan jauh di bawah normal, kita berhadapan dengan anomali iklim dan risiko kekeringan ekstrem.

Perubahan tersebut dipengaruhi faktor alamiah maupun aktivitas manusia.

El Niño dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, sementara perubahan iklim global memperbesar peluang suhu ekstrem dan perubahan pola musim. 

Deforestasi, perubahan tata guna lahan, berkurangnya daerah resapan, kerusakan ekosistem, dan penggunaan sumber daya alam yang tidak terkendali turut meningkatkan kerentanan masyarakat.

Sebab itu, kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Ia dapat berkembang menjadi persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, bahkan kemanusiaan.

Petani menghadapi gagal panen, peternak kesulitan memperoleh air dan pakan, sementara warga di daerah kekeringan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan air bersih.

Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta gangguan kesehatan.

Di tengah situasi tersebut, Islam menawarkan cara pandang yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga spiritual.

Alam merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah SWT. Dalam QS Ar-Rum ayat 24, Allah menjelaskan bahwa di antara tanda kekuasaan-Nya adalah diturunkannya hujan yang menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati.

Ayat ini menunjukkan pentingnya air sekaligus mengingatkan agar manusia tidak menganggapnya selalu tersedia. Kita sering baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika nikmat itu berkurang.

Baca Juga: Merebut Kembali Intimasi Belajar di Ruang Kelas

Islam juga mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi dengan amanah untuk mengelola dan memeliharanya.

Kekhalifahan bukan kebebasan mengeksploitasi alam tanpa batas, melainkan tanggung jawab menjaga keseimbangan.

QS Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut telah tampak akibat perbuatan manusia agar manusia merasakan sebagian akibatnya dan kembali memperbaiki diri.

Ayat tersebut tidak boleh digunakan untuk gegabah menyimpulkan bahwa setiap kemarau atau bencana merupakan hukuman Allah kepada kelompok tertentu. Namun, ayat itu dapat menjadi dasar muhasabah ekologis.

Ketika hutan ditebang berlebihan, daerah resapan berubah menjadi permukiman, sungai dipenuhi sampah dan limbah, air digunakan boros, serta pembangunan mengabaikan daya dukung lingkungan, manusia sebenarnya sedang meningkatkan kerentanannya sendiri.

Maka, ketika hujan tidak kunjung turun, kita tidak cukup bertanya kapan hujan datang. Kita juga perlu bertanya: sudahkah kita memperlakukan bumi dengan benar?

Dalam konteks inilah konsep ikhtiar menjadi penting. Menghadapi kemarau panjang tidak cukup dengan menunggu hujan.

Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah manusia mengerahkan ikhtiar secara maksimal.

QS Ar-Ra’d ayat 11 memberikan prinsip bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Ikhtiar menghadapi kemarau dapat ditempuh melalui dua jalur: ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Ikhtiar lahir berarti usaha nyata mengurangi dampak kekeringan sekaligus memperbaiki lingkungan.

Baca Juga: Ketika Titik Api Terlihat, Pencegahan Jangan Terlambat

Menghemat air, memperkuat pemanenan air hujan, menanam pohon, menjaga hutan, mempertahankan daerah resapan, dan merawat sungai merupakan langkah penting.

Pemerintah perlu memastikan ketersediaan air bersih, membantu petani menghadapi risiko gagal panen, mengembangkan teknologi pengelolaan air, memperkuat sistem peringatan dini, serta menyusun kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan perubahan iklim.

Masyarakat, lembaga keagamaan, dunia pendidikan, dunia usaha, dan organisasi sosial juga perlu membangun budaya hemat air dan peduli lingkungan.

Di samping ikhtiar lahir, Islam mengajarkan ikhtiar batin melalui doa, istighfar, sedekah, memperbaiki hubungan sosial, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika kekeringan terjadi, umat dianjurkan melaksanakan salat istisqa. Dalam QS Nuh ayat 10–11, Nabi Nuh mengajak kaumnya memohon ampun kepada Allah dan menyampaikan bahwa Allah akan menurunkan hujan lebat dari langit.

Namun, istighfar tidak seharusnya berhenti sebagai ucapan tanpa perubahan perilaku. Istighfar merupakan kesediaan kembali kepada Allah dengan memperbaiki kehidupan.

Dalam konteks lingkungan, ia berarti mengoreksi gaya hidup berlebihan, mengurangi pemborosan, menghentikan tindakan yang merusak lingkungan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama dan alam.

Di sinilah ikhtiar lahir dan batin bertemu. Meminta hujan kepada Allah merupakan bagian dari keimanan, sedangkan menjaga bumi merupakan amanah kekhalifahan.

Berdoa agar sumber air kembali terisi adalah bentuk penghambaan, sementara menghemat air dan menjaga daerah resapan adalah tanggung jawab.

Salat istisqa tidak berarti mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, kemajuan ilmu tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran bahwa kehidupan tetap bergantung pada kehendak dan rahmat Allah.

Baca Juga: Kedaulatan Digital dan Toleransi

Ada ironi yang perlu direnungkan. Kita berdoa agar hujan turun, tetapi ketika hujan datang, air dibiarkan terbuang. Kita mengeluhkan sumur mengering, tetapi ketika air tersedia, kita menggunakannya berlebihan.

Kita takut suhu semakin ekstrem, tetapi pohon terus ditebang dan ruang terbuka hijau berkurang. Kita mengkhawatirkan perubahan iklim, tetapi pola hidup boros energi dan sumber daya dipertahankan. Doa dan perilaku semestinya berjalan bersama.

Kemarau panjang seharusnya menjadi momentum menyadari bahwa kesalehan dalam Islam bukan hanya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesama dan lingkungan.

Menjaga air, menanam pohon, tidak membuang sampah ke sungai, menjaga hutan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, serta membantu masyarakat yang kekurangan air merupakan tanggung jawab moral seorang Muslim.

Kesalehan ekologis juga merupakan kesalehan sosial karena kerusakan lingkungan hampir selalu berdampak lebih berat kepada kelompok masyarakat yang kemampuan ekonominya terbatas.

Ketika hujan belum turun, mungkin yang diperlukan bukan hanya menengadahkan tangan ke langit, tetapi juga sungguh-sungguh memperbaiki perilaku. Kita tidak dapat menentukan kapan awan berkumpul dan hujan turun.

Namun, kita dapat mengubah cara menggunakan air, menjaga hutan dan tanah, memperbaiki lingkungan, membantu mereka yang kekurangan, serta membangun kehidupan yang lebih selaras dengan alam.

Karena itu, marilah kita mengetuk langit dengan doa dan istighfar, sekaligus merawat bumi dengan ilmu, kerja keras, dan tanggung jawab.

Baca Juga: Kemerdekaan yang Memerdekakan: Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka

Doa mengingatkan bahwa manusia bergantung kepada Allah, sedangkan ikhtiar mengingatkan bahwa manusia diberi akal, pengetahuan, dan tanggung jawab untuk berbuat.

Barangkali itulah pesan terdalam dari kemarau panjang.

Ketika langit belum memberikan hujan, manusia justru diberi kesempatan memperbaiki hubungan dengan Tuhannya, dengan sesama, dan dengan bumi.

Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan karunia yang menghidupkan bumi.

Ketika karunia itu belum turun, tugas manusia bukan sekadar menunggu, tetapi berdoa, berikhtiar, bermuhasabah, dan memastikan ketika hujan kembali datang, bumi telah menjadi tempat yang lebih baik untuk menerimanya. (*)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
kemarau panjang opini dosen ums ums bicara Anomali Iklim ikhtiar