Oleh: Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
RADARSOLO.COM - Menjelang Ujian Tengah Semester (UTS), suasana kampus mulai berubah. Mahasiswa semakin sibuk membuka catatan, membaca kembali materi perkuliahan, berdiskusi dengan teman, dan mempersiapkan diri menghadapi soal-soal ujian.
Ada yang belajar jauh-jauh hari, ada pula yang baru membuka buku ketika jadwal ujian semakin dekat. Semua itu bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa.
Namun, di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: kejujuran.
Baca Juga: Sumpah Pemuda di Era AI: Jangan Sampai Kita Canggih tetapi Kehilangan Jati Diri
UTS bukan sekadar kegiatan memperoleh angka dalam lembar hasil studi. Ujian merupakan salah satu bentuk evaluasi untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi, mengembangkan pengetahuan, dan mencapai kompetensi yang telah dipelajari.
Lebih dari itu, ujian juga menjadi ruang untuk menguji karakter. Sebab, ketika mahasiswa berada di ruang ujian tanpa pengawasan langsung yang ketat, sesungguhnya ada nilai yang sedang diuji, yaitu integritas.
Sayangnya, dalam praktik akademik, menyontek masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk memperoleh jawaban tanpa melalui usaha sendiri, mulai dari melirik pekerjaan teman, bertukar jawaban melalui pesan singkat, menyimpan catatan tersembunyi, hingga memanfaatkan perangkat digital dan akal imitasi (AI) untuk mendapatkan jawaban yang tidak semestinya digunakan dalam ujian.
Baca Juga: Hidup Adalah Perjalanan tentang Apa yang Harus Kita Perjuangkan
Teknologi yang seharusnya membantu proses belajar justru dapat disalahgunakan untuk mempermudah kecurangan.
Pertanyaannya, untuk apa memperoleh nilai tinggi apabila nilai tersebut tidak mencerminkan kemampuan diri sendiri?
Nilai tinggi hasil menyontek bukanlah prestasi, melainkan ilusi keberhasilan. Mahasiswa mungkin merasa berhasil karena mendapatkan angka yang memuaskan.
Namun, sebenarnya ada sesuatu yang lebih berharga yang hilang, yakni kesempatan untuk mengetahui kemampuan diri secara jujur.
Menyontek tidak membuat seseorang menjadi lebih pintar. Sebaliknya, kebiasaan tersebut justru dapat membangun ketergantungan, melemahkan rasa percaya diri, dan menghambat proses belajar.
Baca Juga: Bio Visa Haji Saudi dan Tantangan Kemandirian Digital Jamaah
Perlu dipahami bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang mencetak lulusan yang memiliki indeks prestasi tinggi.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, bertanggung jawab, dan memiliki integritas. Dalam kehidupan setelah lulus, mahasiswa akan berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak selalu menyediakan pilihan jawaban.
Dunia kerja, kehidupan bermasyarakat, dan tanggung jawab profesional menuntut kemampuan mengambil keputusan secara mandiri dan jujur.
Lantas, bagaimana mungkin seseorang dapat dipercaya memegang tanggung jawab besar apabila dalam ujian saja belum mampu menjaga kejujuran?
Dalam perspektif Islam, kejujuran merupakan nilai fundamental yang harus melekat dalam setiap tindakan seorang muslim.
Baca Juga: Edukasi dan Literasi Finansial Perbankan
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya kejujuran sebagaimana diriwayatkan dalam hadis: "Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga" (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan ini mengingatkan bahwa kejujuran bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi karena takut mendapatkan sanksi, melainkan kesadaran moral yang harus tumbuh dari dalam diri.
Dengan demikian, belajar dan mengikuti ujian secara jujur merupakan bagian dari ikhtiar menuntut ilmu.
Ilmu tidak semestinya diperoleh melalui cara-cara yang bertentangan dengan nilai kebenaran. Apa artinya pengetahuan bertambah apabila proses mendapatkannya justru mengajarkan ketidakjujuran?
Apa artinya nilai akademik membanggakan apabila hati nurani mengetahui bahwa hasil tersebut bukan sepenuhnya usaha sendiri?
Menjelang UTS, mahasiswa perlu mengubah cara pandang terhadap ujian. Jangan menjadikan nilai sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Baca Juga: Buta Warna, Teknologi, dan Pilihan Masa Depan Anak
Persiapkan diri dengan belajar, membaca kembali materi, berdiskusi secara sehat, bertanya kepada dosen, dan mengelola waktu dengan baik. Apabila belum mampu menjawab semua soal, jawablah sesuai pengetahuan dan kemampuan sendiri.
Tidak perlu malu memperoleh nilai yang belum maksimal. Nilai yang belum memuaskan masih dapat diperbaiki melalui proses belajar berikutnya, tetapi kebiasaan tidak jujur dapat menjadi karakter buruk apabila terus dipelihara.
Bagi mahasiswa, kejujuran juga berarti berani menerima hasil dari usaha sendiri. Tidak semua orang harus mendapatkan nilai sempurna. Tidak semua jawaban harus benar.
Justru dari kesalahan, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang belum dipahami dan apa yang harus diperbaiki.
Baca Juga: Mengetuk Langit, Merawat Bumi: Ikhtiar Menghadapi Kemarau Panjang dan Anomali Iklim
Ujian seharusnya menjadi sarana mengenali kemampuan diri, bukan ajang membandingkan jawaban atau mencari jalan pintas demi angka semata.
Mari kita sambut UTS dengan semangat belajar dan menjunjung tinggi integritas akademik.
Letakkan telepon genggam ketika tidak diperkenankan menggunakannya, hindari komunikasi yang melanggar ketentuan ujian, jangan mengambil jawaban milik orang lain, dan percayalah pada kemampuan diri sendiri.
Ingat, pengawasan terpenting bukan hanya berasal dari dosen atau pengawas ujian, melainkan juga dari hati nurani dan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral.
Baca Juga: Ketika Amanah Haji Dipertaruhkan pada Sebuah Seleksi
Pada akhirnya, keberhasilan seorang mahasiswa bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi nilai yang tertulis dalam transkrip akademik, tetapi juga oleh seberapa jujur proses yang ditempuh untuk memperolehnya.
Lebih baik memperoleh nilai sederhana dari usaha sendiri daripada nilai sempurna dari hasil kecurangan.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang menjadi pintar, melainkan juga tentang menjadi pribadi yang benar.
Ilmu yang diperoleh dengan kesungguhan akan menjadi bekal kehidupan, sedangkan ilmu yang dibangun di atas kejujuran akan memberikan ketenangan dan keberkahan.
Baca Juga: Merebut Kembali Intimasi Belajar di Ruang Kelas
Selamat menempuh Ujian Tengah Semester. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, kerjakanlah dengan kemampuan sendiri, dan jagalah kehormatan sebagai insan akademik.
Ingatlah selalu: ilmu yang berkah berawal dari proses yang jujur! (*)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo